Media Online, Jangan Abaikan Akurasi


Saya termasuk orang yang percaya bahwa kelak, entah sepuluh ataupun 20 tahun mendatang, era koran cetak akan berakhir. Evolusi telepon genggam menjadi smartphone hingga tablet, perlahan mulai mengancam eksistensi koran cetak melalui kehadiran media-media online.

Pembaca setia yang setiap pagi menyempatkan menikmati informasi-informasi dari koran, lambat laun mulai terbiasa menikmati berita kapan saja dan di mana saja. Kehadiran gadget-gadget canggih tersebut memang telah mengubah gaya hidup masyarakat dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal cara memperoleh informasi.

Dalam kaitannya dengan kebiasaan memperoleh informasi, masyarakat tak lagi hanya mengandalkan koran, majalah, televisi, dan radio. Internet yang bisa mereka akses dari gadget-gadget tersebut, memungkinkan mereka untuk memperoleh berbagai berita penting dan menarik, kapan saja dan di mana saja.

Keniscayaan bahwa era koran cetak akan berakhir, tak serta merta merupakan ancaman bagi semua media cetak. Alih-alih demikian, oleh sebagian besar media cetak, kehadiran gadget-gadget canggih tersebut justru dianggap sebagai sebuah peluang untuk melakukan diversifikasi usaha, yakni dengan membangun portal berita online, dan menggaet lebih banyak pelanggan dari segmen yang lebih luas.

Berita-berita yang tak bisa mereka muat di koran atau majalah karena ketersediaan space yang terbatas, bisa mereka masukkan ke dalam portal berita online tersebut. Memang, selama kemampuan server terus ditingkatkan, media online tidak akan pernah kehabisan ruang untuk menampung segala jenis berita, berapapun banyaknya.

Koran Kompas, Tempo, dan Tribun, bisa disebutkan sebagai permisalan. Masing-masing media ini, telah memiliki media online, yakni kompas.com, tempo.co, dan tribunnews.com. Meski begitu, belum ada data yang menyebutkan apakah kehadiran portal-portal berita online tersebut telah berdampak secara langsung terhadap penurunan penjualan (oplah) dari koran-koran cetak yang diterbitkan ketiganya.

Di sisi lain, juga karena booming smartphone dan tablet, tak sedikit pengusaha yang melihat manisnya peluang dari bisnis media, lalu langsung membangun sebuah portal berita. Didukung kualitas pemberitaan yang menarik, portal-portal berita itu bisa berhasil menarik perhatian pembaca dan menggaet banyak pemasang iklan.

Cepat Tapi Wajib Akurat

Dalam beberapa hal, media online memang memiliki keunggulan yang tak dimiliki media cetak. Dalam hal kecepatan misalnya, berita yang dimuat media online memang bisa lebih cepat tersaji ke pembaca ketimbang koran.

Mengutip pendapat Ignatius Haryanto dalam salah satu esainya berjudul Jurnalisme Blackberry yang dimuat di Kompas pada 26 Desember 2009, kehadiran media online telah mengubah pemaknaan berita. Definisi berita yang sebelumnya bermakna “melaporkan peristiwa yang telah terjadi”, kini berganti makna menjadi “melaporkan peristiwa yang sedang terjadi”.

Berita online memang harus cepat tersampaikan kepada publik karena sebagiannya dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Contohnya, informasi terkini mengenai tingkat kepadatan lalu lintas di jalur Jakarta-Jawa Timur pada masa arus mudik dan arus balik Idul Fitri 2014, akan sangat penting bagi para pemudik untuk mengambil keputusan, apakah akan melalui jalur utara, tengah atau selatan. Situasi lalu lintas di ketiga jalur itu menjadi sangat penting untuk diketahui karena para pemudik ingin perjalanannya lancar, terhindar dari kemacetan.

Sayang, karena terlalu mendewakan kecepatan, seringkali jurnalis yang bertugas di lapangan mengabaikan prinsip akurasi dengan tidak melakukan verifikasi. Padahal, dalam sebuah pekerjaan jurnalistik, keakuratan informasi adalah sesuatu yang mutlak harus terkandung. Tidak boleh tidak.

Bagaimana jadinya apabila sebuah media online terpaksa menghapus atau mencabut berita ‘panas’ yang sebelumnya mereka tayangkan secara lebih cepat dari media lainnya, hanya karena ternyata informasi tersebut tidak tepat, tidak akurat.

Contoh kejadian seperti ini belum lama ini terjadi, yakni ketika Tempo memuat pemberitaan tentang Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada awal Juli 2014 silam di Karawang, Jawa Barat.

Kala itu, Tempo memuat berita operasi tangkap tangan oleh KPK yang diduga diakukan terhadap beberapa orang anggota tim sukses salah satu capres di Pemilu 2014. Belakangan terungkap bahwa informasi itu tak valid karena penangkapan itu sama sekali tak terkait dengan Pilpres 2014. Sebaliknya, penangkapan yang dilakukan KPK di Karawang itu, terkait dengan dugaan suap menyuap pengurusan lahan yang melibatkan Bupati Ade Swara.

Sayang, Tempo lalu mengasosiasikan inisial Ade Swara (AS) dengan nama Arya Sinulingga (AS), pemimpin redaksi RCTI yang juga tim sukses pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Prabowo-Hatta.

Eskalasi Pilpres 2014 yang cukup panas, memang bisa mengundang berita-berita ‘panas’ bernilai tinggi. Maka, judul berita pun diolah sedemikian rupa dan semenarik mungkin, sehingga bisa mengundang sebanyak-banyaknya pembaca. Demi itu, redaksi Tempo lantas mengunggah berita berjudul “KPK Lakukan Tangkap Tangan Terkait Pilpres”.

Sayangnya, KPK kemudian membantah informasi yang dimuat oleh Tempo itu dan menegaskan bahwa operasi tangkap tangan yang dilakukan, sama sekali tak ada hubungannya dengan Pilpres 2014. Akibatnya, Tempo kemudian dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri oleh Arya Sinulingga (AS) karena dituding telah melakukan pencemaran nama baik.

Disengajakah? Atau memang disebabkan kesalahan jurnalis di lapangan yang tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu hanya karena lebih mengutamakan kecepatan dan sensasi berita?

Saya yakin media sebesar Tempo tidak akan berani bertaruh reputasi dan secara sengaja memuat berita yang salah. Bahkan, kalaupun itu disengaja demi menjatuhkan capres-cawapres tertentu, dampaknya tidak akan terlalu signifikan karena yang ditangkap hanya ‘tim sukses’.

Maka, saya yakin bahwa dimuatnya berita itu, disebabkan karena tidak diterapkannya verifikasi atas sebuah informasi awal. Mungkin, atas nama sensasi dan kecepatan berita, wartawan yang bertugas meliput berita tersebut, lupa bahwa akurasi berita adalah yang paling dibutuhkan pembaca disamping kecepatan.

Tak apa sedikit kalah cepat menayangkan berita dibanding media lain selama informasi yang disampaikan adalah berita yang benar-benar lebih akurat dan tidak jauh berbeda dengan realita yang sebenarnya di lapangan.

Saya termasuk orang yang sehari-hari berkecimpung dengan media online. Maka saya yakin kesalahan yang dilakukan Tempo itu, juga pernah terjadi pada media-media online lainnya. Namun karena isu yang diangkat tidak cukup sensitif, maka di kemudian hari tidak sampai menimbulkan masalah, yang dalam skala besar telah merusak kredibilitas media yang bersangkutan.

Namun yang jelas, setiap media harus memastikan agar kesalahan-kesalahan seperti itu tak terulang. Setiap media harus bisa memastikan bahwa jurnalisnya yang bertugas di lapangan, telah bekerja secara profesional dan tidak mengabaikan hal mendasar dari sebuah berita, yakni Akurasi.

Harus disadari oleh setiap jurnalis bahwa pembaca dan penikmat berita jauh lebih membutuhkan informasi yang valid dan akurat, ketimbang informasi yang sekadar cepat namun salah.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s