Kiamat


Coba kau bayangkan kawan. Seandainya kemarin  kiamat benar-benar terjadi. Langit runtuh, pohon-pohon raksasa di hutan berjumpalitan di udara karena terdesak muncratan api dari perut bumi, lalu satu persatu bintang mulai menghujani bumi, dan kita semua habis tenggelam dalam lautan magma, terkubur dalam abu, debu, dan batu sebesar gunung.

Kawan, dengarkan ceritaku sebentar.

Kemarin aku tertawa sampai muntah ketika melihat orang-orang di kampungku berlari terbirit-birit ke atas bukit. Mereka lari ketakutan karena sirene bahaya Tsunami berteriak-teriak lantang dari pantai.  Waktu itu aku tak ikut melarikan diri bersama mereka karena istriku sedang hamil tua. Kakinya, aku yakin tak cukup kuat untuk berlari menuju ke atas bukit. Jadi, begitu melihat orang-orang di kampungku berlari menyelamatkan diri, aku dan istriku hanya bisa memandangi mereka dari ambang pintu. Sebelumnya kami telah sepakat untuk menyerahkan nyawa kami dan janin di kandungan istriku pada alam. Itu seandainya kiamat yang diramalkan banyak orang, benar-benar terjadi hari ini.

Kau tahu kawan kenapa aku tertawa?

Aku tertawa melihat kebodohan dan kekejaman orang-orang di kampungku. Saat mereka pergi melarikan diri, semua berebut berada di posisi paling depan. Ada satu bocah kulihat terpisah dari ibunya saat berlari. Selama beberapa detik, bocah itu berdiri terpaku sambil matanya terus mencari dimana ibunya. Sayangnya, meski terus mencari, bocah itu tak juga bertemu dengan ibunya. Hingga kemudian ia terjatuh karena terdesak oleh orang-orang kampung yang berlari di belakangnya.

Kawanku, bocah itu akhirnya mati mengenaskan. Ia terinjak-injak oleh orang kampung yang berusaha merangsek ke atas bukit.  Sementara ibunya, kulihat dari arah berlawanan tak lama kemudian, ternyata juga sedang mencari-cari  sang anak sambil menyesal. Saat akhirnya dia menemukan putra semata wayangnya itu mati, ia tak kuasa menahan tangis. Perempuan yang sudah ditinggal mati suaminya sejak dua tahun silam itu lunglai di atas tanah dan memeluk tubuh anaknya yang berdarah-darah.

Nasib perempuan itu tak jauh berbeda. Saat memeluk jasad bocah cilik itu, tubuh ribuan orang yang memenuhi jalanan juga menabrak dan menginjak-injaknya hingga mati. Sampai orang-orang kampung tiba di atas bukit, jenazah pasangan ibu dan anak itu tetap tergeletak di jalan. Darah mereka menghitam bercampur debu.

Itu bukan satu-satunya yang bisa kutertawakan, sahabatku. Sebab selain dua jasad itu, ternyata masih ada satu jasad perempuan lagi yang terkapar tak jauh dari sana. Aku tahu perempuan ini. Tadi ketika orang-orang kampung berlarian ke bukit, aku sempat melihat dia kebingungan, berteriak-teriak  mencari suaminya. Mungkin waktu itu dia berniat mengajak sang suami untuk ikut berlari ke bukit. Mungkin juga dia mengira kalau suaminya masih berada di tengah laut untuk mencari ikan.

Perempuan itu, lalu pergi meninggalkan rumahnya, dan berlari ke pantai untuk mendapatkan suaminya. Sayang sekali, perempuan itu tak tahu bahwa suaminya ternyata telah berlari ke atas bukit dengan perempuan lain. Ya, aku juga sempat melihat itu kawanku. Aku melihat dengan dua mata di kepalaku sendiri. Aku lihat lelaki itu berlari menggandeng perempuan lain yang bukan istrinya.

Sayang sekali kawan… Benar-benar sayang…

Karena perempuan yang mencari suaminya itu akhirnya juga mati terinjak-injak orang kampung.

Jangan pergi dulu kawan, ceritaku belum selesai.

Malam itu, setelah jalanan kampung benar-benar sepi ditinggal penghuninya, aku keluar dari rumah. Atas seijin istriku yang hanya bisa tertidur di ranjang, kudatangi mayat-mayat tersebut.  Kukumpulkan mereka jadi satu. Lalu di sebuah tanah lapang dekat rumahku, kubuat lubang untuk kubur mereka.

Aku memang menangis waktu itu kawan, tapi aku juga tertawa terbahak-bahak. Aku menangis melihat perempuan-perempuan dan bocah ini mati, tapi aku juga tertawa memikirkan kekonyolan orang-orang kampung.

Hampir jam 12 malam. Setelah mayat ketiganya terkubur, aku kembali ke rumah dan tidur di samping istriku.  

Sambil memeluk tubuh istriku, aku bergetar menunggu runtuhnya langit dan rumah kami berjumpalitan ke udara karena terdesak muncratan api dari perut bumi.

Tapi sampai jam satu malam, lalu jam dua malam, semuanya tetap sunyi. Di kamar, masih bisa kudengar suara ombak dan angin dari pantai. Suara-suara itu terus terdengar pelan, hingga akhirnya aku tertidur.

22 Desember 2012, jam enam pagi aku terbangun dan melihat istriku masih pulas. Sambil berjingkat dari kamar, aku pergi keluar rumah. Aku ingin memastikan, jangan-jangan aku sebenarnya sudah mati dihempas kiamat.

Sebelum pintu rumah kubuka, aku memang sempat tegang, lalu terdiam sejenak, mempersiapkan diri untuk menyaksikan dunia yang baru. Sambil mata terpejam dan menghitung satu sampai tiga dari dalam hati, perlahan kutarik pintu. “krieeeett…..”

Aah, itu suara pintu rumahku kawan. Saat pintu akhirnya terbuka, barulah kubuka mataku. Aku lega, karena ternyata langit belum runtuh. Tanah di depan rumah, masih mengeluarkan aroma anyir dari darah bocah yang semalam kukuburkan dari samping rumah.

Pelan-pelan, senyum mengembang di bibirku. Lalu aku tertawa terbahak-bahak.. ya, aku tertawa sekencang-kencangnya karena ternyata dunia belum kiamat. Langit belum runtuh, pepohonan masih tetap di tempatnya semula. Aku juga tertawa kencang karena suara sirene bahaya Tsunami kemarin sore, ternyata terjadi karena gangguan teknis. Saking kencangnya aku tertawa, istriku sampai terbangun dan pelan-pelan menyusulku keluar rumah.

Aku semakin terbahak-bahak karena tiga orang yang kukubur semalam, mati sia-sia! Lalu kawan, kuarahkan mata ini ke bukit. Aku melihat titik-titik kecil, ribuan orang kampung pelan-pelan berjalan menuruni bukit.

Coba kau bayangkan kawan. Seandainya kemarin kiamat benar-benar terjadi. Langit runtuh, pohon-pohon raksasa di hutan berjumpalitan di udara karena terdesak muncratan api dari perut bumi, mungkin aku tak akan tertawa sekencang ini. Mungkin aku juga tidak akan mengangisi tiga mayat yang terkubur di samping rumahku.

 

(Malang, 21 Desember 2012, tengah malam)

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s