Sang Amurwabhumi dan Era Kebangkitan Keris-Keris Singosari


Sidhikara - Raden Prasena (dua dari kiri), Ketua Paguyuban Ajisaka saat mengikuti prosesi Sidhikara Pusaka di Pelataran Candi Badut.psd

Langit cerah dan harum aroma dupa, menyelimuti bangunan Candi Badut, Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, di malam awal Desember (1/12/2012). Suara jangkrik yang bersahutan dari balik rumput, mengiringi dinaikkannya doa-doa berbahasa Jawa Kuno oleh Kanjeng Raden Ajeng (KRA) Arya, salah satu Sentoro atau kerabat di Keraton Solo.

Malam itu, dengan berbusana khas Priyayi Jawa, KRA Arya yang juga Ketua Paguyuban Pecinta Pusaka Megantoro, didaulat memimpin upacara Sidhikara Pusaka yang digelar  salah satu Paguyuban Pelestari dan Pecinta Tosan Aji di Malang,  Ajisaka. Selain Sidhikara Pusaka yang bertujuan untuk menaikkan kembali daya sugesti pusaka berupa keris, tombak, dan pedang, dalam upacara itu, sekaligus diadakan tasyakuran atas menangnya Keris Kamardikan Sang Amurwabhumi, dalam Festival Keris Kamardikan Anugerah Hadiwidjojo, di Museum Nasional Jakarta, Oktober 2012 silam.

Keris yang di beri nama sesuai gelar Raja Pertama Singhasari, Ken Arok ini, berhasil merebut hati para dewan juri Festival, hingga menyingkirkan ratusan keris lainnya yang ikut dilombakan. Senjata pusaka yang dibuat dengan bahan-bahan antara lain, perak, emas, dan baja tersebut, berhasil menang salah satunya karena memiliki bentuk yang tak biasa dibanding keris-keris lain pada umumnya. Sebab, semua bagian mulai dari gagang, bilah, hingga warangka keris, diukir penuh dengan motif relief yang menggambarkan sosok raja pertama Singhasari, Ken Arok.

Keris Sang Amurwabhumi (Copyright Eben Haezer Panca P)
Keris Sang Amurwabhumi (Copyright Eben Haezer)

Kemenangan keris asal Malang yang dibuat pada periode Juni hingga September 2012 oleh Empu Ki Tanjung Puspo Nagoro ini, digadang-gadang akan menjadi pemantik bagi bangkitnya dunia perkerisan di Malang. Kebangkitan perkerisan di Malang ini, pada tahapan selanjutnya diharapkan sanggup semakin memicu lahirnya keris-keris kamardikan (dibuat pada era pasca kemerdekaan Indonesia), dengan karakter khas kerajaan Singhasari pada masa silam. “Selama ini  banyak orang yang menganggap bahwa barometer keris itu ada di Jawa Tengah. Sementara yang ingin kami tunjukkan adalah, Malang yang pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan Singhasari, sebenarnya juga memiliki dan bisa menghadirkan keris-keris yang tak kalah bagus,” Kata Raden Prasena, pemilik Keris Sang Amurwabhumi.

Atas dasar itu, pasca kemenangan di Jakarta, Paguyuban Ajisaka berniat untuk terus melakukan eksplorasi, hingga secara utuh menemukan karakter sebenarnya dari keris-keris pada masa kerajaan Singhasari. Sejauh ini, dari serangkaian eksplorasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa keris-keris dari Kerajaan Singhasari, memiliki karakter gagah yang tercermin salah satunya dari bilah keris yang lebar. Ciri-ciri ini jauh berbeda dengan keris-keris khas Jogjakarta dan Jawa Tengah, yang cenderung memiliki bentuk ramping. “Perbedaan lainnya dibandingkan keris khas Jawa Tengah, Keris dari Singosari memiliki ujung Ganja (hiasan bagian bawah bilah keris) yang menyudut, hampir sembilan puluh derajat,” timpal Ki Tanjung Puspo Nagoro, sang Empu Pembuat Keris Sang Amurwabhumi.

Raden Prasena dan Keris Sang Amurwabhumi (Copyright Eben Haezer Panca P)
Raden Prasena dan Keris Sang Amurwabhumi (Copyright Eben Haezer)

Kembali menurut Raden Prasena. Selain berupaya menemukan kembali jejak-jejak keris Singhasari, Paguyuban Ajisaka secara umum memiliki dua misi. Pertama, misi konservasi atau pelestarian keris-keris sepuh. Sebutan untuk keris sepuh, menunjuk pada kerisyang dibuat pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia atau pada masa kerajaan-kerajaan kuno. Sedangkan misi kedua ialah revitalisasi, yakni upaua untuk memperbanyak jumlah keris-keris Kamardikan atau keris-keris baru. “Ini yang selalu saya gelorakan pada semua anggota Paguyuban Ajisaka yang kini jumlahnya sudah mencapai ratusan. Yaitu untuk membuat keris-keris Kamardikan sehingga kelestarian keris sebagai warisan budaya nusantara tetap terjaga,” pungkas Prasena.

Upaya Paguyuban Ajisaka untuk menghidupkan kembali keris-keris Singhasari, mendapat apresiasi positif dari SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia). Salah satunya disebutkan oleh Santoso Edi Wibowo, Ketua Bidang Organisasi SNKI. Menurut Edi, upaya Paguyuban Ajisaka itu selaras dengan harapan SNKI yang ingin membangun kembali kesadaran masyarakat bahwa keris sebagai warisan budaya nusantara, harus terus dipelihara kelestariannya. “Kami mengapresiasi apa yang sudah dilakukan dan menjadi harapan Paguyuban Ajisaka, karena mampu menggeliatkan gairah masyarakat untuk semakin mengenal keris sebagai warisan Nusantara  yang kini telah diakui dunia internasional,” sambut Edi yang juga pernah masuk dalam tim penyusun proposal kepada Unesco, untuk penetapan keris sebagai warisan budaya nasional.

Catatan ; Artikel ini sebelumnya juga telah dimuat di harian Surya edisi 4 Desember 2012 dengan versi yang lebih singkat, dengan judul Paguyuban Pelestari dan Pecinta Tosan Aji, Ajisaka – “Ingin Lestarikan dan Eksplorasi Karakter Keris Khas Kerajaan Singhasari”.
Untuk Versi ini, sengaja memang saya beri sedikit perubahan pada tulisan.

3 thoughts on “Sang Amurwabhumi dan Era Kebangkitan Keris-Keris Singosari

  1. Bersama ini kami jelaskan banyak benda2 pusaka di singgasari yg masih belum ditemukan padahal singgasari adalah kota kerajaan, apa lagi diareal candi 5 kilo meter persegi adalah tempat dan pusat latihan bagi tentara kerajaan singgasari waktu itu , saya ki abbas soegiono asal singosari yg mencoba menelusuri hal2 benda2 pusaka warisan leluhur yg perlu kita lestarikan , bagi pembaca yg budiman anda bisa masuk ke abbas soegiono yahoo disitu banyak pusaka yg kita pamerkan dan ada pusaka mempunyai sejarah historis yg punya kemampuan antara lain pusaka keprabon dan pusaka nogo dahono , keprabon dibuat oleh empu sopo yg pertama dan nogo dahono dibuat oleh keturunan empu supo masing2 mempunyai kemampuan sendiri2 sekarang pusaka tersebut dimiliki oleh seseorang ternama di kab malang, hal tersebu guna menyamakan temuan2 yg muncul di era globalisali moderen dan masih banyak masarakat kita yg menyimpan benda2 pusaka , penulis ki abbas soegiono ,As, perum ardimulyo blok M 10, song2 singosari , kn ( 62) 081334203778.

  2. Saya jelaskan pula bahwa keris kiyai sengkelat juga telah ditemukan dengan luk 13, sesuwai dalam penelitian terbuat dari campuran inti besi dan batu moteor pusaka tersebut sangat terkenal pada saat terbentuknya pasukan barong mataram pada saat mau menyerang jjaya karta yg diduduki belanda, dan kiyai sengkelat adalah pusaka khusus untuk berperang kareana terkenal kemampuanya bagi sipemiliknya dalam penelitian konon penciptanya adalah empu supo entah yg ke berapa sampai ada suatu berita yg kami rilis bahwa yg memiliki pusaka tersebut bisa memiliki harta karun di singga sari, ini adalah sanepan dari yg di maksut adalah kekuasaan atau pemimpin di kabupaten malang pada khusunya kita lanjutkan pada episut selanjutnya

  3. Mengenai keris dan tosan2 aji memang harus sesuwai karakter disamping itu dalam hal pusaka yg berbentuk keris sebaiknya mempunyai kelebihan yang tidak ada unsur kesamaam setiap benda2 atau tosan aji krena lain daerah mempunya ciri khas dan pamor yg lain , pada umumnya keris yg dibuta seorang empu pada jaman kerajaan singgasari mempunyai kelbihan 2 lain dari pada yg lain yg bisa terjadi perobahan pada si pemiliknya jika keris itu sudan dipakei melekat pada si pembawa pusaka, suatu contoh pada pusaka atau keris yg bernama keris satrio pinayungan dengan pamor banyu mili luk 9 yg dibuat oleh seorang empu merangkap sebagai pertapa , si pembawa lebih terlapisi adanya energi pusaka tersebut yg mampu menghindar dari sergapan musuh juga keris tersebut mampu memasuki dimensi lain terhadap sipemegang kerap dinamakan keris piandel juga bisa diperlihatkan kepada khalayak atau masarakat luas dari jenis kemampuan pusaka tersebut, maka dengan demikan keris bukan merupakan besi aji biasa tetapi ada daya kemampuanya,, apa lagi jika benda tersebut bisa kita tunjukan kemampuanya terhadap masarakat itu baru benar2 pusaka buatan empu yg asli bukan pusaka biasa , jenis pusaka yg bagus adalah utuh tangguh yg artinya bagus adalah indah utuh adalah kondisinya tidak rusak tangguh adalah terdapat kuat dan ada nilai kemampuanya dari jenis pusaka , dijelaskan oleh ki abbas soegiono As , asal singgasari kontak person 081334203778,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s