Mau Jualan Barang di Facebook Saya? Izin Dulu Donk


dilarang jualan
Gambar ilustrasi diambil dan diedit dari http://executionliberality.blogspot.com/

Dengan raut muka masam, sahabat saya menunjukkan akun instagramnya minggu lalu. Dia rupanya kesal lantaran halaman akun instagramnya dipenuhi foto-foto barang dagangan milik beberapa temannya. Tak hanya satu teman. Beberapa teman sekaligus mempromosikan barang-barang seperti tas, sepatu, celana, hingga lingerie. Hari itu, akun instagramnya berubah seperti etalase.

”Udah aku scroll terus ke bawah dari tadi, yang muncul foto-foto barang dagangan seperti ini. Nggak habis-habis,” kata sahabat saya sambil menggeser-geser tampilan instagram di layar tabletnya.

Tak lama, dia akhirnya memutuskan untuk unfollow alias menghentikan status pertemanan dengan kawannya yang berjualan online tadi.

++++

Pengalaman yang dirasakan sahabat saya tadi pasti juga banyak dialami para pengguna media sosial lainnya. Mereka kesal karena tak lagi merasa nyaman bersosialisasi di media sosial setelah halaman akun dibanjiri barang-barang dagangan. Apalagi pemilik akun yang kebanjiran promo tak merasa mengizinkan orang-orang tadi untuk menawarkan barang dagangan.

Apa yang salah di sini?

Seharusnya tidak ada yang salah. Apalagi media sosial memang telah terbukti menjadi alat bisnis yang menguntungkan. Banyak orang yang telah sukses karena memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya.

Namun seperti halnya urusan bisnis di dunia nyata, berbisnis di dunia maya juga memiliki etika. Kira-kira gambarannya seperti ini : Saat seorang salesman menawarkan karpet dari rumah ke rumah, tentu dia akan meminta izin untuk masuk ke rumah dan mempresentasikan barang dagangannya.

Kalau si pemilik rumah menolak, maka seharusnya salesman karpet tadi tak bisa memaksa masuk. Kalau itu dilakukan, pemilik rumah tidak bisa disalahkan saat mengusir atau bahkan paling parah meneriakinya maling.

Demikian pula etika berdagang di media sosial. Seseorang harusnya meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik akun untuk mem-posting foto-foto barang dagangan di halamannya.

Kalau pemilik akun mengizinkan, barulah seseorang itu menawarkan barang dagangan. Tetapi kalau pemilik akun menolak memberi izin, jangan pula memaksa untuk membombardir halaman akun tadi dengan penawaran barang-barang dagangan yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan oleh si pemilik akun.

Kalaupun memaksa, maka jangan salahkan kalau hubungan pertemanan di media sosial terputus.

For your information, minggu lalu saya baru saja memutuskan pertemanan dengan seorang kawan lama karena selama beberapa hari dia terus menerus menawarkan sebuah barang berbentuk batu panjang berwarna hijau. Katanya, batu sepanjang kira-kira 15 cm itu dipakai untuk membersihkan vagina.

Setelah itu, saya putuskan untuk menghapus dia dari daftar teman di Facebook.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s