Ulat bulu, Satu orang lepas satu burung


.net

Sudah sebulan lamanya  wabah ulat bulu terjadi di Indonesia. Selama jangka waktu tersebut, wilayah penyebarannya telah meluas hingga ke beberapa daerah. Bila sebelumnya serangan ulat bulu terjadi di Probolinggo, kini binatang yang bulunya bisa menyebabkan gatal-gatal pada kulit ini juga sudah menyerang kawasan lain seperti di Sukoharjo, Sleman, DKI  Jakarta, dan Bali.

Beberapa tahun silam, serangan ulat bulu merupakan hal yang lazim ditemui di beberapa daerah, namun pada saat itu jumlahnya memang tak sebanyak yang terjadi akhir2 ini. Saya masih ingat betul Pada pertengahan tahun 90’an ketika masih SD, pada bulan-bulan tertentu kota Malang juga “dikunjungi” oleh ulat bulu yang cukup banyak. Hanya saja pada saat itu ulat-ulat bulu tidak sampai menempel di tembok-tembok rumah dan menyerang pemukiman penduduk,  Mereka pada umumnya hanya menyerang pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.

Fenomena Serangan ulat bulu tersebut pun tidak berlangsung lama, dalam jangka waktu satu hingga satu setengah bulan, ulat-ulat bulu tersebut telah menghilang (berevolusi menjadi kupu-kupu).

Hal inilah yang sangat berbeda dibandingkan dengan apa yang terjadi sekarang. selain jumlahnya yang meningkat drastis, pola perilaku ulat-ulat bulu pun telah berubah. Kini mereka tak hanya menyerang pohon dan tumbuh-tumbuhan, tetapi juga  menyerang pemukiman penduduk secara besar-besaran. Menurut para ahli, hal ini disebabkan karena pepohonan yang dijadikan inang oleh ulat-ulat tersebut tak sanggup lagi menopang jumlah ulat bulu yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan ekor. Hal ini menjadi bukti bahwa alam telah gagal menyelesaikan permasalahan ini secara “alami”.

Kegagalan tersebut pada akhirnya juga berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam hal kesehatan, kenyamanan, dan perekonomian.

Dalam hal kesehatan, tentu saja serangan ulat bulu ini menyebabkan terjadinya gatal-gatal yang disertai dengan panas pada kulit. di probolinggo sendiri, pemerintah setempat mengatasinya dengan cara memberikan pengobatan gratis kepada mereka yang menderita gatal-gatal karena ulat bulu.

Sementara itu Dalam hal kenyamanan, serangan ulat bulu juga menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. Setiap hari mereka harus sibuk membersihkan tembok-tembok rumah mereka dari serangan ulat bulu baik dengan menggunakan semprotan pestisida maupun dengan alat sederhana seperti sapu.

Selain mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat, serangan ulat bulu juga berimbas pada perekonomian masyarakat di beberapa daerah. Seperti di Probolinggo misalnya, di tempat ini ulat-ulat bulu banyak menyerang pohon-pohon mangga yang ditanam oleh masyarakat. Seperti diketahui, probolinggo sendiri merupakan salah satu kota penghasil mangga terbesar di Jawa timur. Dengan adanya serangan ulat bulu, bisa dipastikan bahwa pohon-pohon mangga yang ditanam oleh masyarakat pun menjadi rusak dan kemungkinan terburuk adalah terjadinya gagal panen.

Kegagalan alam dan manusia
Menurut para ahli, Serangan ulat bulu yang terjadi akhir-akhir ini salah satunya disebabkan karena keseimbangan ekosistem yang rusak. kerusakan ekosistem tersebut tak lain adalah berkurangnya jumlah predator pemakan ulat dan serangga yang selama ini menjadi pengendali populasi ulat dan serangga. Predator seperti burung prenjak misalnya, jumlahnya kini telah jauh berkurang akibat perburuan (perburuan itu umumnya untuk dijual atau dagingnya dikonsumsi untuk lauk makan). Dulu, setiap pagi di depan rumah saya biasanya akan terdengar kicauan burung prenjak yang cukup nyaring dan banyak. Kini, hal itu seolah-olah menjadi hal yang cukup langka untuk ditemukan.

Selain berkurangnya jumlah predator di alam, beberapa pakar juga menilai serangan ulat bulu ini disebabkan karena terjadinya erupsi gunung. Menurut mereka, serangkaian erupsi gunung berapi yang terjadi belakangan ini menyebabkan kupu-kupu yang ada di kawasan sekitar gunung menyelamatkan diri dari erupsi dan dampak erupsi (gas beracun, suhu panas) di sekitar gunung. Akhirnya, kupu-kupu tersebut bermigrasi ke kawasan pemukiman warga dan bertelur di pepohonan yang mereka temui (Untuk diketahui, satu ekor kupu-kupu dapat menghasilkan telur hingga ratusan).

Menurut peneliti ekologi serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)yang disampaikan melalui harian kOmpas yang terbit pada tanggal 9 april 2011, Karena terjadi kerusakan habitat, kupu-kupu atau ngengat yang semula tinggal di dataran tinggi “turun gunung”. Serangga penyuka tanaman tinggi bukan semak atau pertanian itu meletakkan telurnya pada tanaman inang, dalam hal ini mangga di probolinggo dan mindi di Banyuwangi.

Pancaroba dari musim hujan ke kemarau sejak bulan lalu membuat telur-telur menetas lebih cepat, satu ekor ngengat rata-rata bertelur hingga 300 butir.

Telur-telur yang jumlahnya kemudian terakumulasi hingga ratusan ribu bahkan jutaan tersebut selanjutnya menetas dan berubah menjadi ulat bulu.
Sesuai dengan siklus hidup ulat, semestinya dalam pekan keempat ulat sudah berubah menjadi ngengat, namun karena curah hujan yang cukup tinggi, maka ulat gagal bermetamorfosa.

Kegagalan alam dalam mengendalikan ledakan populasi ulat bulu, tak lain juga merupakan akibat dari kegagalan manusia itu sendiri dalam mengelola alam. Kegagalan tersebut tercermin dari perilaku masyarakat yang masih suka melakukan perburuan burung sehingga populasi predator pun jauh berkurang. Selain itu, pembalakan hutan secara besar-besaran secara tak langsung juga mendorong ngengat dan kupu-kupu untuk melakukan migrasi ke kawasan pemukiman penduduk.

Masyarakat pun akhirnya dibuat kewalahan, dan beberapa pihak pun mulai sadar dan melakukan beberapa tindakan untuk menyelamatkan lingkungannya dari wabah ini. Salah satunya dengan melepasliarkan kembali burung-burung yang selama ini mereka pelihara. Selain itu, pemerintah daerah juga berinisiatif untuk menerbitkan perda yang melarang dilakukannya perburuan burung.

Terlepas dari kegagalan manusia dalam mengelola alam, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut merupakan Satu langkah positif yang harus diapresiasi dan digalakkan di daerah-daerah lainnya.

Satu orang untuk satu burung

.net

Jumlah populasi burung pemakan serangga yang semakin berkurang, mendorong masyarakat untuk melepaskan kembali burung-burung peliharaan dengan harapan dapat menekan ledakan populasi ulat bulu.

Seandainya saja, 10 persen saja dari masyarakat negeri ini yang berinisiatif melepaskan satu ekor burung dalam kurun waktu sebulan, maka dalam kurun waktu tersebut sebanyak 23 juta ekor burung akan kembali ke habitatnya yang alami dan melaksanakan perannya untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Pagi ini, saya menyempatkan diri mengunjungi kawasan pasar burung di Kota Malang. Di tempat ini bisa ditemui berbagai jenis burung baik pemakan serangga maupun biji-bijian.
Di tempat ini, burung jenis prenjak yang merupakan salah satu jenis burung pemakan serangga dijual dengan harga rata-rata lima ribu rupiah. Sementara itu, burung kutilang yang juga pemakan serangga dijual dengan harga rata-rata 25 ribu rupiah. Saya memutuskan untuk membeli dua ekor burung prenjak yang tak lama kemudian saya lepasliarkan ke alam bebas.

Dengan melakukan ini, efeknya tidak akan langsung terlihat, namun dalam jangka panjang saya berharap setidaknya tindakan ini dapat menjadikan Malang berkicau lagi. Saya tidak terlalu berharap tindakan ini akan dapat mengendalikan populasi serangga dan ngengat di kota Malang, namun seandainya sepuluh persen saja dari keseluruhan populasi warga malang melakukan hal yang sama, maka bayangkan saja hal tersebut akan dapat mengembalikan keseimbangan ekosistem di Lingkungan sekitar kita.

Sepuluh ribu adalah harga yang terlalu sedikit yang bisa kita lakukan untuk alam, namun setidaknya dengan uang sekecil itu kita telah melakukan sesuatu untuk alam. Jadi, saya berharap tindakan ini bisa ditiru olah banyak orang dan perlahan-lahan kita menjadi orang-orang yang menghargai dan mencintai alam. Satu orang melepas satu ekor burung adalah tindakan kecil, namun dari satu tindakan kecili itu kita bisa berharap akan terjadi perubahan yang nyata.

Kita hidup berdampingan dengan alam, jangan rampas apa yang menjadi hak milik alam, kembalikan apa yang menjadi hak alam kepada alam! Satu orang untuk satu burung!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s