Film [?]


.net

Film Tanda Tanya [?] yang merupakan film besutan sutradara Hanung Bramantyo telah beredar di bioskop-bioskop  Nusantara terhitung sejak tanggal 7 April 2011. Begitu film yang dibintangi oleh sederet artis seperti Reza rahadian, Revalina S. Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Glenn Fredly dan beberapa pemain lainnya ini beredar, berbagai reaksi pro kontra pun mulai bermunculan.

Salah satunya seperti yang diberitakan melalui Kompas.com dengan headlinenya yag berjudul “Film “Tanda Tanya” Dikecam Banser NU”   (http://oase.kompas.com/read/2011/04/07/08240674/Film.Tanda.Tanya.Dikecam.Banser.NU).

Menurut  Sekretaris Satkorcab Banser Kota Surabaya, M Hasyim As’ari,  protes tersebut dilakukan karena dalam film tersebut Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.  Dalam film tersebut, Banser versi Hanung digambarkan sebagai sosok yang mudah cemburu dan dangkal pengetahuannya.

Selain dari NU, kritik lainnya juga disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut MUI  yang diwakili oleh  KH. A. Cholil Ridwan, Ketua MUI bidang budaya,  film garapan sutradara muda Hanung Brahmantyo tersebut telah menyebarkan paham pluralisme agama, padahal menurutnya pluralisme merupakan  paham yang salah dan haram bagi umat Islam.

Bagi beberapa orang, penggambaran para tokoh dengan konfliknya masing-masing yang akhirnya bermuara pada satu tema besar mengenai toleransi antar umat beragama yang ditampilkan dalam film yang diproduksi oleh DAPUR FILM ini memang terkesan berlebihan.

Ada beberapa adegan dalam film tanda tanya yang sepertinya mustahil untuk benar-benar kita temukan dalam kehidupan nyata di negeri ini,  salah satunya ketika tokoh Soleh (Reza Rahadian) bekerja menjadi anggota Banser. Dalam film tersebut digambarkan seolah-olah peran sebagai anggota Banser NU adalah sebuah pekerjaan untuk mencari uang, padahal sejatinya anggota banser adalah murni pengabdian dan tidak digaji.

Namun, bukankah unsur berlebihan itu sendiri yang menjadi daya tarik dari sebuah karya film?

Hampir semua film  yang ada di negeri ini maupun yang diproduksi oleh Hollywood sekalipun selalu menggambarkan cerita secara berlebihan. Misalnya orang dibom atau ditembak tapi tidak mati, ditabrak mobil tapi tidak luka sama sekali, dan lain sebagainya. Dengan unsur  berlebihan itu, sebenarnya nampak sekali bahwa sutradara ataupun produser membutuhkan sebuah rantai cerita yang dapat membawa penonton kepada sebuah tema tatu pesan  yang hendak disampaikan.

Berbagai kritik pedas yang muncul terhadap film ini pun saya pikir cukup masuk akal,  namun saya lebih melihat hal tersebut sebagai sebuah Paranoia dari beberapa pihak yang ketakutan terhadap paham pluralisme. Seandainya MUI mau bersikap objektif, harusnya mereka juga brtanya  apakah selama ini film-film yang membawa tema-tema horor sudah sesuai dengan kaidah-kaidah Islam? bukankah genre-genre film semacam itu ketika diputar terlalu banyak di Indonesia justru akan melemahkan mental anak bangsa?

Saya pikir, NU sebagai sebuah ormas Islam terbesar di negeri ini pun seharusnya tak perlu kuatir nama baik mereka akan tercoreng karena film ini, sebab bagaimanapun juga NU telah mampu mendidik semua kadernya di masyarakat untuk cerdas dalam menilai mana tayangan yang layak dan mana yang tidak layak untuk ditonton.

Berbagai reaksi yang berlebihan yang muncul di masyarakat, saya kira justru melecehkan masyarakat kita sendiri. Sebab mayarakat sendiri telah mampu memilah-milah mana film yang bagus dan mana yang tidak untuk mereka saksikan . Dengan memberikan reaksi yang berlebihan, saya jadi berpikir apakah masyarakat kita sudah dianggap tak berotak dan tak bisa berpikir sehingga harus muincul paranoia sepertitu?

Toleransi antar Umat Beragama

Dalam film [?] Dikisahkan bahwa  terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun  memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan  dengan  Surya, pemuda yang belum pernah menikah.

Masing-masing  tokoh tersebut mewakili beberapa kelompok besar dalam masyarakat indonesia yaitu Muslim, Kristen/Katolik, dan Tionghoa  (yang umumnya beragama Budha dan Kong hu cu).

Dalam kehidupan sebenarnya, harus diakui bahwa selama ini cukup  banyak konflik yang terjadi yang melibatkan kelompok-kelompok tersebut. Konflik-konflik tersebut banyak di ekspos di media cetak maupun elektronik, namun saya yakin bahwa sebenarnya masih banyak lagi konflik yang tidak muncul di media. Konflik antar kelompok adalah sebuah fenomena gunung es yang harus diselesaikan .

Melalui film ini, Hanung nampak seperti telah kehilangan kepercayaannya pada pemerintah karena belum bisa menuntaskan berbagai konflik antar umat beragama dan memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok minoritas, oleh karena itu maka dirinya kemudian berharap agar masyarakat sendiri bisa secara dewasa  menilai dan kemudian bertindak positif dengan melakukan penghargaan terhadap kelompok lain.

Hal ini digambarkan secara jelas pada adegan ketika Surya (Agus kuncoro) menjadi pemeran Yesus dalam drama penyaliban yang diselenggarakan di gereja Rika (Endhita). Dalam adegan tersebut  muncullah tokoh Doni (Glenn Fredly) yang kemudian menolak kehadiran surya yang beragama muslim sebagai pemeran tokoh Yesus dalam drama penyaliban. Konflik tersebut kemudian diselesaikan secara arif oleh Pastor yang dengan singkat dan lugas mengatakan bahwa konflik yang selama ini muncul di antara kelompok-kelompok beragama bukanlah karena adanya perbedaan, tapi justru karena kebodohan masing-masing orang yang merasa dirinya benar.

Saya juga tidak sependapat seandainya dikatakan bahwa film ini bertujuan untuk menyebarkan paham pluralisme. Justru menurut saya, tujuan besar yang ada di dalam film ini adalah agar masyarakat bisa saling menghargai sekalipun dipisahkan oleh perbedaan keyakinan, saling menolong sekalipun berbeda agama.

Terkait dengan narasi “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” yang disampaikan dalam film ini, saya tidak berpikir bahwa hal tersebut adalah untuk menyatakan bahwa tuhannya orang kristen, orang islam, konghucu, dan budha itu sama. Justru dalam narasi terebut saya melihat kata “TUHAN” bukanlah pada sosok/identitasNya yang berbeda dalam masing-masing agama. Saya justru melihat Kata “TUHAN” dalam narasi tersebut menggambarkan segala sikap-sikap baik yang bersumber dari TUHAN. Tuhan Yang maha Baik, Mahe pengasih, Maha penyayang, maha mengampuni dan lain sebagainya. Dan sebagai umat, seharusnya kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang baik, pengasih, penyayang, pengampun, dan semua sikap-sikap baik lainnya yang bersumber dari Ilahi yang salah satunya juga adalah sikap toleran terhadap kelompok beragama yang lain.

Secara keseluruhan, saya merasa cukup terhibur dengan film ini. Bagi saya, kehadiran film ini cukup menjadi obat bagi kejenuhan kita terhadap kualitas film nasional yang begitu-begitu saja.

Dalam menilai dan mengapresiasi sebuah karya film, ada baiknya kita melakukannya seperti menyelam ke dalam laut tanpa harus meminum airnya. Terbuka pada semua informasi dan paham tanpa harus terpengaruh oleh paham tersebut. akhir kata, apapun filmnya nontonlah dengan cerdas, membuka diri, dan bijak.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s