warna-warni


Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Realitas menari-nari di dalam kotak ajaib, memantulkan gambar-gambar bergerak dengan berbagai warnanya..

Ada anak-anak muda yang tertawa-tawa di dalam mobil berpintu dua, melarikannya dengan kecepatan tinggi ke mal dan rumah-rumah hiburan.

Ada pejabat-pejabat yang berdebat kusir di dalam gedung yang terhormat, masing-masing membawa mimpinya sendiri, sementara diluar anak-anak muda berteriak-teriak membawa poster, dijaga oleh pentungan dan anjing…

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Suami istri meninggalkan anak-anaknya, mereka bunuh diri karena tak bisa beli beras dan susu..

Anak-anak itu, terlempar ke jalanan, karena tak ada yang mau menampung mereka. Di jalanan, mereka disusui oleh asap-asap knalpot dan deru mesin motor. Kulitnya menghitam, hangus terbakar. Matanya yang dulu ceria, berubah jadi nyalang…

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Mereka yang mencuri nyawa orang-orang miskin, bersenang-senang di rumah-rumah mewah. Bahkan di dalam rumah tahanan, masih terasa seperti diskotek.

Maling-maling ini memilikiwajah malaikat, mulut mereka menyebarkan bau wangi yang membuat orang-orang tertidur, matanya mengeluarkan sinar yang silau.

Namun, dibalik sayapnya tersembunyi tangan yang lain. Satu tangan memegang pedang, satu tangan lagi memegang emas. Tapi tangan-tangan itu tersembunyi.

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Di pedalaman papua, ada banyak suku-suku yang ditinggalkan oleh jaman. Tidak mengenal ABCD, Matematika, dan Indonesia. Mereka berjalan membawa-bawa panah dan parang, mencari babi hutan dan umbi-umbian menerobos hutan.

Malam hari, mereka pulang. Anak dan istrinya telanjang dada tak kenal dingin, tersenyum lebar menyambut datangnya sang pahlawan dengan tari-tarian.

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Kita berteriak-teriak, menangisi listrik yang padam karena minyak telah habis. Kita menagis karena radio dan televisi tak lagi bisa menyala.

Tapi, jauh di ujung timur ada orang-orang pohon yang tersenyum hanya bermain-main dengan anak-anaknya dalam gelap. Remaja-remajanya membaca koran tahun kemarin, hanya dengan bantuan lampu minyak, mereka menulis dengan arang…

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Bapak memperkosa anak gadisnya, sementara istrinya memeras keringat di negeri tetangga, berharap bisa mengirimkan beberapa rupiah hingga anak gadisnya bisa lulus SMA.

Di sudut lain, ada bapak yang menangisi anaknya yang hampir mati. Merasa berdosa karena tak bisa bayar biaya pengobatan rumah sakit…

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Di kota-kota berkibar-kibar spanduk yang berteriak-teriak: ”hemat energi”, ”stop global warming”, ”kita akan kiamat”!

Di ruangan yang lain, ada orang-orang yang hidup hanya dari kayu bakar. Tak ada televisi, tak ada radio. Hanya orang-orang tua yang berkumpul di balai-balai sambil menginang, tapi mata mereka menangis, menunggu datangnya banjir besar yang akan menenggelamkan mereka.

Realitas itu berwarna pelangi.

Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, ditambah lagi dengan hitam yang tersembunyi.

Aku diam…

Kumatikan televisi…

Aku menangis…

* * * *

2 thoughts on “warna-warni

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s