Haii…


Haii…

Haii…

H – A, dan dua kali I ditambah tiga titik paling belakang.

Ada beberapa  Haii… di inbox handphoneku. Semuanya dari kamu.  Haii… terakhir rupanya kamu kirim jam tujuh malam tadi. Sayangnya, aku baru sempat membuka handphoneku jelang jam 12 malam. Seperti biasanya juga, sms-mu itu aku balas dengan ucapan yang sama : “Haiii…”

Tidak benar-benar sama sebenarnya. Sebab aku terbiasa menggunakan “I” sebanyak tiga kali. Satu kali lebih banyak dari yang biasa kamu buat.

Aku baru membalas pesanmu itu setelah tiba di rumah. Banyaknya berita yang kuliput hari ini, membuat aku lebih sering lupa langsung membalas pesan. Baik yang berwujud sms, bbm, email, hingga bahkan mention twitter.

Sudah jadi tradisi sejak dua tahun lalu, waktu aku baru pertama jadi wartawan. Malam hari begitu aku pulang, laptop dan ponsel langsung kukeluarkan dari tas. Hal pertama setelah itu adalah memasang charger keduanya. Jadi besok pagi, semua perangkat itu sudah siap kubawa kembali ke lapangan. Setelah charger tersambung listrik, baru laptop aku nyalakan.

Sambil menunggu keringat mengering, sambungan internet aku nyalakan. Sudah menjadi tradisi juga, begitu laman browser aktif, beberapa tab aku buka sekaligus. Tab-tab itu untuk email, situs-situs portal berita, facebook, twitter, dan blog pribadiku.

Email sudah terbuka. Ada beberapa pesan belum terbaca, salah satunya dari kamu. Email darimu itu kau beri subject :  “ Haaii…”

Aku merasa tak perlu membuka email itu, karena  yakin isinya juga sama dengan subject email yang kau beri. “Haii…”

Tapi tetap saja, jari-jariku seolah bergerak sendiri menuntun kursor di layar laptop dan mengarahkannya untuk membuka email darimu.

Seperti tebakanku sebelumnya, email itu hanya berisi empat huruf ditambah tiga titik yang berbaris rapi. : Haii…

Tak butuh waktu yang cukup lama untuk membaca dan membalas pesan darimu itu. Dengan kelincahan jari-jari yang terbiasa mengetik berita, plus persahabatan yang cukup lama dengan keyboard laptop, dalam sedetik saja langsung kuketik balasan dan menekan tombol kirim. Isi pesanku itu juga sama : Haiii…

Aku hampir lupa kapan kita bertemu. Yang jelas, setelah keberangkatanmu ke luar negeri, komunikasi kita sedikit mulai berkurang. Selain karena jarak, waktu yang lebih banyak kuhabisi di jalanan, membuat aku jarang menghabiskan waktu di depan laptop untuk berkomunikasi lewat chat maupun webcam denganmu.

Tetapi, Haii… dan Haiii… berbalasan yang sering kita kirim, itu yang bikin sadar bahwa memang masih ada keinginan untuk saling mengingat satu sama lain. Jadi, setelah tak ada lagi yang harus kukerjakan, kumatikan laptop untuk kemudian memilih tidur. Sambil menunggu Haii… berikutnya darimu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s