Laskar pelangi dan Sinetron Indonesia


Satu lagi hasil karya anak negeri ini yang mampu membawa angin segar bagi dunia perfilman Indonesia. Laskar Pelangi, sebuah novel penuh inspirasi karya Andrea Hirata akhirnya dibuat juga versi layer lebarnya. Melalui tangan sineas handal Mira Lesmana dan Riri Reza, film Laskar Pelangi akhirnya akan ditayangkan serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada tanggal 25 September ini, dan bagi para pecinta sinema Indonesia yang mungkin sama sekali belum pernah membaca versi novelnya, dapat pula menikmati sensasi luar biasa yang dihasilkan oleh kisah yang didasari oleh kisah nyata sang kreator, Andrea Hirata.

Laskar Pelangi merupakan sebuah kisah yang menceritakan tentang pengabdian dan keikhlasan seorang guru sekolah Muhamadiyah bernama ibu Muslimah dalam mendidik kesepuluh muridnya di tengah segala keterbatasan yang ada di pulau Belitung pada saat itu. Disamping sosok ibu Muslimah, roh kisah ini juga muncul dari kesepuluh anak didiknya yang berlatar belakang dari keluarga miskin. Segala keterbatasan materi yang ada pada mereka tidak membuat mereka putus asa, namun sebaliknya malah membuat mereka semakin terpacu untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih baik (Wikipedia).Novel yang dibuat dalam empat seri (tetralogi) ini pun memegang rekor sebagai karya sastra Indonesia dengan hasil penjualan yang paling besar (www.bangkapos.com). Hal ini dapat dimaklumi, karena novel ini muncul di tengah-tengah kondisi negeri ini yang sudah cukup carut marut, sehingga paling tidak karya ini dapat dijadikan sebagai sebuah cermin bagi masyarakat kita yang telah sedemikian keras dihantam berbagai persoalan kemiskinan untuk tidak mudah patah arang dalam menghadapi segala kesulitan. Dan bagi saya, kisah inspirasioanal seperti inilah yang saat ini dibutuhkan oleh negeri ini agar kita semua segera bangkit dari keterpurukan dan mulai melangkah maju.

Kalau kita tilik lagi ke belakang, sebenarnya juga masih ada beberapa karya sineas kita yang juga mengandung banyak nilai-nilai positif. Sebut saja kisah Denias yang ide ceritanya juga mengusung masalah pendidikan.khususnya di tanah Papua. Ada pula Petualangan Joshua yang bercerita mengenai nilai-nilai kebenaran yang dipegang secara kuat oleh tokoh Jojo yang notabene adalah anak angkat seorang pemulung yang pada akhir ceritanya bertemu dengan keluarganya yang sesungguhnya.

Namun, yang patut disayangkan adalah karya-karya tersebut tak diiringi pula oleh dunia sinetron kita yang pada kenyataannya memiliki jumlah pemirsa yang jauh lebih banyak. Yang terjadi malah sebaliknya, justru nilai-nilai yang dibagikan dalam hampir sebagian besar sinetron tersebut malah mendorong masyarakat kita kearah yang negatif. Hampir sebagian besar sinetron kita lebih banyak mengandung nilai-nilai yang sama sekali tidak bermanfaat bagi masyarakat kita. Sebut saja konsumerisme, kekerasan rumah tangga, pergaulan bebas, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Satu lagi kesalahan sinetron kita adalah bahwa mereka ternyata tidak benar-benar mengusung nilai-nilai “Indonesia” yang sebenarnya. Banyak isi sinetron kita yang lebih mengadopsi budaya dan nilai-nilai di luar keindonesiaan.

Inilah sebenarnya yang paling dibutuhkan oleh masyarakat kita, sebuah tayangan berkualitas yang mampu membangkitkan semangat untuk terus maju, dan bukan sebaliknya tayangan yang malah memunculkan pesimisme, rasa tidak percaya diri, dan emosional yang negatif.

Kelemahan paling substansial dalam perinetronan kita adalah para pembuat sinetron yang ada saat ini sama sekali tidak memiliki visi yang jelas dan memiliki banyak manfaat bagi pemirsanya. Kecenderungan saat ini adalah mereka seolah-olah hanya berniat menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari sinetron yang mereka produksi. Di sinilah sebenarnya dibutuhkan adanya sinergi yang kuat dari pemerintah dan masyarakat agar kondisi ini dapat ditanggulangi secepat mungkin.

Dalam hal ini pemerintah perlu membuat sebuah regulasi yang efektif dan efisien untuk mencegah kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus. Di samping itu pemerintah perlu memberikan sebuah pemahaman yang menyeluruh pada masyarakat kita untuk menghindari tayangan-tayangan yang sama sekali tidak bermanfaat. Pada titik inilah kemudian diperlukan sebuah kesadaran aktif masyarakat kita dan lebih utama lagi adalah kesadaran aktif dari institusi keluarga untuk secara bijak memilih tayangan yang baik bagi keluarganya. Sangat disayangkan sekali apabila keluarga sebagai ujung tombak pedidikan mental generasi penerus bangsa terus menerus meracuni dirinya dengan tayangan dan hiburan yang sama sekali tidak mendidik. Lantas, akan jadi seperti apakah generasi penerus kita kelak?

Seandainya saja ada lebih banyak lagi orang-orang seperti Andrea Hirata dalam sinetron kita, maka masih akan ada harapan bagi pertelevisian kita untuk bangkit dan memberi suasana baru serta memunculkan optimisme masyarakat untuk terus maju dan bangkit dari keterpurukan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s