Efek Rumah Kaca


erk

Dalam sebuah kesempatan, saya dengan beberapa teman dari media yang sebagian besar tidak saya kenal ngobrol bersama dengan seorang musisi senior, Franky Sahilatua usai dia mengisi sebuah acara di kota Malang.

Dalam obrolan singkat itu, bang Franky mengkritik trend musik yang sedang berkembang di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

“ Saya, Iwan (maksudnya adalah Iwan Fals), dan beberapa teman lain ini bisa dibilang adalah ayam petarung, “the Last Mohican! Kalo band-band yang sekarang ini semuanya ayam hias. Cuma nyanyi lagu-lagu cinta aja! Memang sih, mahasiswa butuh cinta, tapi cinta saja tidak cukup buat mahasiswa!”

Tanpa pikir panjang, saya lalu mengiyakan saja apa yang bang Franky katakan saat itu. Benar memang, band-band dan musisi jaman sekarang sudah kehillangan orisinalitas dan keprihatinannya terhadap problematika bangsa. Demi untuk menuruti keinginan pasar terhadap musik-musik sendu melayu, akhirnya mereka semua mulai menggarap dan menciptakan lagu-lagu dengan tema yang sama, Cinta.. entah itu yang bercerita tentang patah hati, perselingkuhan, tembak menembak, ditolak dan diterima, dan selalu melulu itu-itu saja. Maka tak heran kalau saya sendiri mulai tidak memahami lagu ini lagunya siapa, lagu-lagu itu lagunya siapa? Semuanya sama, tak ada yang orisinil… siapa itu salju band? Siapa itu hijau daun? Siapa itu Asbak? Siapa itu angkasa? Melihat mukanya saja saya tidak tau, hanya pernah satu dua kali mendengar namanya disebut oleh radio.

Lalu saya coba flashback lagi ke belakang, saya masih ingat dengan Format Masa Depan miliknya Dewa 19 yang benar-benar menggugah semangat, atau mahameru yang benar-benar “pecinta alam”, dan masih ada beberapa lagu lainnya yang saya pikir benar-benar punya nilai “lebih”. Tapi kemudin, seiring bergesernya jaman,  Dewa 19 pun akhirnya berubah. Menuruti keinginan pasar dan kehilangan idealismenya. Hanya Cinta di setiap lirik dan syairnya… menyedihkan…

Lalu, ada yang berubah, tepatnya seminggu yang lalu…

Ketika sedang browsing internet, saya iseng-iseng mencoba mencari tahu lagu milik sebuah band yang pernah direkomendasikan oleh seorang kawan. “Efek Rumah Kaca” namanya. Berbulan-bulan yang lalu ketika seorang kawan itu merekomendasikan Efek Rumah Kaca, saya pikir mereka adalah band Underground. Apalagi dari namanya saja sudah sangar, seperti band-band underground yang punya nama Sekarat, Bangkai, dan semua barang-barang menakutkan lainnya.

Setelah loading beberapa saat, lalu muncul beberapa judul lagu yang bisa diunduh dan tanpa pikir panjang segera saya klik “download”. Semenit, dua menit, tiga menit, akhirnya lagu berjudul “kenakalan remaja di era informatika” berhasil di download dan segera saja saya klik “play in winamp”.

Diam sejenak, menikmati irama rancak dan tentu saja lirik yang tak biasa untuk ukuran trend musik jaman sekarang.

Senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang

Padahal hanya iseng belaka

Ketika birahi yang juara

Etika menguap entah kemana

Ooh, nafsu menderu-deru bikin malu…

Rekam dan memamerkan badan dan yang lainnya

Mungkin hanya untuk kenangan

Ketika birahi yang juara

Etika menguap entah kemana

Ooh, Nafsu menderu-deru bikin malu!

Ooh, nafsu menderu-deru susah maju!

Apakah kita tersesat arah

Mengapa kita tak bisa dewasa

Satu kata! Salut! Lagu ini bercerita tentang kebiasaan anak muda jaman sekarang dimana semakin banyak Hp dengan teknologi kamera yang mendorong maraknya perkembangan video dan gambar-gambar porno. Ini bukan tentang Cinta! Tapi tentang masyarakat dan budaya kita!

Kemudian saya beralih ke lagu-lagu lainnya dan berhasil donload sekitar 29 lagu. Sampai di rumah seera saya pindahkan ke komputer dan tak ada satupun yang saya lewatkan untuk didengar. Semua lagunya berisikan kritik-kritik sosial seperti “jangan bakar buku”,  “menjadi Indonesia”,  “Cinta Melulu (juga mengkritik musik jaman sekarang yang isinya tentang cinta melulu), “Mosi tidak percaya”, “belanja terus sampai mati”, “jalang”, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tiba-tiba saya merasa lega karena masih ada sebagian dari anak-anak muda dan musisi kita yang benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini dan berani menuangkannya dalam ekspresi musik mereka tanpa harus mengikuti selera pasar namun tetap menghasilkan karya yang bisa dinikmati oleh telinga-telinga awam.

Seni bukanlah hanya keindahan, tapi adalah alat kontrol sosial dan pemerintah.

Musik bukan hanya tentang alunan suara gitar dan biduan yang membuai telinga, tapi memberikan manfaat yang mencerahkan masyarakat, musik yang tidak membodohi tapi membangunkan. Musik yang tidak bikin melankolis tapi bikin jadi semakin cerdas dan peduli pada kondisi masyarakatlah yang kita butuhkan saat ini.

Kita tidak butuh Peterpan, karena sudah terlalu banyak yang seperti mereka! Kita tidak butuh hijau daun, karena negeri ini sudah kehabisan pohon dan tak ada lagi daun. Kita butuh musik yang hidup, musik yang jujur…

Kemudian, saya bisa bilang pada bang Franky :

“ternyata masih ada yang akan menggantikan kalian, semoga saja mereka tidak ikut-ikutan disesatkan oleh pasar”

Selamatkan Indonesia…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s