Pesta demokrasi Pesta baliho


Pemilu 2009 sudah akan segera berlangsung. Orang-orang menyebut momen ini sebagai sebuah pesta demokrasi. “Pesta”, mendengar kata itu saja pikiran kita akan langsung tertuju pada kerlap-kerlip lampu dimana-mana, makanan dan minuman beraneka rasa yang tak kunjung habis dimakan oleh seberapa pun banyaknya orang yang hadir. Pesta selalu identik dengan hiasan berwarna-warni yang menyulap ruangan yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Menjelang pemilu kali ini pula di sepanjang jalan di mana-mana berdiri aneka poster,spanduk,baliho dan bendera partai yang berwarna-warni dan masing-masing memiliki kalimat-kalimat yang indah sama seperti pemiliu-pemilu sebelumnya yang apabila dipandang dengan kacamata awam maka dapat disimpulkan bahwa pesta demokrasi yang telah ada sebelumya tidak membawa dampak yang sangat signifikan, bahkan masih saja sering terdengar di media-media adanya tokoh-tokoh yang duduk di kursi kekuasaan ternyata terlibat dengan skandal dan kasus korupsi. Lantas bagaimana dengan pemilu yang akan segera dilangsungkan kali ini?

Janganlah dulu kita berbicara mengenai pemilu presiden, karena saat ini arena politik kita masih menampilkan tokoh-tokoh yang mungkin baru naik ring yang kiprahnya masih belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Tokoh-tokoh yang baru naik ring itu kita sebut sebagai calon legislatif. Mereka inilah yang nantinya akan duduk di kursi legislatif dan menjadi representasi kehendak rakyat, ya semoga saja mereka benar-benar bisa merepresentasikan kehendak rakyat, bukan kehendak kelompoknya sendiri. Untuk itu, saat ini yang baru bisa kita lakukan adalah berharap semoga mereka-mereka ini kelak mampu menjalankan amanah rakyat dan bekerja secara profesional dan dengan penuh integritas menyuarakan aspirasi rakyat.

Sebagai pemain-pemain yang belum banyak dikenal oleh calon pemilih, tentu saja mereka membutuhkan sebuah media untuk semakin meningkatkan popularitasnya di kalangan masyarakat. Hal tersebut yang kemudian mendorong semakin menjamurnya baliho-baliho dan poster-poster dari yang ukuran standar sampai ukuran super besar yang dipasang di sepanjang ruas jalan umum yang menyebabkan kota jadi tampak kumuh dan tak terawat. Bahkan seringkali poster-poster tersebut di pasang begitu saja pada fasilitas-fasilitas publik seperti rambu-rambu lalu lintas yang notabene adalah milik masyarakat sehingga tak jarang media-media tersebut malah menghalangi para pengguna jalan untuk mengenali rambu-rambu lalu lintas. Beberapa poster juga di pasang di pohon-pohon menggunakan paku dan pasak yang tentu saja akan berdampak buruk pada daya hidup pohon-pohon tersebut. Padahal sebagai tokoh-tokoh yang bergelut di arena politik, mereka harusnya sudah mengerti benar mengenai isu global warming. Bukankah negeri ini belum lama juga menjadi tuan rumah dari konferensi PBB untuk perubahan iklim.

Semakin menjamurnya media-media tersebut terang saja berdampak pada keindahan kota yang selama ini didengung-dengungkan oleh pemerintah. Akan tetapi dari pemerintah sendiri seolah-olah tidak ada tindakan yang tegas untuk menertibkannya. Malahan dengan dalih yang sama (untuk keindahan kota dan ketertiban umum) pemerintah lebih memilih untuk menggusur kelompok-kelompok pedagang kaki lima yang ada di pinggir-pingir jalan yang seringkali tidak dibarengi oleh kebijakan relokasi yang tidak merugikan pedagang kaki lima itu sendiri. Atau sekalipun ada tindakan relokasi, namun hal itu tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi kelompok pedagang kecil tersebut.

Di satu sisi memang disadari bahwa para calon wakil rakyat itu membutuhkan sebuah media yang dapat membuat popularitas mereka melonjak dan memperbesar peluang keterpilihan mereka dalam ajang pemilu legislatif. Di sinilah seharusnya pemerintah perlu membuat sebuah kebijakan atau sebuah wilayah dan ruang khusus yang memberikan porsi yang sama bagi para calon wakil rakyat tersebut untuk memaparkan visi dan misi yang mereka usung. Apabila kita cermati secara cerdas, pada dasarnya kebanyakan poster dan baliho yang terpasang dengan meriah di jalan-jalan tersebut sama sekali tidak terdapat sebuah tawaran visi dan misi yang hendak mereka bawa. Kebanyakan hanya pasang tampang dan semboyannya masing-masing yang masih belum dapat dibuktikan kebenarannya seperti semboyan Jujur, adil, nasionalis, integritas dan berbagai macam sifat-sifat mulia yang kalau akan di sampaikan semua tidak akan ada habisnya. Karena slogan-slogan tersebut tidak dapat diuji secara langsung oleh masyarakat, maka bisa dikatakan bahwa hal ini adalah sebuah tindakan pembodohan massal. Belum tentu pula bahwa para caleg yang baliho, spanduk dan posternya sudah terpasang dimana-mana itu sudah memenuhi persyaratan untuk masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu 2009 seperti yang diberitakan sebelumnya dimana Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu propinsi Jawa Timur masih banyak menemukan calon legislatif yang tidak memenuhi syarat namun berhasil lolos dalam verifikasi KPU dan masuk dalam Daftar Calon Tetap Pemilu 2009 (Harian Surya, 13 Januari 2009 , hal 10 ;”Banyak Caleg Tak Memenuhi Syarat”)

Diakui memang bahwa media-media tersebut sama sekali tidak memiliki kode etik yang mengaturnya seperti media-media informasi lainnya baik itu media cetak,audio, ataupun visual yang masing-masing memiliki kode etik jurnalistik masing-masing sehingga kita juga tak bisa menuntut begitu saja pada pengelola media-media tersebut. Dalam hal ini sangat dibutuhkan adanya peran aktif dari pemerintah untuk melakukan penertiban sehingga masyarakat tidak dirugikan dan lingkungan yang bersih dan indah pun juga dapat diwujudkan. Di samping itu perlu juga adanya sebuah kesadaran yang tumbuh dari dalam nurani para calaon wakil rakyat itu sendiri untuk turut berperan serta menjaga kenyamanan kota dan memikirikan cara-cara berkampanye yang lebih etis dan tidak merugikan masyarakat. Toh, bukannya masyarakat kita sudah cukup cerdas untuk menggerakkan demokrasi di negeri ini sehingga mereka pun juga menyadari bahwa mereka butuh sebuah kejelasan visi dan misi dari calon wakil mereka yang akan duduk di pemerintahan, dan bukan hanya cukup tahu wajah dan slogan-slogan yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Selain itu, perlu juga adanya dukungan aktif dari masyarakat untuk mengontrol kegiatan-kegiatan kampanye melalui baliho dan poster tersebut. Tak lepas juga perlu adanya sebuah tindakan dari lembaga-lembaga pengawas pemilu untuk secara tegas dan obyektif melaporkan setiap pelanggaran yang terjadi selama masa kampanye. Jangan sampai pada akhirnya masayarakat juga kehilangan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga tersebut sehingga pada akhirnya kita benar-benar megalami krisis kepercayaan karena tak ada lagi yang bisa dita percayai di negeri ini.

Akhirnya, semoga pesta demokrasi kali ini benar-benar akan menghasilkan pemimpin-pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang memiliki hati nurani, integritas dan profesionalisme. Seandainya pun event ini tidak menghasilkan figur-figur tersebut, maka biarlah kita berharap pada pemilu selanjutnya dan berikutnya. Yang jelas jangan sampai negeri ini pada akhirnya kehilangan pengharapan dan mimpi. Seandainya mimpi dan pengharapan sudah tidak bisa kita temui lagi di negeri ini, maka sudahlah, tak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s