Percintaan Singkat di Balik Penjara


Dari luar, penjara terkesan angker. Ratusan kriminil ada di dalamnya. Ini bikin orang-orang biasa takut tinggal di dalamnya. Tetapi dari dalam, semua orang menjadi sama saja. Semuanya adalah manusia biasa, yang butuh pasangan. 

Sungkono ragu-ragu memasuki aula yang kini dipenuhi ratusan pem-bezoek, yang duduk keleleran di atas tikar lipat. Jumat itu, memang hari bezoek terakhir dalam sepekan. Sabtu, Minggu, penjara Medaeng akan diutup untuk orang-orang yang ingin mengunjungi anak, suami, istri, keponakan, dan tetangga yang jadi napi karena macam-macam kasus. Senin pun tanggal merah. Peringatan hari Pahlawan. Jadi jadwal kunjungan diliburkan juga.

Pembunuh, perompak, penipu, tukang madat, pemerkosa, semua jadi satu di aula luas yang muat 500 orang lebih itu. Tapi Sungkono bukan pembunuh atau pemerkosa. Soal apakah dia penipu atau tukang madat, aku pun tak tahu pasti. Dia masuk ke penjara Medaeng karena dituduh melakukan tindakan subversif.  Mengggerakkan orang melawan Satpol PP dan Polisi yang akan menutup lokalisasi. Tentang tuduhan itu, Sungkono tentu punya pembelaan sendiri.

Sebelum hari itu, Sungkono tidak kenal aku. Akupun hanya tahu namanya dan pernah 3 kali bertemu saat ramai-ramainya kabar para pelacur  Dolly akan diusir. Bersama wartawan-wartawan lainnya—sebagian ku kenal, sebagian lagi yang jumlahnya lebih banyak, tidak kukenal— aku di sana untuk mencari berita. 

Sudah jelas Sungkono tidak berharap akan bertemu aku hari Jumat itu. Masih jam 9.30. Waktu diberitahu ada kunjungan, dia masih ngorok di dalam selnya. Seingat dia, sebelumnya tak ada janjian dari siapapun untuk menengoknya.

Aku datang untuk mewawancarai dia. Petugas yang jaga di aula, di tempat menerima kunjungan, tidak menyadari itu. Dikiranya aku cuma pengunjung biasa yang kebetulan berkerabat dengan seorang kriminil.

Di tanganku tidak ada pulpen atau buku catatan. Hanya dua bungkus rokok Surya bergambar paru-paru gosong dan sebiji korek tokai yang aku taruh di atas tikar. Handphone, juga tidak boleh kubawa masuk. Sesuai aturan penjara, handphone harus dititipkan di tempat penitipan khusus, di seberang halaman penjara.

++

Bukan perihal wawancara dengan Sungkono yang ingin kuceritakan. Tetapi tentang para napi yang ada di aula itu, orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal.

Ciri-ciri etnis wajah mereka beragam. Ada yang Tionghoa, Arab, Madura, Jawa, Bugis, Papua, Ambon, Kalimantan, bahkan bule. Ada yang mengenakan peci. Ada yang berbusana bak remaja gaul, ada pula yang berpakaian seperti halnya orang desa. Ada yang kulitnya putih bersih, ada pula yang penuh bertato di lengan dan kaki.

Tetapi di ruangan itu, hari itu, ciri-ciri etnis itu tak lagi jadi persoalan. Mereka semua menjadi orang-orang yang sama. Orang yang butuh sentuhan biologis dari perempuan, entah itu istri, pacar, atau simpanan.

Di antara ratusan orang, seorang napi yang usianya kutaksir belum mencapai 40-an tahun, asyik berpagutan lidah dengan perempuan cantik yang membezoeknya. Makanan dan rokok yang dibawa si perempuan, tak tersentuh. Tangan si lelaki, malah sibuk meraba-raba payudara perempuannya dari luar kaos ketat berwarna putih yang dikenakannya.

Duduk di belakang pasangan ini, seorang napi yang usianya sedikit lebih tua, beraksi sama. Si Oom—demikian aku memanggilnya karena raut wajahnya yang dipenuhi banyak keriput—memangku perempuannya yang jauh lebih muda. Keduanya saling berpagutan bibir.

Tak jauh dari dua pasangan ini, napi berpeci juga sibuk menciumi istrinya yang berjilbab hijau. Bersama mereka, ada anak lelaki yang masih bocah, sibuk menghabiskan makanan dalam rantang yang dibawakan oleh sang ibunda untuk sang ayah.

Mereka malu-malu. Saat berciuman, telapak tangan kanan si istri diangkat ke pipi agar aksi berciuman mereka tak terlihat orang lain. Si lelaki pun tampak gelisah, namun malu-malu. Sekilas kulihat, tangan kiri si lelaki berpeci, cepat menyambar payudara istrinya. Cepat, dia tekan payudara itu seolah sudah bertahun-tahun tak menyentuh gundukan yang pernah menjadi sumber air minum untuk anaknya.

”Ya beginilah yang banyak terjadi. Maklum mereka sudah bertahun-tahun tinggal di sini, jadi tidak pernah berhubungan biologis,” kata Sungkono.

Semua adegan ini mereka lakukan cepat. Karena dalam 45 menit, mereka akan diminta meninggalkan aula karena jam kunjungan sudah habis. Kalaupun mau memperpenjang jam kunjungan, bisa bayar 10 ribu perak kepada tamping yang bertugas.

Lalu bagaimana respon para petugas? Mereka diam dan tak menegur. Paling-paling ketika aksi napi dan perempuannya dinilai terlalu berlebihan, petugas akan melangkah mendekat. Tak perlu berkata apa-apa, aksi panas langsung berhenti. Tentunya, hanya untuk sementara.

Petugas pergi, aksi panas lanjut lagi.

Aah, penjara….

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s