Loper Koran Jadi Wartawan


Tinggal hitungan hari, 2012 akan berakhir dan diganti 2013. Isu kiamat berdasarkan kalender suku maya yang sebelumnya ramai, ternyata memang hoax belaka.😀

Ditemani secangkir kopi Toraja Kalossi tanpa gula, diam-diam saya melakukan flashback. Mengingat-ingat lagi rute yang pernah saya lalui, hingga sekarang tahu-tahu sudah menjadi wartawan –masih junior- yang nggak jarang lupa pulang, lupa makan, dan lupa pacar😀 .

Bahkan aku, tak pernah menyangka akan memiliki profesi sebagai jurnalis. Semuanya mengalir begitu saja. Padahal, Eben kecil punya cita-cita ingin jadi astronot (serius). Lalu Eben yang berseragam biru putih, bercita-cita ingin jadi notaris. Kemudia, Eben yang SMA ingin jadi pengusaha. Yah, semua memang mengalir begitu saja. Perubahan-perubahan mimpi terus terjadi. Hingga akhirnya, Eben yang sudah kuliah, mentok dan mantap ingin jadi jurnalis. Padahal, juga sudah tahu bahwa pekerjaan ini tidak menjanjikan karir yang mapan, bahkan kekayaan.

Tapi bukan kemapanan dan kekayaan yang kala itu menjadi prioritas. Apalagi dari kecil aku juga sudah tahu bagaimana rasanya miskin. Tak punya rumah, numpang nonton tv di tetangga, setiap pagi sarapan nasi goreng (berbumbu garam, bawang merah, dan bawang putih) sepiring berempat dengan ketiga kakak saya, sampai mengamen dan menjual stiker di perempatan jalan.

Tak tahu kenapa, begitu menyatakan diri berkeinginan menjadi wartawan, ingatanku langsung melayang pada masa-masa saat masih berumur 14 tahun alias masih kelas 1 SMP. Eben yang saat itu masih jadi loper Koran pagi…

* * *

Bunyi  jam weker membangunkan aku jam empat pagi. Dari kursi panjang di ruang tamu, aku bangkit berdiri menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka  Sebelum masuk ke kamar mandi, kulihat ibuk sudah duduk di atas dingklik dan mencuci piring. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dapur, lalu menyiapkan sarapan seadanya buat sekeluarga. Sebab, setelah keempat anaknya pergi sekolah,  ia harus segera pergi bekerja ke rumah majikan. Waktu itu, ibuk memang masih jadi pembantu rumah tangga.

Bak di kamar mandi kosong. Rupanya tetangga sebelah rumah, yang semalam terakhir memakai kamar mandi,  lupa mengisi bak air. Tak usah heran. Kamar mandi di rumah kontrakan kami memang dipakai untuk dua keluarga sekaligus. Jadi, ada dua pintu di kamar mandi itu. Satu pintu terhubung dengan dapur keluargaku, sedang pintu satu lainnya terhubung langsung dengan dapur tetangga. Karena harus berbagi kamar mandi, maka rutinitas tiap pagi pastilah ngantri kamar mandi!

Aku beruntung pagi itu. Karena Suep dan Kristin, dua anak tetangga belum bangun. Jadi aku tak perlu mengantri kamar mandi. Begitu di dalam, setelah memastikan dua pintu kamar mandi terkunci, kutimba air dari sumur untuk mengisi bak. Tidak kuisi penuh memang, karena aku memang hanya butuh sedikit air untuk cuci muka dan sikat gigi.

Usai cuci muka dan keluar kamar mandi, dari dalam kamar kakakku kuambil tas slempang berbahan kain goni. Tas bekas yang sebelumnya dipakai kakakku untuk ospek SMA itu cukup panjang. Kantongnya mencapai batas paha sehingga tak jarang membuat paha terasa gatal. Mungkin karena memang tak pernah dicuci dan dijemur, tas using itu jadi tempat beranak pinaknya sekeluarga kutu kasur.

Masih dengan celana pendek dan kaos yang tadi aku pakai tidur, kuslempangkan tas di bahu dan sejenak menyisir rambut di depan cermin. Begitu semua ritual selesai, aku kembali ke dapur untuk berpamitan pada ibuk.

Dari pintu belakang rumah, aku keluar dan pergi mendatangi rumah kawanku, Dadang. Jarak rumah kami tak terpaut jauh, hanya dipisahkan oleh tiga rumah tetangga. Dinginnya udara kota Malang sempat membuat aku sejenak bergidik. Tapi itu tak jadi masalah karena memang aku sudah cukup terbiasa dengan hawa dingin. Toh, aku terlahirkan di kota ini.

Saat tiba di rumahnya, kulihat Dadang sudah siap berangkat. Pagi itu, untuk pertama kalinya kami akan pergi ke agen koran yang mangkal di samping bioskop Merdeka, di jalan Kayutangan untuk menawarkan jasa jadi loper koran!

Meski sebenarnya jarak dari rumah ke Jl Kayutangan cukup jauh, tapi kami berdua yang terbiasa jalan kaki, bisa menempuhnya hanya dalam waktu sekitar 20 menit dari kampung kami di Bareng.

Saat tiba disana sekitar jam lima kurang, beberapa loper koran sudah berdatangan mengambil jatah masing-masing dari si agen. Aku tak pernah tahu nama bos agen itu. Karena saat datang kesana, kami memang tak menanyakan namanya. Hanya  agen itu yang menanyakan nama kami begitu kami menyampaikan niat untuk menjadi loper koran. Setelah menjawab beberapa hal, barulah kami diijinkan untuk menjualkan koran-koran darinya. “Nanti kalau sudah habis, cepat kembali kesini dan setor. Untungnya langsung kalian ambil saja,” Seingatku, begitulah yang dipesankan sang agen pada kami kala itu.

Sebut saja mas agen. Sebagai permulaan sekaligus percobaan, dia mengijinkan kami  masing-masing membawa sepuluh eksemplar koran dengan tiga nama. Jawapos, Surya, dan Malang Post. Aku lupa berapa harga dasar masing-masing koran kala itu. Yang pasti, dari setiap penjualan satu eksemplar koran, aku mendapat untung Rp 150. Artinya, seandainya sepuluh koran habis terjual pagi itu, aku bisa pulang membawa uang Rp 1500.

Aku dan Dadang berpisah untuk mencari pembeli. Tapi kami berjanji untuk bertemu kembali di tempat mangkal mas agen jam enam pagi, tak peduli apakah koran yang kami bawa habis atau tidak. Rute yang kurencanakan waktu itu adalah perkampungan Jl Basuki Rachmat, lalu tembus ke Jl Semeru, Jl Tangkuban Perahu, hingga terakhir ke Stadion Gajayana.

Stadion Gajayana kupilih sebagai tujuan terakhir mencari pembeli. Di tahun itu, kawasan ini setiap pagi tak pernah sepi dari orang-orang yang berolahraga, baik tenis, sepakbola, jogging, hingga senam Tai Chi. Jadi, seandainya di tempat-tempat yang tadi kulalui koran tak habis terjual, maka di Stadion Gajayana pasti banyak calon pembeli.

Masih bisa kuingat jelas, bagaimana waktu itu selama perjalanan menuju Gajayana, aku tak henti-hentinya berteriak menawar-nawarkan koran yang tersimpan dalam kantong tas goniku. “Koran-Koran, Jawapos, Surya, Malang Post… Koran pak Koran, Jawapos, Surya, Malang Post,” begitu teriakan-teriakanku saat itu.

Beruntung, sebelum benar-benar tiba di Stadion Gajayana, sepuluh eksemplar koran yang kubawa, lebih dulu habis terjual. Bahkan, untung yang kuperoleh lebih banyak. Tak sekedar Rp 1500 dari perhitungan semula, tapi ada tambahan 500 perak karena seorang pembeli menolak uang kembaliannya.

Karena koran sudah habis dan jam sepertinya sudah hampir bergerak menuju pukul enam pagi, aku bergegas kembali ke Bioskop Merdeka. Mas agen, sedang asyik membaca-baca koran sambil menikmati rokoknya. Dia rupanya menunggu para loper untuk kembali dan menyerahkan uang setoran.

Setelah uang setoran penjualan yang sudah kupisah dengan jatah untungku sendiri kuserahkan, tak lama Dadang terlihat datang. Tapi sayang, ia rupanya kurang beruntung karena koran yang dibawanya masih sisa dua eksemplar. Praktis, untung penjualan koran yang aku peroleh hari itu, sedikit lebih banyak ketimbang yang ia peroleh.

Kami pulang ke rumah dengan cepat karena tepat pukul tujuh kami harus sudah berada di sekolah. Setibanya di rumah, langsung kuterobos kamar mandi. Tak perlu berlama-lama di kamar mandi, hanya sepuluh menit. Prinsipnya waktu itu, yang penting basah dan memakai sabun. Apalagi sebelumnya juga sudah menyikat gigi.

Seperti ada kesepakatan yang tak dibicarakan, setelah memakai seragam sekolah dan sarapan, ibuk tak memberiku uang jajan. Aku pun tak meminta darinya karena tahu uang dari berjualan koran tadi, cukup untuk menggantikan uang jajan darinya.

Sepanjang yang bisa kuingat, rutinitas itu berlangsung hampir selama setahun. Biasanya, setelah pulang sekolah dan makan siang, sorenya aku kembali pergi ke kompleks stadion Gajayana. Di sana, aku menjual jasa menjadi pemungut bola tenis yang dibayar 1500 sampai 2000 perak perjam. Waktu itu masih ada sembilan lapangan tenis di Kompleks stadion Gajayana. Kini, fasilitas itu sudah hilang digantkan tempat parkir mal.

Malam hari, sendainya memang tak ada pekerjaan rumah dari sekolah, juga kuhabiskan waktu untuk mengamen di perempatan lampu merah di jalan Kawi. Dari situ, recehan-recehan kecil masuk ke kantongku setelah dibagi dengan beberapa kawan lainnya.

****

Masa kecil tampaknya memang banyak kuhabiskan untuk bekerja. Bahkan ketika memasuki masa-masa SMA, beberapa kali aku juga ikut bapak berjualan burger, keramik, hingga boneka.

Semua bergerak dan mengalir begitu saja. Usai berkuliah selama tujuh tahun yang diwarnai dengan nyambi kerja berjualan kopi, lalu menjadi staf rumah produksi yang menjalin kerjasama dengan stasiun televisi lokal, aku diterima menjadi wartawan di salah satu media cetak yang dulu korannya pernah kujual keliling kampung.

Siapa yang mengira aku akan berdiri di titik ini? Jelang akhir 2012, banyak rencana dan mimpi yang masih belum tercapai. Semoga, 2013 akan muncul rute-rute baru yang membawaku menuju pencapaian-pencapaian baru sebagai jurnalis.

2 thoughts on “Loper Koran Jadi Wartawan

  1. Hi eben,
    Ini adalah nasehat dari sahabatmu yang cantik ini:
    You can’t do anything about the past, and you don’t know what the future holds. But, when you wake up in the morning, you can make up your mind to do your best! Don’t stop halfway; go on up to the top of your mountain!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s