Menghabisi Sunset di Modangan


Kabupaten Malang menyimpan berbagai potensi wisata yang sesungguhnya layak untuk dikunjungi. Namun karena infrastruktur yang belum begitu memadai dan akses jalan yang masih sangat sulit ditempuh, maka tak heran bila potensi-poensi tersebut belum bisa tergarap secara maksimal dan tidak diketahui banyak orang.

Saya cukup beruntung bisa menginjakkan kaki di salah satu lokasi pantai yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Bersama dengan rekan-rekan dari Belantara off road kami berjalan melintasi kawasan hutan jati dan mahoni yang cukup panjang dan masih rekat tak terjamah untuk menuju sebuah pantai yang ada di perbatasan  kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.

Adalah pantai Modangan yang terletak di 65 km barat daya kota Malang, tepatnya di dusun Kalitekuk, desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.

modangan dari ketinggian tebing

Perjalanan kami diawali sekitar pukul 09.00 WIB dari Kota Malang dengan mengendarai land rover dan beberapa kendaraan jeep lainnya. Dari starting point di Kawasan Janti, kami meluncur ke Kepanjen untuk bergabung dengan rekan-rekan lainnya yang sudah menunggu untuk berangkat bersama. Sekitar pukul 10.30 WIB setelah mencicipi sejenak secangkir kopi yang disediakan tuan rumah, dengan menggunakan 10 kendaraan, perjalanan pun kami lanjutkan kembali.

Sekitar satu jam lamanya melintasi jalan raya dan beberapa ruas jalan yang belum diaspal (makadam) akhirnya kami tiba juga di kediaman seorang rekan yang terletak di Desa Sumberoto. Di tempat itu kami meninggalkan seorang rekan yang terpaksa harus membatalkan keikutsertaannya karena terjadi kerusakan pada mesin mobilnya.

Petualangan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dari sini perjalanan mulai terasa agak berat (tentu saja hanya berlaku untuk amatir seperti saya) karena telah memasuki wilayah hutan yang cukup rapat (lebih baik matikan saja ponsel karena sinyal tidak bisa menjangkau lokasi ini). Turunan curam pertama pun kami temui dan untuk keperluan dokumentasi maka saya terpaksa turun dari kendaraan untuk mengabadikannya dengan kamera kami. Turunan ini terletak persis di atas sebuah sungai yang hampir surut yang menurut rekan-rekan Belantara apabila airnya sedang naik, maka kendaraan terpaksa harus melintas melalui kedalaman air sungai tersebut.

Begitu terlewati, kami segera memutuskan untuk bergerak menuju sebuah tebing pantai untuk sekedar beristirahat sejenak sambil menikmati nasi bungkus. Dari tebing ini kami beristirahat sambil memandang pantai Pandan yang ada di bawah kami serta menikmati makanan yang telah disiapkan untuk sekedar mengembalikan tenaga yang mungkin telah sedikit terkuras.

Setelah beristirahat sekitar satu jam lamanya, tim segera berangkat menuju lokasi terakhir kami yaitu pantai Modangan.

Untuk menuju lokasi ini bukanlah hal yang mudah, selama sekitar dua jam kami melintasi medan-medan yang cukup menantang dengan cerukan-cerukan tajam dan tanjakan-tanjakan terjal yang membuat kami semakin tertantang. Tak terhitung berapa kali tim terpaksa menarik kendaraan lainnya dengan katrol karena terjebak pada cerukan-cerukan tajam dan tak bisa maju atau mundur sama sekali. Bahkan peristiwa menarik terjadi ketika kami melintasi sebuah jalur sungai yang telah kering, salah satu kendaraan mengalami kerusakan pada persenelingnya sehingga terpaksa harus disembunyikan di balik semak-semak sehingga perjalanan bisa terus dilanjutkan.

terjebak di cerukan

Jalur selanjutnya relatif lebih mudah karena tim telah memasuki areal hutan jati dan mahoni yang minim tanjakan serta cukup rapat dan belum tersentuh sama sekali dari penebangan liar. Selain itu dalam beberapa kesempatan tim juga menemukan beberapa sumber air yang sangat segar. Meurut salah satu rekan, sumber air ini adalah tempat minumnya binatang seperti babi hutan.

Hampir pukul 16.00 kami telah berada di atas sebuah tebing. Dari lokasi tersebut kami telah bisa menyaksikan pemandangan pantai Modangan dari kejauhan dan dari lokasi ini terlihat beberapa orang yang ada di pantai lebih nampak seolah-olah seukuran semut. Setelah sekitar 10 menit tim berhenti dan mengabadikan pemandangan di bawah kami, maka tim segera meluncur ke pantai yang ada di bawah kami.

Tak lama, kami pun akhirnya tiba di Pantai Modangan yang sampai kini masih sering dijadikan tempat latihan Brimob. Di tempat ini kita tidak akan menemukan banyak pengunjung, paling-paling hanya beberapa pemancing yang lebih nampak seperti warga yang tinggal di pemukiman yang paling dekat dengan lokasi pantai (lokasi pemukiman terdekat berada kira-kira 3 km dari pantai). Melihat beratnya medan yang tadi kami lalui, maka tak heran apabila tidak banyak orang yang bisa kami temui disini.

Ombak yang cukup besar, pasir putih yang masih bebas dari sampah, serta batuan-batuan hitam adalah beberapa hal yang bisa kita temukan di lokasi ini. Yang juga cukup unik, berbeda dari kebanyakan pantai lainnya yang umumnya memiliki struktur batuan berupa batuan kapur, batu-batuan yang ada di lokasi ini adalah jenis batuan andesit berlapis yang menurut beberapa orang adalah bentukan dari lelehan lahar dari gunung berapi yang telah membeku, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum bisa memperoleh jawaban gunung apakah tersebut?

Selain itu, pantai ini juga berada di dua kabupaten yaitu kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar yang ditandai dengan sebuah tugu kecil yang terletak di tepi sebuah sungai yang juga bernama sungai modangan.

Mungkin karena itu pula maka tak heran apabila tempat ini tidak dibuka untuk wisata umum, sebab lokasinya yang terletak di dua kabupaten sehingga masih belum bisa ditentukan siapa yang memegang hak pengelolaannya.

numpang narsis dengan partner

Semakin sore, petualangan kami ditutup dengan menghabisi merah sunset yang tak mungkin bisa ditemui di perkotaan. Di atas pasir, rekan-rekan menyalakan beberapa api unggun sambil menikmati kopi panas yang semakin menambah suasana menjadi jauh lebih menarik, dan ada kesan indah tersendiri yang didapat dari menyaksikan sunset dengan ditemani deburan ombak, pada saat itu seolah-olah sedang berada di alam lain yang jauh dari peradaban, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk perkotaan, dan tentu saja jauh dari masalah sehari-hari. Entah mengapa pada saat itu tak ada sedikitpun keinginan untuk menceburkan diri ke dalam air, justru sebaliknya hanya ingin diam dan merasai apa yang ada di sekeliling… hmmmm….

Begitu matahari hilang, tim segera undur diri dan pulang kembali menuju ke kota malang, menuju pekerjaan masing-masing, dan menuju masalah masing-masing sambil berharap masih akan ada lebih banyak lagi petualangan-petualangan lainnya…

Thanks to : Belantara OffRoad – Malang

12 thoughts on “Menghabisi Sunset di Modangan

  1. wauwhh q ban99a bget ma orang belantara….c’man9at yow…
    eh numpan9 tanya kenal ma mz puji handoyo gugh?????
    apa an990ta belantara d y9 jeepx bernopoL N 903 DJ

  2. Puji Syukur kalo sampe sekarang masih terjaga, dan harus kita akui kabupaten Malang masih banyak menyimpan pantai yang belum terjamah sampah. Seperti Pantai Modangan atau orang mengenalnya dengan pantai Brimob, karena banyak diisi oleh aktifitas Brimob. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Modangan itu tahun awal 2002 sewaktu melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Kanjuruhan Malang (Eks. IKIP PGRI Malang) Angkatan 1998. Maka dari itu kami warga yang asli Kabupaten Malang yang sekarang diperantauan mengharap kepada Pemerintah untuk merawat serta menjual daya tarik Modangan biar setingkat dengan Balaikambang, Ngliyep, Sendang Biru (Sempu), Bajulmati dan pantai lain yang ada di administrasi kabupaten Malang. (Donal SP/ DSP AREMA 08 / AReMANIa Prolinx)

  3. boleh minta info kenal ama mas very..dy anggota belantara mlang…alumni ITN malang Teknik indutri…klo ada yg tau beliau ada dmn ..boleh donk bagi infonya….thx

  4. Pantainya indah.. kami kira lokasinya ada di blitar, eh ternyata sudah di kabupaten tetangga..🙂
    Monggo mampir ke blitar mas, pantai-pantainya juga lumayan menantang..

  5. ndesoku. biar anak desa tapi aku ttp PD. ingt waktu kecil. lihat labuhan atau ekstra kurikuler di sekolah. kurang lbh 10 km ke modangan . jalan kaki. tp asyik. lama di rantau, kangen juga

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s