Isu gender dalam secangkir kopi


Dalam kultur masyarakat Indonesia, kopi hitam selalu identik dengan maskulinitas. Fenomena ini semakin lekat ketika kita memperhatikan warung-warung kopi yang umumnya ramai terdapat di pulau Jawa lebih banyak dikunjungi oleh tamu-tamu pria yang asyik menikmati segelas kopi hitam sambil menghisap rokok sampai berbatang-batang. Sekalipun ada tamu wanita pun, kebanyakan dari mereka dengan berbagai alasan, sengaja tidak memilih kopi sebagai minuman mereka.

Kopi hitam khususnya di tengah masyarakat Indonesia selalu diidentikkan dengan kejantanan karena secara kimiawi kopi mengandung banyak kafein yang lebih dibutuhkan oleh orang-orang dengan tingkat aktivitas tinggi karena kafein mampu memanipulasi produksi dopamin dalam otak yang bisa menimbulkan efek nyaman dan meningkatkan energi.

Sementara itu, dalam kultur masyarakat Indonesia yang patriarki dimana pria bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak istri, sementara istri dengan setia menunggu di rumah sambil merawat anak-anak dan memasak untuk suami. Otomatis pembagian tugas semacam ini berdampak pada pandangan masyarakat bahwa kopi adalah minuman untuk laki-laki yang notabene mereka bekerja lebih keras daripada istri sehingga membutuhkan lebih banyak energi yang salah satunya diperoleh dari kopi hitam.

Pandangan semacam ini pada akhirnya diturunkan kepada anak-anak perempuan mereka. Beberapa keluarga kenalan saya malah melarang anak perempuannya untuk minum kopi karena alasan-alasan yang beragam pula. Beberapa mengatakan bahwa kopi tidak cocok diminum oleh anak-anak karena akan membuat mereka kesulitan tidur. Dan ketika pesan tersebut disampaikan berulang-ulang akhirnya menyebabkan pola pikir sang anak terbentuk dari awal bahwa kopi memang tidak baik untuk kesehatan sehingga pada akhirnya fisik mereka benar-benar resisten terhadap kopi. Padahal pada kenyataannya berdasarkan beberapa survey, kopi tidak sepenuhnya berdampak buruk terhadap kesehatan. Bahkan kopi juga bermanfaat bagi kesehatan selama di konsumsi dalam porsi yang secukupnya dan diimbangi pula dengan gaya hidup sehat dan olahraga teratur.

Ditinjau secara medis kopi memang tidak aman diberikan pada perempuan yang sedang dalam masa kehamilan karena kafein memiliki kemampuan menembus dinding plasenta dan masuk ke tubuh janin, sementara janin sendiri tidak memiliki kemampuan mengolah kafein kaena keterbatasan kemampuan metabolisme janin sehingga berpotensi terjadinya keguguran pada kandungan. Kafein juga sangat berbahaya bagi keselamatan janin karena zat ini mempengaruhi perkembangan sel, menghambat arus darah di tali pusat, sehingga ujungnya bisa berakhir fatal karena proses pembangunan janin yang tidak sempurna.

Konsep patriarki pertama kali muncul pada masyarakat purba ketika manusia beralih dari masyarakat pemburu ke tahap masyarakat pemetik. Peralihan ini disebabkan karena manusia mulai memahami teknologi beternak binatang yang sebelumnya diperoleh dengan jalan perburuan. Perubahan besar-besaran baru hadir di era akhir jaman Neolitikum (selitar 3000 SM) dengan dikembangkannya agrikultur secara lebih intensif, dan pada saat itu untuk pertama kalinya manusia mulai mengurung sejumlah besar binatang dalam sebuah peternakan. Binatang-binatang tersebut secara sistematis dipisahkan dari kehidupan liarnya dan dikembangbiakkan secara selektif, sehingga binatang-binatang domestik pertama itu secara berangsur-angsur menjadi berbeda secara fisik dari sesama jenis mereka yang hidup di alam liar. Hal ini menurut Camatte menyebabkan lahirnya properti privat , nilai tukar, dan kelahiran awal patriarki Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan alam masyarakat secara dramatis meningkat pesat sejumlah besar bidang kerja, pembukaan hutan untuk lahan pertanian, memberi makan,dan lain-lain. Dari sini relasi gender mulai terbentuk dimana permintaan akan tenaga kerja yang besar mendorong perempuan untuk melahirkan lebih banyak anak lagi (dalam masyarakat pemetik, kelahiran anak cenderung memiliki jeda cukup panjang antara tiga atau empat tahun). Akhirnya sebagaimana kebutuhan akan berburu yang semakin menurun, lelaki semakin banyak yang bekerja di bidang pertanian yang sebelumnya menjadi bagian kelompok perempuan. Posisi sosial perempuan juga semakin menyusut sehingga mereka tak lagi memiliki banyak kontribusi bagi produksi makanan harian (Ehrenberg). Mungkin karena hal ini pula maka seringkali di pendidikan tingkat dasar lebih sering terdengar istilah “pak Tani” dibandingkan dengan “bu Tani”.

Kembali ke Kopi…

Lantas, bagaimana upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk membuat kopi jadi terasa lebih feminin? Istilah feminin sering diidentikkan dengan kecantikan, kelembutan, dan ketelitian. Oleh karena itu salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah bagaimana menyajikan kopi hitam dengan tampilan yang cantik dan menarik mata. Hal seperti ini sudah dapat kita temui dalam beberapa sajian kopi oleh beberapa coffee shop terkemuka seperti Starbucks dan beberapa brand coffee shops dari luar negeri sehingga kelompok perempuan pun tak lagi anti ngopi sekalipun untuk itu kopi yang diminum harus dibeli dengan harga yang relatif mahal.

Membuat tampilan kopi hitam atau kopi lokal jadi terasa lebih feminin saya pikir memang cukup sulit karena sampai saat ini ilmu barrista di Indonesia belum banyak dikenal karena mungkin prospek masa depannya yang belum jelas. Oleh karena itu saya pikir untuk semakin meningkatkan peluang bisnis kopi lokal di tanah air kita bisa banyak belajar dari Starbucks yang mampu meracik kopi dengan indah dan menarik, sekalipun sebenarnya kita pantas untuk merasa iri terhadap starbucks yang notabene adalah produk luar negeri namun dapat memanfaatkan peluang kopi-kopi lokal yang beraneka ragam di negeri ini. Sebagai masyarakat lokal sudah seharusnya kita mencintai kopi-kopi lokal yang ada di negeri ini. Toh kopi-kopi tersebut tidak kalah enak dibandingkan produksi luar negeri. Bahkan sebenarnya Indonesia cukup dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia sehingga sudah selayaknya apabila kita turut mencintai “emas hitam” tersebut.

Let’s save our local coffee!!! Tapi juga jangan lupa untuk menyelamatkan perempuan dari ketertindasan!!! Mari kita minum kopi…

Referensi :

1.Terbuangnya Manusia dari taman Firdaus; Jurnal katalis edisi II tahun 2008

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s