Di malam Jumat Agung


Sekarang malam Jumat Agung. Kamu sedang berada di puncak kesunyian. Di rumahmu tak ada seorangpun yang bisa kau ajak bercakap-cakap. Di kamarmu gelap. Televisi memang kau nyalakan, tetapi volume suaranya sengaja kau buat habis. Kedip-kedip cahaya dari gambar di layar kaca itulah yang semata menambah cahaya di kamarmu.

Sebotol bir dan sebungkus rokok sesekali kau tenggak dan kau hisap dalam-dalam. Tapi itu sia-sia. Kesunyianmu tak juga amblas.

Kau utak-atik pula ponselmu itu. Tapi siapa yang kau ajak bercakap-cakap lewat itu? Adakah?

“Tidak ada yang membalas pesanku,” jawabmu dalam hati. Lalu ponsel itu kau lempar pelan ke atas kasur.

Tiba-tiba kamu teringat Yesus yang menghembuskan nafas terakhir, terpaku di palang kayu, tepat pukul 3 sore di Jumat yang Agung. Tapi pukul 3 sore tadi kau masih di depan layar komputer di kantormu. Saat itu jari-jarimu sedang menari-nari lincah, menyusun kata-kata di atas papan ketik.

Kamu pun mulai menyandingkan kesunyianmu di Jumat Agung dengan kesunyian yang Yesus rasakan di atas salib. Seperti Yesus, kamu merasa ditinggalkan. Dibuang, dikhianati, dan dilupakan?

Tetapi kau pun sadar. Kau tak layak sebanding dengan Sang Mesias. Sejak kecil, kau belajar paham bahwa Yesus dilukai, dibuat kesepian, dibunuh, dan dilupakan untuk menanggung darah banyak orang. Tapi kamu, darah siapa yang kau tanggung? Kesunyian siapa yang kau ambil?

Sebatang rokok yang tadi kau nyalakan telah habis. Tetapi bir dalam botol belum tandas. Kakimu beranjak dari kursi di depan televisi. Dari dalam kotak pensil di atas meja, kau raih sebilah cutter.

Hening sejenak..
Kau tatapi foto-foto di atas meja. Gambar-gambar itu terus kau ajak bicara meski tak ada satupun yang menyahut. Kau berpamitan pada orang-orang di gambar itu.

Dari pergelangan tangan kirimu, darah bercucuran ke lantai kamar. Tak ada teriakan dari mulutmu. Tetapi tak lama setelah itu kau terkapar tak sadarkan diri. Tergeletak di atas genangan darah yang kian membanjiri lantai kamar. “Eli… Eli… Lama sabakhtani,” ucapmu menirukan kalimat terakhir Yesus menjelang kematianNya.

Dari hidungmu, tak ada lagi udara yang keluar. Tapi dari kedua kantong matamu ada jejak-jejak basah air mata. Kamu benar-benar mati…

Tapi tak seperti Yesus, kau tak akan bangkit di hari ketiga. Kau akan tetap di kamar gelap itu tanpa ada malaikat yang membuka pintu kamarmu, di hari Paskah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s