Bekal Pulang


Dan sinismu semakin mendingin di celah-celah hutan jati lalu tiap langkah terasa berat dihempas. Disana tak terdengar suara Maghrib, tapi kebekuan berteriak-teriak dari biji-biji mahoni..

Pasir tak tahu apa-apa, tapi asin disesapnya hingga hambar. Lalu luka di kaki semakin perih.

Perjalanan, membawakan sedikit hambar, sedikit dingin untuk bekal pulang..

Dingin yang tak habis, hambar yang liar…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s