Potret Buram Pertelevisian Indonesia


Seandainya terdapat survey mengenai tingkat kepuasan pemirsa televisi terhadap kualitas tayangan televisi di Indonesia mungkin akan dapat diprediksikan bahwa sebagian besar pemirsa kita akan merasa kecewa dengan tayangan-tayangan yang ada sampai saat ini. Lumrah memang, sebab beberapa tahun terakhir ini masyarakat kita disuguhi dengan tayangan-tayangan yang tidak bermutu dan cenderung hanya berorientasi pada rating namun mengesampingkan dampak negatifnya terhadap para pemirsanya.

Lihat saja dari semakin maraknya tayangan sinetron yang hanya mempertontonkan mistisisme, konsumerisme, pornografi dan pornoaksi, kekerasan, serta masih banyak lagi yang lainnya. Di sisi lain, beberapa tayangan juga seolah-olah melakukan pembodohan terhadap masyarakat. Sebagai contoh adalah semakin maraknya berbagai kuis SMS premium yang terkenal dengan istilah “REG Spasi”. Beberapa penyedia layanan SMS Premium memberikan iming-iming ratusan juta Rupiah hanya dengan menjawab pertanyaan yang sepele yang bahkan mungkin anak TK pun tak akan kesulitan ketika harus menjawabnya. Di sisi lain , kegiatan seperti ini juga berdampak pada meningkatnya tingkat kemalasan masyarakat, sebab masyarakat diajar untuk menjadi kaya tanpa harus bekerja keras dan hanya duduk di depan televisi sambil menguta-atik HP.

Dalam hal ini, kita juga tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja. Menurut saya ada beberapa faktor yang memicu munculnya hal seperti ini :

  1. masyarakat tidak memiliki pilihan hiburan yang lain

yang dimaksud disini adalah bahwa televisi seolah-olah sudah menjadi satu-satunya media hiburan masyarakat. Masyarakat yang miskin tidak akan mampu memperoleh hiburan lain yang mungkin lebih bermanfaat karena untuk tu mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Kondisi seperti ini pada akhirnya dimanfaatkan oleh lembaga penyiaran untuk memberikan tayangan apapun tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. Dari sudaut pandang bisnis mungkin hal inilah yang juga mendorong semankin maraknya penyedia layanan TV Berlangganan di Indonesia, sebab semakin banyak pula masyarakat yang secara ekonomi lebih mampu dan mulai jenuh dengan tayangan-tayangan televisi gratis yang berusaha mencari bentuk tayangan lain yang lebih bermanfaat sekalipun harus merogoh kocek lebih dalam.

2. Kurangnya kontrol pemerintah.

Pemerintah juga turut ambil bagian dalam munculnya kondisi yang memprihatinkan seperti ini. Mungkin juga karena munculnya era reformasi yang menyebabkan semakin sempitnya ruang control pemerintah terhadap kualitas tayangan televisi. Seringkali atas nama Demokrasi, televisi Indonesia menyajikan tayangan-tayangan yang buruk dan kurang bermanfaat. Dalam hal ini seharusnya pemerintah mampu menelurkan regulasi-regulasi yang lebih cermat agar pertelevisian kita tidak seenaknya saja membodohi masyarakat namun tetap tanpa harus melanggar pagar demokrasi dan kebebasan berkreasi.

3. Arus Kapitalisme yang semakin kuat

Istilah Kapitalisme semakin sering muncul tahun-tahun belakangan ini dan semakin merasuk ke berbagai aspek di negeri ini termasuk di dalam sendi-sendi pertelevisian kita. Televisi Indonesia semakin banyak yang berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya sehingga tidak lagi menyuarakan kebenaran, yang justru terjadi adalah televisi kita menyiarkan tayangan-tayangan yang dapat membawa semakin banyak sponsor sehingga semakin banyak laba yang diperoleh. Lihat saja sebuah tayangan talk show yang dibawakan oleh pelawak Tukul Arwana. Dalam talk show tersebut, justru bukan dialog yang menjadi fokus utamanya, namun lebih terfokus pada tingkah bodoh Tukul Arwana sehingga seringkali pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh bintang tamu yang mungkin saja lebih bermanfaat untuk pemirsa malah tidak tersampaikan secara utuh. Namun kita dapat melihat bagaimana tayangan ini memiliki banyak pemirsa setia sehingga mendorong para sponsor untuk berlomba-lomba muncul dalam tayangan itu.

4. Rendahnya pemahaman dan tingkat pendidikan masyarakat.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menyebabkan samakin menjamurnya tayangan-tayangan yang kurang bermutu. Dalam hal ini masyarakat tidak mampu membedakan mana tayangan-tayangan yang bermanfaat dan mana yang tidak untuk dirinya dan untuk keluarganya. Masyarakat seolah-olah hanya pasrah dan beranggapan bahwa hal-hal yang ditayangkan di televisi adalah hal yang baik sebab itu bukanlah tayangan yang melanggar hukum. Dalam hal ini peran dunia pendidikan seharusnya dapat mengambil bagian lebih banyak sehingga sejak dini dampak negatif dari tayangan-tayangan televisi dapat dieliminir.

One thought on “Potret Buram Pertelevisian Indonesia

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s