Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo, Masihkah?


Memulai perjalanan ke kawasan sentra keramik Dinoyo, Jl. MT. Haryono, Malang,  mata akan segera tertuju kepada sebuah papan bertuliskan ”Pabrik Keramik Dinoyo Malang”. Melihat papan tersebut saya mulai merasa penasaran, sebagai orang asli Malang, saya sama sekali belum pernah membuktikan fakta apakah tempat ini benar-benar layak disebut dengan sentra keramik.

Pernah saya membayangkan, sebagai sebuah sentra kerajinan keramik, apakah kawasan ini seperti halnya dengan kota gede di Yogyakarta yang telah terkenal sebagai sentra kerajinan Perak? Pernah sekali saya kesana, dan memang hampir di sepanjang jalan yang dilalui pasti akan ditemui banyak pengrajin perak yang membuka usahanya baik usaha kecil-kecilan atau yang sudah tumbuh besar dan terkenal.

Saya pun mulai menyusuri kawasan ini dan orang pertama yang saya tanyai tentang keberadaan pabrik keramik yang papan namanya terpampang di sudut jalan raya yang tadi saya lihat adalah seorang penjual rokok. Saya bertanya kepadanya : ”nuwun sewu pak, pabrik keramik Dinoyo Malang itu dimana ya?” lalu dijawabnya sambil menunjuk gedung besar yang tak lagi terawat di belakang gerobak rokoknya: ”wah, wis tutup mas… lha iki kan pabrik’e” (terj : ”wah, sudah tutup mas…  lha ini kan pabriknya”) ”lho, kapan tutupnya pak? Kenapa kok tutup?” tanya saya kemudian. ”wah, udah lama tutup mas. Tapi aku gak ngerti kenapa…”

Saya pun kemudian meninggalkan bapak penjual rokok itu setelah berterimakasih sebelumnya atas informasi yang sudah diberikan. Sambil melanjutkan perjalanan kembali ke arah perkampungan, saya berpikir, kalau memang pabrik keramik sudah ditutup sekian lama, lalu kenapa papan namanya tidak dicabut saja?

Begitu memasuki kawasan perkampungan yang dikenal sebagai sentra keramik tersebut, saya memang melihat cukup banyak rumah warga yang membangun usaha penjualan dan pembuatan keramik. Kesimpulan itu saya ambil dari cukup banyaknya papan-papan nama yang dipasang di depan rumah dengan berbagai nama usahanya masing-masing. Tapi sudah terlanjur malam, hampir pukul 10 malam, jadi saya pun tidak bisa melihat kondisi yang sebenarnya karena pastinya semua toko sudah tutup.

Saya pun mulai bertanya pada seorang bapak yang sedang mencuci motor di depan halaman rumahnya. Saya bertanya perihal kawasan ini sebagai sentra kerajinan keramik, tapi nyatanya saya tidak bisa memperoleh banyak informasi yang cukup bermanfaat karena rupanya dia sendiri bukan penduduk asli, namun pendatang. Tapi untungnya dia memiliki informasi tentang siapa yang harus saya hubungi apabila ingin mencari informasi mengenai sentra keramik ini. Bapak itu menyarankan saya untuk mencari seorang kepala RW yang juga menjabat sebagai ketua paguyuban pengrajin keramik.

Namun, karena sudah terlalu larut, saya pun menunda keinginan saya untuk mencari bapak RW yang dimaksudkan oleh bapak tersebut.

* * *

Keesokan harinya, perjalanan kembali saya lanjutkan dengan mencari kediaman pak RW yang dimaksudkan oleh bapak yang sedang mencuci motor semalam. Tidak sulit untuk menemukannya, karena memang ada papan kayu di sebuah rumah yang menunjukkan bahwa sang empunya rumah adalah seorang kepala RW.

Saya beranikan diri untuk mengetuk pintu dan mencari kepala RW yang belakangan saya ketahui bernama Pak Arifin.

Tak lama setelah saya mengetuk pintu, seorang perempuan muda membukakan pintu. Saya utarakan tujuan saya untuk mencari bapak, namun sepertinya saya memang lagi-lagi kurang beruntung karena orang yang saya cari juga sedang tak ada di tempat.

Setelah berpamitan dan berjanji untuk datang di lain waktu, saya pun kemudian memutuskan untuk menyusuri kawasan ini dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari para pengrajin yang bisa saya temui.

Setelah melihat-lihat sejenak, saya memutuskan untuk mendatangi sebuah workshop kerajinan keramik yang belakangan saya ketahui dimiliki oleh pak Suyono. Setelah bertemu dengan beliau, saya pun mulai bercakap-cakap mengenai banyak hal yang berkaitan dengan sentra kerajinan keramik dinoyo.

Setelah banyak bercakap-cakap dengan pak Suyono, saya akhirnya bisa juga mengorek beberapa informasi yang cukup menarik mengenai sentra kerajinan keramik Dinoyo.

* * *

Sentra keramik Dinoyo telah ada sejak tahun 80 hingga 90’an. Pada saat itu mayoritas para pengrajin memilih untuk membuat aneka vas dan guci. Namun pada saat ini kebanyakan mereka lebih memilih untuk membuat aneka souvenir baik untuk pernikahan maupun untuk event-event lainnya. Jumlahnya pada saat itu pun masih cukup banyak, yaitu sekitar 80 pengrajin keramik.

Menurut pak Suyono, para pengrajin keramik tersebut mulanya adalah karyawan dari pabrik keramik besar yang dibangun oleh pemerintah, namun setelah pabrik ditutup, mereka mulai tersebar ke kawasan dinoyo dan betek serta selanjutnya mulai membuka usaha pembuatan keramik sendiri. Dengan diperkenalkannya kawasan ini sebagai sentra kerajinan keramik, tentunya mendatangkan keuntungan tersendiri bagi mereka, sebab keberadaan mereka pun mulai dilirik oleh wisatawan dan para pecinta keramik yang singgah ke kota Malang.

Perubahan besar terjadi ketika terjadi Tsunami Aceh. Akibat bencana dahsyat tersebut, pasar penjualan keramik mulai terganggu khususnya yang menuju ke kawasan Aceh dan Sumatera pada umumnya. Akibatnya, beberapa pengrajin mulai rontok dan menutup usahanya, bagi yang masih bertahan, mereka beralih membuat kerajinan dari gips yang tentu saja kebutuhan modalnya jauh lebih kecil.

Banjir yang sering terjadi di Jakarta pun mau tak mau juga menyebabkan perekonomian para pengrajin keramik ini lesu, sebab penjualan mereka ke ibukota juga terganggu akibat transportasi yang tidak memadai.

Perubahan besar lainnya selanjutnya juga muncul setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Secara drastis, kebijakan ini membuat banyak pengrajin gulung tikar atau beralih menjadi pengrajin gips. Hal ini memang dapat dimaklumi, sebab tentunya tak lagi mudah untuk mendapatkan minyak tanah sebagai bahan bakar tungku pembakaran keramik, sementara untuk menggunakan gas, tentunya dibutuhkan dana yang cukup besar, sebab untuk proses pembakaran keramik memang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi kualitas yang dihasilkan pun juga berbeda. Dengan tungku pembakaran yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, panas pembakaran yang dihasilkan bisa menjadi lebih maksimal, sebaliknya, dengan menggunakan gas, panas yang dihasilkan menjadi tidak maksimal dan kualitas keramik menjadi menurun.

Hal ini pada akhirnya berujung pada gulung tikarnya beberapa pengrajin keramik hingga pada saat ini hanya terdapat beberapa saja yang masih bertahan. Pada titik ini kondisi berbalik besar, lebih banyak pengrajin gips daripada pengrajin keramik. Sayang sekali…

* * *

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah kota Malang pada khususnya. Sebagai warga Malang tentu saja saya berharap agar geliat kerajinan keramik di tempat ini dihidupkan kembali, sehingga nantinya tempat ini tidak menjadi sentra kerajinan Gips.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah, namun yang paling utama adalah bantuan modal pada para pengrajin dan tentunya promosi yang lebih baik lagi. Toh, kalau saja tempat ini dihidupkan kembali, pastinya juga pemerintah yang diuntungkan dengan semakin berkembangnya geliat pariwisata kita…

Atau jangan-jangan kita sudah terlalu malas untuk sekedar mengganti papan nama pabrik keramik yang sudah ditutup dengan papan nama yang lain yang lebih menguntungkan bagi promosi area ini??

3 thoughts on “Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo, Masihkah?

  1. dinoyo gg XIB itu kampung kelahiran saya. sampai umur 18 thn saya disana. sejak lulus smea th ’99 saya ke Batam. Kurindukan dinoyo ku yg dulu….saya pernah jd tukang cat keramik souvenir itu waktu sekolah. pas masa keramik disana masih jaya2 nya. penduduk di sekitaran sana mendapat penghasilan yg lumayan. Bahkan anak sekolah pun bs mengerjakan nya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s