Nama Lahir Berubah Demi Terbang Murah ke Thailand


Berfoto selfie di depan Grand Palace, Bangkok, Thailand.
Berfoto selfie di depan Grand Palace, Bangkok, Thailand.

THAILAND menjadi tempat terjauh dari rumah yang pernah saya kunjungi. Negeri Gajah Putih itu sekaligus menjadi tanah asing pertama yang saya pijak.

Kalau saya bercerita tentang apa saja yang bisa ditemui di Thailand, tempat-tempat wisata apa saja yang wajib dikunjungi di sana dan bagaimana cara menempuhnya, sekaligus rincian biaya yang harus dikeluarkan, tentu tidak akan menarik lagi.

Toh, dibandingkan saya, sudah banyak orang Indonesia lain yang sudah berkali-kali dan sangat berpengalaman menjelajahi Thailand, lalu menceritakan hal-hal teknis seperti itu.

Jadi, kalau disuruh bercerita tentang apa saja yang ada di Thailand, mungkin orang-orang lain akan menganggap saya ndeso. Udik!

Faktanya saya memang ndeso. Lahir, besar, dan tinggal bersama keluarga yang penghasilannya pas-pasan, di perkampungan kecil di Kota Malang, saya sama sekali tak pernah bermimpi akan naik pesawat ke luar negeri. Jangankan ikut terbang ke luar negeri, membayangkan bisa duduk di dalam kabin pesawat saja sudah terlalu muluk-muluk.

Saat kecil, dari gang kampung tempat saya tinggal, saya hanya bisa berteriak : ”Kapal, njaluk duite” (Kapal, minta uanganya). Itu saya teriakkan ketika sebuah pesawat terbang melintas jauh di atas. Ya, dulu di masa kecil, saya memakai sebutan ‘kapal’ untuk menunjuk pesawat.

Alih-alih kejatuhan recehan dari langit, teriakan itu malah bikin tetangga yang sedang asyik tidur siang, sewot. Untungnya, si tetangga tidak sampai melempar sandal. 

Tetapi nasib orang siapa tahu. Selepas kuliah hingga kemudian mendapat kerja dengan gaji seadanya, mulailah kepikiran untuk sesekali berkunjung ke luar negeri. Keinginan menjadi semakin kencang, apalagi setelah beberapa teman memamerkan foto-foto perjalanannya ke luar negeri.

Penerbangan saya ke Thailand di minggu pertama April 2014, memang bukan pengalaman terbang pertama. Penerbangan-penerbangan domestik, beberapa kali saya ikuti. Tetapi tak satupun yang menggunakan biaya pribadi. Kebetulan saja, beberapa kali kantor tempat saya bekerja menugaskan ke luar kota. Jadi, tiket pesawat menjadi tanggungan kantor.

Sampai akhirnya, pada Februari 2014, seorang kawan memberitahu tentang promo tiket penerbangan murah AirAsia Indonesia, dari Surabaya menuju Bangkok.

Saya tak mau berpikir terlalu lama. Meski belum memiliki paspor, hari itu juga dua lembar tiket untuk penerbangan pulang pergi, 6 April 2014 dan 9 April 2014, saya pesan. Untuk dua lembar tiket itu, saya hanya merogoh kocek Rp 658.000. Murah meriah!

Singgah ke Phuket dengan perjalanan sekitar 12 jam menggunakan bus dari Southern Terminal, Sai Tai Mai. Di Phuket, bisa memanfaatkan jasa agen wisata yang banyak tersebar di sekitar Old Town Phuket untuk  menjelajah pantai-pantai eksotis di Phuket.
Singgah ke Phuket dengan perjalanan sekitar 12 jam menggunakan bus dari Southern Terminal, Sai Tai Mai. Di Phuket, bisa memanfaatkan jasa agen wisata yang banyak tersebar di sekitar Old Town Phuket untuk menjelajah pantai-pantai eksotis di Phuket.

+++

SINGKAT kata, setelah tiket di genggaman, barulah kesibukan mengurus paspor dimulai. Buat saya, mengurus paspor yang pertama kali, ribetnya luar biasa. Bukan karena petugasnya yang bikin ribet, tetapi ada perbedaan penulisan nama pada lembar ijazah, kartu keluarga, serta KTP.

Petugas di kantor imigrasi pusing. Mereka meminta saya untuk melakukan penyesuaian data-data di dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dulu.

Di ijazah dan akta kelahiran, nama saya hanya tertulis : Eben Haezer. Tetapi di KTP dan kartu keluarga, nama saya tercantum lebih lengkap : Eben Haezer Panca Prasetyawan.

Bingung mengapa bisa begitu? ya, pada awalnya saya juga bingung. Tetapi saya akan bercerita sekilas.

Saat lahir di tahun 1985, saya tidak memiliki akta kelahiran dan hanya memiliki surat tanda lahir dari bidan. Di surat tanda lahir itu, nama saya tertulis lengkap dengan empat susunan kata : Eben Haezer Panca Prasetyawan.

Tahun 2003, saat Dispendukcapil mengadakan pemutihan akta kelahiran, orangtua pun berinisiatif membuat salinan akta kelahiran untuk saya. (Aah, orangtua saya memang hebat. Meski terlambat, mereka berinisiatif membikinkan saya akta kelahiran.)

Mungkin, karena terlalu bahagia anaknya sudah memiliki selembar akta kelahiran, orangtua saya tidak sadar bahwa di lembar akta itu, nama saya hanya ditulis Eben Haezer. Kalaupun tahu nama saya tak ditulis lengkap, mungkin mereka tidak menganggap itu sebuah masalah.

Mereka tampaknya lupa. Di kartu keluarga, nama saya ditulis sangat lengkap. Nama lengkap di kartu keluarga inilah yang juga dipakai sebagai dasar untuk membuat KTP ketika saya mulai masuk usia ke-17 di tahun 2002, atau setahun sebelum orangtua membuatkan saya salinan akta kelahiran.

Sementara ijazah-ijazah sekolah sejak saya SD, juga hanya mencantumkan nama Eben Haezer meski surat tanda lahir yang dipakai untuk mendaftar sekolah pertama kali, mencantumkan nama panjang. Padahal, nama yang tertulis di ijazah SD inilah yang selanjutnya akan dipakai sebagai dasar untuk menulis nama di ijazah-ijazah pada jenjang pendidikan berikutnya.

Ribet ya? Yang jelas, kesimpulannya ada dua pihak yang tidak sengaja memicu kesalahan ini. Orangtua dan guru SD. Tetapi saya tidak mau menyalahkan mereka karena toh itu terjadi karena ketidaktahuan semata.

Akhirnya, seminggu sebelum pesawat AirAsia membawa saya ke Thailand, paspor sudah ada di genggaman. Sebelumnya, saya harus mengurus ke sana kemari, termasuk ke pengadilan negeri. Ujung-ujungnya, saya memang harus mengikhlaskan dua nama belakang saya hilang.

Nama lengkap di KTP dan Kartu Keluarga, hanya menjadi Eben Haezer. Pertimbangannya, pengurusan perubahan nama di KTP dan Kartu Keluarga, jauh lebih singkat dan mudah ketimbang mengurus perubahan nama di ijazah dan surat kelahiran. Apalagi, kedua orangtua akhirnya setuju juga untuk menghapus dua nama belakang itu, Panca Prasetyawan.

+++

Abaikan saja orang yang ada di ujung kiri. Yang bersangkutan adalah transgender yang kebetulan lewat saat saya sedang berfoto di Phuket. Ya, di Thailand memang banyak dihuni oleh kaum transgender.
Abaikan saja orang yang ada di ujung kiri. Yang bersangkutan adalah transgender yang kebetulan lewat saat saya sedang berfoto di Phuket. Ya, di Thailand memang banyak dihuni oleh kaum transgender.

SAYA pun ikhlas dua nama belakang hilang tanpa ada selamatan di rumah. Apalagi tiket murah AirAsia sudah di tangan. beberapa hari menjelang keberangkatan pesawat, saya datangi petugas pelayanan AirAsia di Surabaya untuk melakukan perubahan data pada tiket. Saya tak ingin, nama di paspor yang berbeda dengan nama di tiket, akan membatalkan niat saya ke Thailand.

Untungnya, tidak ada kesulitan berarti. Dalam kurun waktu sekitar 24 jam, tiket saya sudah berganti nama. Dari Eben Haezer Panca Prasetyawan, menjadi Eben Haezer. Match sekali dengan nama di paspor dan KTP.

Minggu, 6 April 2014, penerbangan sore AirAsia membawa saya ke Bandara Don Mueang di Bangkok, Thailand.

Itu mungkin bukan penerbangan pertama yang saya ikuti. Tetapi itulah penerbangan pertama saya dengan menggunakan identitas baru: Eben Haezer. Bukan lagi Eben Haezer Panca Prasetyawan.

Seperti tadi saya bilang, penerbangan ke Thailand kala itu adalah penerbangan internasional saya yang pertama kali. Tetapi harus saya bilang juga bahwa itu tidak akan menjadi penerbangan internasional saya yang terakhir.

Masih banyak negara yang akan saya jelajahi.
Masih banyak pengalaman baru yang akan saya alami.

Lalu, andai ditanya bagaimana AirAsia mengubah hidup saya, maka jawabnya sudah pasti: Demi terbang ke luar negeri dengan tiket murah AirAsia, saya rela memotong nama lahir…

Salam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s