Travel Story To Karimunjawa (Part 2) – Snorkeling! Snorkeling! Snorkeling!


Tak hanya merasakan hangatnya berlibur, selama tiga hari dua malam berada di Karimunjawa, saya bertemu  sahabat-sahabat baru. Dari mereka, saya mendengar banyak cerita tentang tempat-tempat baru yang tak kalah menarik, yang kelak juga harus saya jelajahi. Di antara heningnya gugusan Kepulauan ini pula, saya merenungkan banyak hal. Tentang cinta, masa depan, dan kehidupan…

Seperti dijanjikan sebelumnya, catatan perjalanan ke Karimunjawa akan saya lanjutkan dengan artikel kedua. Berbeda dari sebelumnya, tulisan ini akan banyak bercerita tentang pengalaman selama tiga hari dua malam berada di Karimunjawa.

Oke,perlu diketahui bahwa dalam perjalanan ke Karimunjawa, saya menggunakan jasa Agen Wisata, Karimunjawa Backpacker.  Pilihan itu sengaja diambil karena beberapa hal. Pertama, karena masih minimnya informasi seputar Karimunjawa yang saya kantongi, dan yang kedua karena pertimbangan kemudahan.

Perjalanan mandiri memang terlihat lebih menantang. Namun bagi yang belum paham seluk beluk tentang Karimunjawa, ada baiknya memang menggunakan jasa Agen Wisata yang saat ini telah banyak bermunculan, menawarkan paket-paket perjalanan wisata ke Karimunjawa. Karena semakin banyak agen wisata yang muncul dengan tawaran paket dan harga yang bervariasi, artinya semakin banyak pula pilihan bagi calon pengunjung. Dengan demikian, sejak awal kita juga bisa lebih mudah mengatur budget yang akan kita keluarkan selama dalam perjalanan.

Sedangkan perjalanan mandiri, meski terbilang menantang, namun bukannya tak mengandung banyak konsekuensi. Salah satu contohnya, dengan perjalanan mandiri ke Karimunjawa, artinya kita harus mencari sendiri tiket kapal pulang pergi dan tempat penginapan. Artinya, semakin banyak waktu yang harus dipersiapkan sebelum keberangkatan untuk mempersiapkan semua itu. Bagi mereka  yang memiliki banyak waktu luang, hal tersebut mungkin tidak begitu menjadi masalah. Tapi bagi yang mungkin sudah bekerja atau masih disibukkan dengan urusan sekolah dan kuliah,  bukan tidak mungkin tak sempat mengurus semua itu.

Konsekuensi lainnya bagi yang belum pernah sama sekali mengunjungi Karimunjawa, mungkin akan dibuat bingung dengan urusan budget mulai dari biaya perjalanan, penginapan, makan, dan biaya senang-senang (snorkeling, sewa perahu, dan lain sebagainya). Untuk urusan ini, lagi-lagi untuk yang belum pernah sekalipun datang ke Karimunjawa, bukan tak mungkin akan ditipu oleh orang-orang yang sengaja mencari keuntungan di air keruh.

Kembali ke topik.

Memanafaatkan jasa Karimunjawa Backpacker, saya mendapat harga Rp 650.000 untuk paket tiga hari dua malam. Paket ini, menyediakan fasilitas penyeberangan pulang pergi dengan KM Bahari Express, penginapan satu kamar per-orang, lima kali makan, dan kesempatan untuk snorkeling serta mengunjungi tempat penangkaran hiu dengan mengendarai perahu bermotor.

KM Bahari Express yang saya tumpangi, menyeberang dari dermaga Kartini tepat pukul 14.00 WIB. Begitu memasuki kapal, saya langsung memilih untuk duduk di geladak. Di tempat ini, selain atapnya terbuka, juga tak ada banyak kursi seperti di dalam kabin. Tetapi pilihan duduk di geladak ternyata bukanlah hal yang salah. Sebab saat kapal mulai bergerak, jumlah orang yang banyak tak tertampung di kabin penumpang, akhirnya memilih untuk mengungsi ke geladak, sekedar untuk mendapatkan tiupan angin segar. Semakin banyak orang yang pindah ke geladak, artinya semakin penuh pula geladak itu. Para penumpang yang pindah dari kabin yang padat, banyak yang hanya bisa duduk lesehan di lantai geladak. Sementara saya yang sejak awal memang sudah menguasai tempat duduk, bisa merasa lebih nyaman.

Hujan yang tak begitu deras, mewarnai penyeberangan hingga kami tiba di dermaga Karimun, dua jam kemudian atau sekitar pukul 16.00 WIB. Dari pelabuhan, oleh pihak Karimunjawa Backpacker kami langsung diantar menuju tempat kami akan menginap. Kenapa saya menyebut “kami”? sebab dari sekian banyak orang yang datang, ada sembilan orang lain yang tinggal satu penginapan dengan saya.

Begitu kami datang, listrik di tempat penginapan kami sedang padam. Usut punya usut, menurut ibu penjaga penginapan itu, listrik di rumah-rumah warga Pulau Karimun, memang selalu padam sejak pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Sementara, sel tenaga surya juga hanya dipakai untuk fasilitas penerangan jalan umum. Karena kami tiba sekitar pukul 16.00 WIB, artinya kami masih harus menunggu dua jam untuk mengisi baterai ponsel dan aneka gadget, milik kami masing-masing yang telah banyak berkurang selama dalam perjalanan.

Hari pertama di Karimunjawa, tak ada agenda kegiatan yang dijadwalkan untuk kami. Artinya, usai makan malam sekitar pukul 19.00 WIB, kami memiliki banyak waktu untuk tidur. Mempersiapkan tenaga untuk agenda Snorkeling esok pagi.

Hari Kedua di Karimunjawa, Snorkeling!!!

Mungkin karena terlalu lelah, istirahat malam pertama kami di Karimunjawa begitu pulas. Saya bangun pukul 05.30 WIB. Masih ada cukup waktu untuk mandi dan sarapan, sebelum berangkat snorkeling.

Pukul 08.00 WIB setelah mandi, sarapan, dan menikmati segelas kopi buatan sendiri (saya harus buat sendiri dengan kopi sachet karena pemilik penginapan hanya menyediakan hidangan teh celup), Wahyu, pemandu wisata kami datang. Selain menjadi pemandu bersama dua rekannya yang lain, Wahyu jugalah yang nantinya akan mengambil gambar underwater kami selama melakukan snorkeling.

Singkat kata, dari dermaga kami langsung dinaikkan ke atas perahu motor berkapasitas maksimal 15 orang. Selain Wahyu, pengemudi perahu, di perahu itu juga ada dua orang lainnya yang tampaknya memang bertugas mengatur jadwal kami. Salah satu diantaranya, saya ingat bernama Gugik. Satu orang lagi saya lupa siapa namanya. Hanya saja, mungkin karena terlalu banyak beraktivitas di bawah terik matahari pantai, orang-orang ini memiliki satu kesamaan, menyenangkan dan Legam!  benar-benar khas bocah pantai!😀

Dari dermaga, tujuan pertama kami adalah pulau Cilik. Di pulau yang bisa ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan ini, nantinya kami akan melakukan snorkeling pertama di Karimunjawa. Dalam perjalanan ke Pulau Cilik, kami mampir sebentar ke sebuah pulau yang diberi nama Pulau Gosong. Jangan dulu berpikir bahwa pulau Gosong, wujudnya seperti pulau-pulau pada umumnya yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Di tempat ini, yang ada hanyalah hamparan pasir seluas beberapa ratus meter yang seolah mengambang di atas laut. Sampai di Pulau Gosong, kami dipersilakan untuk turun dari kapal, sekedar untuk berfoto.

Kami tak mau berlama-lama di Pulau Gosong. Setelah cukup puas mengambil beberapa gambar, perjalanan ke Pulau Cilik pun kami lanjutkan. Saat kami tiba disana, sudah terlihat satu atau dua perahu motor milik rombongan lain yang sudah lebih dulu sampai.

Perahu pun bersandar di tepi jembatan kayu. Sebelum mulai melakukan snorkeling, kami masih harus mencoba-coba peralatan yang pas, mulai dari snorkel, mask, dan fins. Peralatan tersebut, telah disediakan oleh Karimunjawa Backpacker.  Begitu semua siap dengan properti masing-masing, barulah snorkeling kami dimulai…

Suasana bawah laut pulau Cilik benar-benar membuat takjub. Di kedalaman beberapa meter, sebuah ekosistem terumbu karang alami yang masih terjaga kelestariannya, mempesona kami dengan warna-warninya. Dari hasil baca-baca seputar terumbu karang, belakangan saya tahu bahwa salah satu jenis terumbu karang disana adalah karang Acropora Formosa berwarna ungu dan coklat. Selain itu, juga ada beberapa jenis ikan karang yang selalu antusias begitu para penyelam memberikan roti. Gambar saat para penyelam memberi makan ikan-ikan inilah yang sepertinya menjadi salah satu objek andalan Wahyu, fotografer underwater kami. Pemuda asli Karimunjawa ini, sambil melayang-layang di dalam air, terus mengarahkan kameranya kepada kami, saat ikan-ikan karang berwarna Zebra mengeroyok remah-remah roti yang kami berikan.

Selama snorkeling, para penyelam juga diharapkan untuk tidak merusak terumbu karang yang ada, baik secara sengaja maupun tak sengaja. Apa pasal? Sebab untuk setiap satu centi meter pertumbuhan terumbu karang, dibutuhkan periode setidaknya selama satu tahun. Lama bukan? Jadi karena karang-karang ini cukup rapuh, sebaiknya penyelam tetap berhati-hati selama snorkeling.

Selain aneka terumbu karang, menyelam di bawah tiang-tiang jembatan kayu juga tak kalah menyenangkan. Di tiang-tiang ini, bisa kita saksikan aneka kerang dan terumbu karang yang menempel erat. Didukung air berwarna kombinasi hijau dan biru toska, pengalaman snorkeling kami di Karimunjawa menjadi semakin lebih menyenangkan.

Aah, cangkir kopi saya sudah hampir kosong ….

Oke, untuk sementara begitu dulu cerita tentang hari pertama dan hari kedua di Karimunjawa. Pada tulisan berikutnya, saya janji akan bercerita sedikit tentang beberapa hal mulai dari pertemuan saya dengan gadis kecil penghuni pulau Tengah, cerita lanjutan snorkeling di dua pulau lainnya, dan cerita tentang penangkaran Hiu di pulau Menjangan Besar yang tak kalah menarik.

Anyway, thanks for reading…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s