Sedikit Coretan Tentang Segara Anakan, Pulau Sempu


Beberapa hari yang lalu saya kembali mengunjungi Segara Anakan, sebuah pantai kecil yang “terjebak” di dalam kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Kunjungan saya saat itu adalah kunjungan yang ke sekian sejak pertama kali menginjakkan kaki disana tahun 2002 silam. Sembilan tahun berlalu, dan bisa saya katakan banyak yang telah berubah dari pantai yang dulu saya anggap sebagai “Phuket”nya Jawa Timur.

***

Saya dan lima rekan berangkat sekitar pukul 09.45 WIB dari starting point di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Dengan mengendarai tiga buah motor, kami menyempatkan isi bensin dulu di SPBU Tlogomas, Malang. Dengan motor Suprafit yang saya tumpangi, saya membutuhkan uang 15 ribu perak untuk mengisi tangki bensin hingga penuh (percayalah, bensin baru benar-benar habis begitu tiba kembali ke Malang keesokan harinya).

Perjalanan kami lanjutkan kembali melewati rute Bululawang-Turen. Belum jauh dari pertigaan PT Pindad, salah satu motor yang dikendarai rekan saya mengalami kebocoran ban. Terpaksa, kami harus menunggu sekitar setengah jam lamanya untuk menunggu tukang tambal ban selesai mengerjakan tugasnya.

Usai menambal ban di Kecamatan Turen, perjalanan kembali kami lanjutkan hingga melewati Kecamatan Sumbermanjing Wetan.setelah melintasi beberapa desa di kecamatan tersebut, sekitar pukul 11.15 WIB kami akhirnya tiba di pantai Sendang Biru, tempat para penarik kapal menyewakan kapalnya untuk membawa para pengunjung menyeberang ke Pulau Sempu.

Sebelum menyeberang, kami titipkan dulu motor kami di rumah seorang warga yang menyewakan ruang belakang rumahnya –yang bagian depannya juga digunakan untuk membuka toko makanan dan minuman. Setahu saya pemilik warung bernama bu Mamik– untuk dijadikan lahan parkir bagi para pengunjung yang hendak berkemah di pulau Sempu. Untuk jasa itu, pemilik rumah menetapkan tarif Rp 5000 semalam. Selesai memarkir motor, kami menyempatkan membeli sepotong ikan Tongkol yang dijual di TPI (Tempat Pelelangan Ikan), sebelah timur tempat kami memarkir kendaraan. Rencananya, ikan tersebut akan kami jadikan hidangan makan malam kami yang akan menginap selama semalam di Segara Anakan. Selain itu, kami juga harus menambah persediaan air tawar yang kami miliki agar tak kehausan selama disana (setahu saya, satu-satunya sumber air tawar di Sempu yang bisa dimanfaatkan terletak di Telaga Lele. Tapi untuk menjangkaunya dari Segara Anakan, dibutuhkan waktu yang cukup lama).

Tepat pukul 13.00 WIB, kami bersiap menyeberang ke Sempu. Dengan membayar uang sewa kapal Rp 100 ribu, kami diantarkan menuju Teluk Semut, pintu masuk menuju Segara Anakan. Dengan tarif sebesar itu, pemilik kapal berjanji akan menjemput kami keesokan harinya, sesuai permintaan kami.

Tiba di Teluk Semut sekitar Pk 13.11 WIB, perjalanan kami lanjutkan ke arah selatan. Perjalanan menuju Segara Anakan tidaklah terlampau sulit, sebab jalan setapak sudah sedemikian terbuka lebar menuntun para pengunjung menuju ke lokasi tersebut.

Kata seorang rekan yang sudah berkali-kali menembus hutan, kawasan cagar alam Pulau Sempu bisa dibilang sebagai hutan sekunder (telah terganggu baik secara alami maupun tidak).

Dengan kecepatan berjalan kami yang cukup santai, kami akhirnya tiba di Segara Anakan sekitar pukul 14.30 WIB dan langsung mendirikan tenda yang telah kami bawa. Namun, begitu tiba disana, saya sadar telah banyak yang berubah dari pantai ini ketimbang saat pertama kalinya saya datang berkunjung sembilan tahun lalu.

***

Libur lebaran yang berlangsung cukup lama rupanya membawa dampak yang cukup besar bagi Pulau Sempu, Sebab dengan itu jumlah pengunjung yang datang ke pulau Sempu mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Hal itu setidaknya terlontar dari mulut penarik kapal yang membawa kami menyeberang.

“kalau liburan kaya’ gini memang ramai yang datang ke Sempu. Sehari saya bisa ngangkut penumpang ke Sempu lebih dari empat rit,” kata Suwarno, penarik kapal yang belakangan mengaku hanya menjadi buruh nelayan dengan upah Rp 25 ribu untuk satu rit.

Selain memberikan keuntungan ekonomis bagi para buruh penarik kapal, lonjakan jumlah pengunjung juga membawa dampak memprihatinkan bagi pulau Sempu. Sepanjang perjalanan yang kami lalui, sampah-sampah plastik sisa mie instan atau makanan ringan banyak terlihat di antara tumpukan daun. Hal yang sama juga terjadi di Segara Anakan yang di sepanjang garis pantainya memang sering dijadikan tempat oleh para pengunjung untuk berkemah. Disana, sampah-sampah plastik seperti botol air mineral, bungkus makanan dari plastik, botol minuman keras, dll (bahkan yang cukup menyedihkan, saya sempat mendengar celetukan pengunjung lain yang mengaku menemukan kondom bekas di dekat tendanya). Sampah-sampah itu tak hanya tersebar di atas pasir, namun tak sedikit pula darinya yang dibuang seenaknya ke dalam air pantai Segara Anakan.

Selain itu, beberapa pengunjung yang menurut saya norak juga merusak terumbu karang di dasar pantai (kebetulan saat kami datang, air benar-benar sedang surut sehingga jajaran terumbu karang di dalam pantai muncul ke atas permukaan air) dengan cara mengangkat dan memindah-mindahkannya. Tujuannya tak lain untuk menemukan ikan hias atau batu karang indah yang bisa dibawa pulang.

Yang lebih norak lagi, di beberapa sudut karang tepi pantai juga bisa ditemukan coretan-coretan yang dibuat menggunakan cat olah tangan-tangan iseng. Saya jadi berpikir kalau mereka-mereka yang melakukan ini ingin meninggalkan sedikit kenang-kenangan yang bisa mereka lihat lagi bila kelak mampir kembali ke Segara Anakan, atau memang ingin memamerkan eksistensinya (seolah berkata, “ini loh, saya pernah datang kesini dulu”).

Ada sedikit cerita menarik tentang membludaknya jumlah pengunjung yang memasuki kawasan cagar alam pulau Sempu ini. Seperti kedatangan-kedatangan saya sebelumnya, pada kunjungan saya yang terakhir itu tak lupa kami melapor dulu kepada Polisi Hutan yang salah satu tugasnya adalah mengawasi setiap pengunjung yang memasuki kawasan tersebut. Saat kami melapor, petugas -yang curiga kami akan melakukan peliputan di kawasan Sempu- itu mengungkapkan bahwa sebenarnya kawasan Sempu tidak boleh dimasuki tanpa surat ijin yang diberikan oleh BKSDA  Jatim. Dengan kata lain, tidak sembarangan wisatawan bisa masuk kesana kecuali memiliki tujuan yang jelas seperti penelitian misalnya. Namun melihat antusiasme masyarakat yang berkeras ingin masuk ke kawasan tersebut, maka tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya.

“Seharusnya Sempu nggak boleh dimasuki wisatawan, tapi kami nggak bisa berbuat apa-apa saking banyaknya orang yang pingin kesana,” ujar petugas tersebut.

Disinilah akhirnya bisa saya simpulkan bahwa sejak lama Pengelola kawasan cagar alam pulau Sempu memang tidak berdaya menghadapi keinginan banyak orang yang berbondong-bondong ingin memasuki kawasan Sempu. Mungkin karena itu pula, papan peringatan untuk tidak merusak kawasan Cagar alam ini yang dulu masih terpasang di teluk semut, kini sudah menghilang. Akibatnya seperti sudah bisa ditebak, kerusakan wisata cagar alam pulau Sempu hanya tinggal menunggu waktu.

 

Sedikit bernostalgia, sembilan tahun lalu saat pertama kali datang mengunjungi Pulau Sempu, saya merasa bahwa tempat ini adalah salah satu surga tersembunyi yang dimiliki jawa timur. Kala itu, tak banyak orang yang datang mengunjunginya sehingga belum banyak sampah dan coretan di dinding karang yang bisa ditemui. Begitu pula saat snorkling, terumbu-terumbu karang cantik masih bisa didapati di kawasan Segara Anakan. Maka, melihat perubahan kondisinya yang sekarang, saya sangat setuju bila nantinya ijin memasuki kawasan ini semakin diperketat sehingga tak sembarangan orang bisa masuk ke dalam pulau Sempu. Saya pikir, keselamatan ekosistem di kawasan ini harus terlebih dulu mendapat prioritas dibanding penguatan sektor wisatanya.

note : Sengaja tak saya pasang gambar di tulisan ini, karena saya yakin ada ratusan gambar kawasan ini yang bisa pembaca peroleh melalui Google.

3 thoughts on “Sedikit Coretan Tentang Segara Anakan, Pulau Sempu

  1. orang2 inilah yg blm mengerti arti pentingnya ekosistem….klo bener2 campers, hanya jejak langkah yg ditinggal….tanpa sampah dan coretan2 ga jlas…btw, nov ini saya plan mo backpacker ke sempu ,soalnya masih di laut sekarang…mungkin ada yg minat join dari solo?

  2. sejutu sekali dgn tulisan ini.
    saat pertama kali ke sempu, pantai ini luar biasa, gak bakal menyesal capek2 ke malang selatan yang jalannya masih banyak berlubang dan berjalan kaki menyebrang pulau berjam-jam.
    tp 2010 lalu saya ke sana lagi dan perubahannya udah cukup drastis.
    sampah berserakan dimana-mana dan banyak orang super katrok yg ninggalin jejak lewat vandalisme.
    mungkin benar, sudah saatnya pulau ini ditutup untuk umum dan dibersihkan..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s