Travel Story To Karimunjawa (Part I)


Perjalanan darat yang cukup melelahkan selama tak kurang dari sepuluh jam dari Malang, seakan hilang seketika saat pintu kapal Bahari Express terbuka dan menunjukkan wajah pulau Karimun. Begitu melihat wajahnya, saya langsung tahu bahwa saya telah jatuh cinta pada pulau yang menjadi salah satu gugusan kepulauan Karimunjawa ini.

Perjalanan menuju Karimunjawa saya mulai dari terminal Arjosari, Kota Malang, pada pukul 19.00 WIB dengan menumpang Bis Patas AC jurusan Surabaya. Jam tersebut saya pilih karena informasinya Bis PO Indonesia jurusan Surabaya – Jepara, terakhir berangkat pukul 21.30 WIB. Beruntung, saya tiba di Terminal Purabaya, Surabaya, sekitar pukul 21.00 WIB, atau  setengah jam lebih awal dari jadwal keberangkatan terakhir. Tak mau lebih lama menunggu, saya langsung mendatangi satu-satunya bis tersebut, yang masih terparkir di luar jalur keberangkatan. Bis masih lowong, sebab calon penumpang lain yang hendak berangkat dengan tujuan Jepara, lebih banyak memilih untuk menunggu di ruang tunggu, setidaknya sampai bis bergerak memasuki jalur pemberangkatan. Tapi meski masih lowong, saya justru memilih tempat duduk paling belakang, yang khusus disiapkan untuk para perokok. Meski diberi keleluasaan untuk merokok, toh pada kenyataannya selama perjalanan saya hanya menghisap dua batang rokok filter.

Tepat pukul 21.30 WIB bis akhirnya berangkat. Seiring gerak roda, di dalam kepala saya muncul harapan, semoga perjalanan ini tak menjadi sia-sia. Apalagi, untuk berangkat ke Karimunjawa, saya harus menghabiskan jatah tiga hari cuti. Belum lagi saya berangkat dalam kondisi lelah setelah sejak pagi keliling kota Malang untuk tugas peliputan.

Perjalanan ke Jepara dengan Bis PO Indonesia ditempuh melalui jalur Pantura. Tepat tengah malam, bis berhenti di salah satu rumah makan, di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Kebetulan sekali, waktu itu perut memang mulai merasa tak bisa diajak kompromi, dan jantung mulai membutuhkan asupan kafein. Setelah kurang lebih setengah jam menikmati sepiring nasi rawon dengan rasa yang ala kadarnya dan secangkir kopi yang juga biasa-biasa saja, perjalanan non stop menuju Jepara akhirnya berlanjut.

Sekitar pukul 05.30 WIB keesokan harinya, bis tiba di terminal Jepara. Terlalu pagi buat saya, karena Kapal Motor Bahari Express yang hendak membawa menyeberang ke Karimunjawa, baru akan berangkat pukul 14.00 WIB. Tapi bagi sopir, kondektur bis, dan beberapa penumpang lainnya, perjalanan itu terlalu lama. Karena seandainya tidak terjebak macet selama sejam di Pantura, maka bis semestinya tiba di terminal Jepara sekitar pukul 04.30 WIB.

Di terminal, dengan sedikit mengantuk karena selama perjalanan tak sanggup tidur nyenyak, langkah kaki langsung membawa saya ke salah satu warung emperan. Ditemani secangkir kopi hangat, dua buah pisang rebus, serta sebatang rokok, saya menyempatkan diri ngobrol dengan pemilik warung. Itu sekedar untuk mengorek beberapa informasi tambahan seputar Karimunjawa. “Kalau mau ke Karimunjawa, nyebrangnya lewat dermaga Kartini. Dari sini bisa naik becak, bayarnya cuma 15.000,” kata bapak pemilik warung yang lupa saya tanyakan siapa namanya. Saat mengatakan itu, sang bapak menunjuk seorang pria di sebelahnya yang ternyata adalah penarik becak.

Sejam mengobrol, saya lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Dermaga Kartini. Ketika kopi dan pisang saya bayar dan tas ransel berukuran 40 liter saya angkat, si bapak penarik becak spontan mendekat dan menawarkan jasanya untuk membawa saya ke Dermaga Kartini.  Namun karena merasa jadwal keberangkatan KM Bahari Express masih terlalu lama, saya putuskan untuk secara halus menolak tawaran tersebut. “Kulo mlampah mawon pak (saya jalan kaki saja pak),” begitu ujar saya kala itu.

Dijawab demikian, si bapak penarik becak yang berambut cepak itu seolah tak rela. Ia meyakinkan saya bahwa perjalanan dari terminal ke pelabuhan dengan jalan kaki akan melelahkan karena menempuh waktu yang tak sebentar.  “Mboten nopo pak, sampun biasa mlampah kok (Tidak apa-apa pak, sudah biasa jalan kaki kok),” tukas saya lagi.

Semula, saya memang berpikir bahwa apa yang disampaikan si bapak penarik becak ini hanya akal-akalan belaka untuk mendapatkan penumpang. Tapi setelah hampir setengah jalan, saya baru sadar bahwa memang perjalanan cukup jauh.  Meski begitu, toh saya masih memutuskan untuk  terus melanjutkan berjalan kaki. Setelah coba  mengeksplorasi Google Maps, baru saya tahu kalau jarak dari terminal menuju dermaga Kartini adalah sejauh 5,6 Km!

Sedikit gambaran mengenai biaya, khusus untuk keberangkatan dari Malang ke Dermaga Kartini, saya menghabiskan biaya Rp 85.000, dengan rincian Rp 20.000 untuk menumpang Bis Patas AC jurusan Malang – Surabaya, dan Rp 65.000 untuk menumpang Bis Patas Indonesia jurusan Surabaya – Jepara. Biaya ini pun masih bisa dikepras dengan menumpang bis ekonomi dari Malang menuju Surabaya, yang tarifnya hanya Rp 10.000. Tapi, waktu itu saya tak mau ambil resiko ketinggalan Bis Indonesia yang terakhir berangkat pukul 21.30 WIB. Karena dengan mengendarai bis Ekonomi, artinya bis bisa sewaktu-waktu berhenti di sembarang tempat, untuk mengangkut ataupun menurunkan penumpang. Lalu, seandainya dari terminal Jepara ke Dermaga Kartini saya memutuskan untuk menggunakan jasa penarik becak, maka kemungkinan biaya transportasi yang saya keluarkan akan membengkak menjadi Rp 100.000. Itu dengan asumsi tarif becak mencapai Rp 15.000.

Sejam kemudian saya baru tiba di dermaga Kartini. Tujuan pertama saat itu adalah warung makan. Dari jarak agak jauh, warung yang belakangan saya ketahui populer dengan sebutan warung Pak Bambangt itu, terlihat seperti  tempat penampungan sementara para backpacker dan pelancong, yang sedang menunggu jam keberangkatan kapal ke Karimunjawa. Kalau tak salah lihat, saat itu ada tak kurang dari 20 orang. Dari pembicaraan mereka, saya tahu bahwa mereka sebagian berasal dari Jakarta, Bandung, dan Semarang. Selain itu, di antara mereka juga tampak beberapa mahasiswa asing. Dari bahasa yang mereka pakai, saya akhirnya tahu bahwa mereka berasal dari Korea, Belanda, dan Inggris (Bule-bule ini, ternyata nantinya juga menjadi rekan satu rombongan dengan saya, di Karimunjawa).

Untuk menghabiskan waktu sembari menunggu jam keberangkatan Bahari Express, rata-rata dari kami memilih untuk plesir sejenak ke Kura-Kura Ocean Park, yang masih terletak dalam satu kompleks Pantai Kartini. Kawasan ini adalah semacam wahana wisata keluarga yang memamerkan secuil kehidupan bawah laut. Setelah membeli tiket seharga Rp 12.500 (week day) pengunjung bisa menyaksikan beberapa akuarium yang menyimpan berbagai fauna bawah laut seperti Hiu, Penyu, dan aneka ikan laut lainnya. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati sensasi terapi ikan Nilem dengan tarif Rp 5000 persepuluh menit. Bila masih kurang puas, terapi bisa diperpanjang menjadi 30 menit dengan tarif Rp 15.000

Bangunan Kura-Kura Ocean Park di Pantai Kartini, Jepara

Di luar Kura-Kura Ocean Park, berjejeran banyak pedagang yang menjajakan aneka souvenir. Seperti  kerajinan kulit kerang  hingga T-Shirt bertuliskan Karimunjawa. Karena memang tak berniat untuk wisata belanja, keinginan membeli souvenir dan oleh-oleh ini saya kesampingkan.

Yap, sambil menunggu jadwal penyeberangan Bahari Express, saya mampir ke Kura-Kura Ocean Park untuk mencicipi terapi ikan yang kabarnya bisa membersihkan sel-sel kulit mati

Yah, setelah puas berjalan-jalan di kawasan Pantai Kartini dan mengunjungi Kura-Kura Ocean Park selama kurang lebih dua jam, saya memutuskan untuk kembali ke warung Pak Bambang untuk  menunggu jadwal keberangkatan Bahari Express. Setelah ini, cerita perjalanan menuju ke Karimunjawa akan saya lanjutkan. See you readers!

4 thoughts on “Travel Story To Karimunjawa (Part I)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s