Sogol


Karya : Hendro Martono

Kepada petani tembakau di Madura

Kami anak-anak tembakau

Tumbuh di antara anak-anak batu

Nafas kami bau kemarau cmapur cerutu

Bila kami saling mendekap,

Kami berdekapan dengan tangan kemarau

Bila kami saling mencium,

Kami bercuman dengan bau tembakau

Langit desa kami rubuh seribu kali

Tapi kami tak pernah menangis

Sebab kulit kami tetap coklat

Secoklat tanah tempat kami

Menggali hati sendiri

Langit desa kami rubuh seribu kal

Tapi kami tak pernah menyerah

Sebab pada setiap pohon tembakau

Kami urai serat hidup kami

Pada setiap daun tembakau

Kami rangkai urat doa kami

(Jamal D. Rahman. ”Anak-anak Tembakau”.

Kompas, Jumat 6 April 2001. Hal. 36)


Matahari bangun pagi. Kunyalakan sebatang kretek. Kulipat koran bekas ini ketika Kang Sarno melintas dari arah samping rumahku. ”Methil, kang?” Kang Sarno Cuma menoleh sambil menyeringai.

Terlihat olehku, sebilah parang terselip di sela ikat pinggang. Tangan kiri menjepit kretek menyala. Tangan kanan menjinjing jerigen dua literan. Di bawah capingnya kains arung melilit leher, bersilang sampai di pinggang. Ini hal biasa, sebab aku pun sebentar lagi akan macak serupa, menyusul Kang Sarno. Cuma, ini kulakukan sebentar menjelang berangkat mengajar.

”Ngopi dulu, Kang!” aku mencoba menawarkan minuman kopi, meskipun aku tahu istriku belum menjerang air. Gula juga habis sore tadi.

Sekali lagi Kang Sarno Cuma menoleh, sementara langkahnya makin menjauh, meninggalkan debu, membawa sejumlah tanya.

Meskipun aku dapat menduga-duga, tak urung aku terkesiap melihat tingkahnya. Memang sudah pembawaan Kang Sarno berlagak demikian. Cuma, beberapa hari terakhir ini wajahnya nampak gelap. Sejak pemetikan kedua daun tembakau di ladangnya.

”Mas Guru, mbok aku dipinjami uang dulu,” katanya beberapa hari lalu, ”Buat persiapan Sri”

”Ada apa dengan Sri?”

”Sri akan kukawinkan”

”Lho! Bukankah Sri baru lulus kemarin?” tanyaku heran.

Sebagai mantan gurunya, aku tahu Sri baru saja lulus SMP. Karena prestasinya bagus, Sri pernah kusarankan untuk melanjutkan sekolah. Akus anggupi untuk membantu biayanya. Akan tetapi, Sri ketika itu tampaknya ragu-ragu. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin ia sudah tahu rencana ayahnya.

”Mengapa terburu-buru, kang?”

”Lha wong sudah terlanjur, Mas Guru”

”Terlanjur bagaimana?”

”Mas Guru tahu, Lik Mar mendesakku terus agar segera menerima lamaran buat anaknya. Itu, lho, buat Manto yang bekerja di Jakarta. Katanya kalau lamarannya kuterima, utang-utangku akan dianggap lunas. Bukankah ini menguntungkan,Mas Guru? Bukankah ini dapat mengurangi bebanku?”

Gila! Ini pikiran gila, batinku.

”Sayang sekali, Kang”

”Sayang bagaimana, Mas Guru?”

”Sayang kalau Sri cepat-cepat kaukawinkan. Anak itu cukup cerdas dan sebenarnya pikirannya cukup maju. Mengapa tidak menunggu barang enam atau tujuh tahun. Biar sekolahnya mapan. Biar nanti mudah mencari pekerjaan. Kalaupun akhirnya kawin, ia benar-benar siap berkeluarga”

”Mas Guru seperti tidak tahu saja. Di desa ini kan Cuma Sri yang sempat mencicipi bangku SMP. Teman-temannya sudah banyak yang punya anak….”

Ya! Aku tahu. Bahkan Kang Sarno pun dulu cuma sempat duduk di bangku SD sebentar. Ketika aku baru lulus SMP, Kang Sarno sudah kawin. Tak heran kalau sekarang anaknya sudah remaja, sementara aku baru beberapa bulan lalu mempersunting istriku.

”Lagipula, ini kesempatan baik untuk melunasi utangku, Mas Guru. Yang penting sekarang ini aku butuh bantuan Mas Guru.”

”Sayang sekali, Kang!”

”Sayang apa lagi, Mas Guru?”

”Sayang aku tidak punya uang”

”Ah! Aku tidak percaya. Gaji Mas Guru pasti banyak. Bukankah Mas Guru selalu gajian setiap bulan?”

”Ah, kang sarno sok tahu saja. Kang Sarno tahu, guru seperti saya ini jarang punya uang”

”Tapi, tolonglah aku sekali ini saja, Mas Guru! Nanti kalau mbako-nya laku segera kulunasi”

Mbako-nya laku? Kapan lagi tembakau petani laku dengan harga layak? Seingatku, sejak empat tahun belakangan para petani di lereng Merapi dibuat frustasi. Kalaupun tidak gagal di tingkat harga jual, petani juga sering gagal pada masa tanam. Bahkan kalau diamati kondisi petani leih parah lagi, karena mulai banyak yang kehilangan tanah. Kang Sarno salah satu contohnya.

Aku ingat, sewaktu kecil dulu, sementara aku dan teman-teman sebaya masih bermain dengan kerbau, sapi atau kambing, Kang Sarno sudah punya thongkrongan sepeda motor. Kemana-mana Kang Sarno mengendarai moornya itu, sementara aku dan kawan-kawan Cuma dapat membaui asap knalpotnya.

”Ayo, kejar aku” kata Kang Sarno pada waktu itu, ”siaa yang dapat mengejarku, nanti aku boncengkan”

Kami pun beradu cepat mengejar Kang Sarno. Tentu saja meskupun napas kami sampai habis, Kang Sarno tak mungkin terkejar. Dan Kang Sarno tertawa-tawa gembira dengan permainannya. Kami pun ikut tertawa, meskipun getir, sambil menatap Kang Sarno yang semakin menjauh meninggalkan bau bensin.

Akan tetapi, tak terasa keadaan berubah cepat. Petani tembakau makin tak selalu menikmati rezeki berlimpah dari panennannya. Harga selalu fluktuatif. Tentu saja, nalarkau tak dapat menjelaskan sebab-sebabnya. Aku hanya dapat menyaksikan perubahan itu pada Kang Sarno, yang mungkin saja merepresentasikan kebanyakan nasib petani di desaku.

”dimana motormu kang?” tanyaku suatu hari, ketika berpapasan dengan Kang Sarno di Jalan.

Sejak masuknya ”Impor” daun tembakau dari Kendal, Boyolali, Pakis, dan Purwodadi, harga tembakau tak pernah beranjak dari lima ribu per kilogram. Padahal tahun 80-an pernah mencapai seratus ribu. Malah tembakau Srinthil bisa dihargai seratus delapan puluh ribu. Inilah agaknya yang membuat petani terobsesi setiap kali musim tanam tiba. Mereka berharap terjadi lagi panen raya dengan harga melambung. Tapi kenyataannya? Selama 4 tahun terakhir, yang melambung tinggi Cuma angan-angan petani, sementara harga jual tembakau semakin jatuh ke bumi.

Selain kelebihan pasokan, rendahnya harga beli dari para juragan –belakangan ini baru kuketahui- adalah munculnya tangan-tangan siluman yang ikut memainkan harga. Sejumlah partai politik lokal kabarnya kini menjadi pemungut pajak penjualan tembakau. Katanya buat ongkos operasional partai. Kata yang lain buat orang Jakarta untuk membatalakan peraturan pemerintah tentang pembatasan kadar tar dan nikotin beberapa waktu lalu.

(Aku tahu tembakau dari desaku mengandung kadar tar dan nikotin yang angat tinggi sehingga dengan terbitnya PP No. 81/1999 itu akan sangat merugikan para petani. Itulah sebabnya tempo hari para petani melakukan demo sampai ke Jakarta sampai kemudian terbit PP No.38/2000. itu pun belum memuaskan sehingga akhirnya pembatasan itu dibatalkan sama sekali dalam PP No. 19/2003).

Posisi petani makin terjepit pada harga produksi, mengingat makin mahalnya harga keranjang. Dengan kapasitas 60 kg tembakau kering, harga keranjang bisa mencapai sepertiganya. Inilah yang menarik minat para petani turut bermain dalam bisnis keranjang. Akan tetapi, ketika para juragan ikut campur dalam bisnis ini, kemarahan etani meledak. Puncaknya, sebulan lalu Pasar Pager Gunung membara.

Siang itu sehabis Dzuhur asap hitam terlihat jelas dari desaku. Desas-desus akan adanya serbuan ke sejumlah gudang milik para juragan memang cukup santer. Dan tak berselang lama, Kang Sarno muncul di halaman rumahku. Langkahnya terhuyung-huyung. Wajahnya berdarah-darah. Di belakangnya, beberapa lelaki kekar mengejarnya.

”Mas Guru, lindungi aku. Tolonglah aku, Mas Guru!”

Dengan jantung berdebaran kurengkuh tubuh Kang Sarno di pintu rumah. Napasnya tersengal-sengal.

”Apa yang terjadi, Kang?”

”Itu. Itu….. ” tangannya hampir terkulai menunjuk halaman. Kang Sarno rebah, lepas dari tanganku.

Kini kuhadapi beberapa lelaki kekar itu, sementara pra tetangga segera berkerumun. Kami semua hanya bisa bertatapan. Kutunggu reaksu para lelaki itu. ”Siapakah kalian ini?” tanyaku memecah ketegangan itu.

”Kami bekerja di gudang Koh Jiang. Kami mendapat laporan bahwa pasokan keranjang Koh Jiang di pasar dibakar orang. Setelah kami tiba, beberapa orang menunjuk ke arah orang itu. Karena itu kami mau menuntut pertanggungjawabannya.” jawab seorang sambil mengacungkan jari ke arah Kang Sarno.

”kalian mau membunuhnya? Kalian tidak menanyakan dulu apa sebabnya?”

”Koh Jiang memborong keranjang di desa-desa, Mas Guru.” sahut lik Merto, seorang tetangga, sambil menghunus parang,

”Malah saya dengar banyak pembuat keranjang yang mengijon pada Koh Jiang, Mas Guru”

Para lelaki kekar itu saling berpandangan di antara mereka.

”Kami tidak berurusand engan masalah itu. Kami hanya mengurus keranjang-keranjang yang dibakar orang itu.” jawab mereka dengan nada geram.

”Kalau demikian silakan kalian pulang. Katakan pada juraganmu, jika benar kata Lik Merto, mungkin saja gudang Koh Jiang malah akan terbakar!” kataku sedikit tersinggung.

Aku tahu, mereka pasti akan berhitung melihat tetanggaku memenuhi halaman dengan parang teracu di tangan. Karena itu kubiarkan saja mereka merenungkan kata-kataku.

Agustus hampir habis. Belum ada tanda-tanda kesepakatan antara petani dan juragan yang juga sebagai pemilik gudang. Saya kira, ini bukan hanya perkara pasokan tembakau yang selalu berlimpah. Pasti ini juga menyangkut pemberlakuan kuota dari para pemilik gudang itu. Tahun ini –kabarnya- Bentoel, Djarum, dan Gudang Garam mulai membatasi jumlah pembelian tembakau dari petani. Kabarnya pula, stok di Kudus, Kediri, dan Malang masih cukup untuk berproduksi selama 4 tahun ke depan.

Pernah saya dengar, sejumlah perwakilan petani tengah bernegosiasi dengan para juragan. Malah Pak Bupati dan anggota Dewan kabarnya telah mengumpulkan parajuragan itu dan mendesaknya agar menambah kuota pembelian. Meskipun demikian, aku yakin, selama tata niaga tembakau tak dibenahi tak banyak yang diharapkan oleh petani.

Selama pembeli masih memonopoli harga, nasib petani tak akan bertambah baik. Lebih-lebih karena para pembeli itu menggunakan standar harga yang sama untuk tiap jenis kualitas tembakau, sehingga pteni tak punya pilihan lain terhadap calon pembeli. Ini diperparah dengan munculnya pemain-pemain baru yang memasok tembakau dari luar kta sehingga petani tak punya posisi tawar yang kuat.

Sementar petani menunggu hasil negosiasi, diam-diam –entah ada yang menyadari atau tidak- proses pemiskinan dan pelaparan mulai menjalar sampai di desaku. Selama menunggu panenan terjual, makin banyak petani terjerat utang. Mang Ujang, bakul mindring, sore itu datang mengeluh kepadaku.

”Tolonglah saya Pak RT. Modal saya hampir habis. Saya kesulitan menagih utang orang-orang sini!” katanya agak mengiba.

”Mengapa harus saya, Mang? Bukankah saya tak punya urusan bisnis dengan Mang Ujang?” tanyaku.

”Pak RT kan orang berpengaruh. Pak RT bisa mendesak orang-orang sini untuk segera mengangsur. Kang Sarno itu malah sudah setahun belum membayar cicilan sama sekali. Setiap kali saya tagih, Kang Sarno malah mengacungkan parangnya!”

”Mang Ujang juga tahu, kan, sudah lama kami kesulitan uang. Coba tebak, siapa hari ini yang masih makan nasi? Saya jamin tak ada lagi orang makan nasi!”

Mang Ujang Cuma termangu. Lalu merentangkan kedua tangan dan mengangkat bahu. Kubiarkan Mang Ujang berlalu, menembus debu yang berterbangan tertiup angin kemarau. Desaku meamng tengah meradang. Ladang-ladang meranggas. Tanaman tembakau tinggal menyisakan daun protholan. Sogol-sogol mulai mengering, sebentar lagi layu.

Kuingat kembali nasib Kang Sarno. Sekilas masih terbayang semburat kekecewaan di wajahnya. Wajah yang selalu terbakar matahari,menyembulkan otot di kedua keningnya, mengguratkan kehidupannya yang berat. Malah kalau kukatakan terus terang –ini sebetulnya menyangkut wadi Kang Sarno- sendi kehidupannya mulai goyah sejak kepergian istrinya. Pergi bersama lelaki kota karena tak tahan menanggung beban hidup keluarga Kang Sarno. Tapi aku memang tak dapat berbuat banyak.

September tinggal sehari. Langit pagi makin terang. Kutarik isapan terakhir rokok kretekku. Aku baru akan beranja ke dapur, mengambil parang dan menyusul Kang Sarno, ketika orang-orang ribut di jalan.

”Kebakaran! Kebakaran!” beberapa orang berseru.

Aku pun bergegas keluar rumah. Memandangi arah yang mereka ributkan. Ah! Itu memang kebakaran. Langit terlalu dekat jika dianggap baru menerbitkan matahari. Asap yang tebal meyakinkan aku bahwa itu bukan ampak-amapak. Aku terkesiap. Jika memang kebakaran, pasti berasal dari lembah di balik bukit sebelah. Mungkin dari ladangku. Atau………..

”saudara-saudara, marilah kita mendekat!”

Dengan nafas tersengal, setelah melewati sebuah bukit kami sampai pada sumber api. Aku tergetar. Persis di sebelah ladangku, sogol-sogol bertumbangan, terserak di mana-mana. Di tengah ladang, api masih menyala. Lidahnya setinggi orang dewasa. Samar-samar di antara asap ada bayangan menggeliat.

* * *

Sogol         : Batang tembakau yang hampir mengering setelah habis dipanen daunnya

Srinthil   : Jenis tembakau istimewa, tidak selalu muncul pada setiap musim tanam; mempunyai kepekatan tinggi dibanding tembakau biasa; oleh pemilik gudang, srinthil biasa ditaruh pada lantai untuk mempengaruhi aroma tembakau.

One thought on “Sogol

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s