Judulnya Nyelam di Kondang Merak


Pagi hari di kondang merak
Perahu milik nelayan Kondang Merak tertambat di bibir pantai, Minggu (23/11) pagi.

********************************

Nyali  sedikit menciut saat memandang gulungan ombak tinggi di pantai Kondang Merak. Tapi saya sudah terlanjur di atas perahu motor yang sedang melaju menuju titik penyelaman, beberapa kilometer dari bibir pantai. Peralatan selam pun sudah disiapkan. Tidak boleh ada kata mundur.

****************************************************************************

Ombak di pantai selatan kabupaten Malang memang terkenal ganas. Tak terkecuali di pantai Kondang Merak, di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Ombak-ombak besar ini bisa ditemukan di pantai-pantai lain yang masuk dalam pantai selatan. Maka tidak semua tempat bisa dijadikan area berenang, snorkeling, bahkan penyelaman rekreasional atau fun diving.

Saya tiba di pantai ini akhir pekan lalu, Sabtu sore, 22 November 2014 sekitar pukul 15.00 WIB. Dua jam perjalanan dari kota Malang. Ditambah perjalanan dari Surabaya menuju Malang, total empat jam perjalanan yang saya butuhkan untuk menjangkau Kondang Merak.

Di sana, seorang rekan saya, kontributor fotografer sebuah media Perancis telah terlebih dahulu datang. Saat saya tiba, dia sedang sibuk memotret aktivitas nelayan setempat yang sedang mempersiapkan beton untuk media rehabilitasi terumbu karang.

Atas dorongan dan dukungan dari komunitas Salam (Sahabat Alam) yang concern pada isu-isu konservasi lingkungan, sejumlah nelayan Kondang Merak mulai aktif dalam aksi penyelamatan terumbu karang. Beberapa dari mereka, dulunya adalah orang-orang yang terlibat dalam aksi-aksi perusakan dan pencurian terumbu karang.

Dampak dari aksi-aksi destruktif yang pernah dilakukan sebagian dari mereka membuat tingkat kerusakan terumbu karang pada tahun 1990-an diperkirakan telah mencapai 80 persen. Kini meski belum pulih sepenuhnya, namun tersisa harapan, kelak, beberapa puluh tahun mendatang, lingkungan bawah laut di Kondang Merak kembali seperti semula.

Harus puluhan tahun memang. Sebab pertumbuhan terumbu karang dalam setahun hanya mencapai 1 centi meter. Dengan hitung-hitungan ini, dalam 10 tahun pertumbuhan terumbu karang hanya akan mencapai 10 cm.

Sore itu aktivitas di Kondang Merak diawali dengan melakukan snorkeling ringan di sekitar pantai. Air laut sedang surut. Beberapa pengunjung pantai—termasuk di antaranya sejumlah mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Malang—asyik bermain bola di tepi pantai. Sebelumnya mereka terlibat dalam aksi adopsi terumbu karang yang difasilitasi komunitas Sahabat Alam.

Bersama dua mahasiswa prodi Kelautan dari Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Brawijaya, saya menyempatkan diri melihat media-media transplantasi terumbu karang yang ditanam di bawah air, beberapa puluh meter dari bibir pantai.

Esok harinya, setelah malam sebelumnya bercakap-cakap ngalor ngidul di warung yang menjadi homebase dadakan, penyelaman mulai dipersiapkan. Lima tabung oksigen diisi menggunakan kompresor selam lalu diangkut menuju perahu motor milik nelayan yang akan membawa kami ke titik penyelaman.

Termasuk dua nelayan yang menahkodai, total ada delapan orang di perahu tersebut.

Dua nelayan itu pun akan ikut melakukan penyelaman singkat. Sementara dua penumpang kapal lainnya, seorang fotografer dari Sidoarjo dan seorang teman perempuannya, tidak akan ikut dalam penyelaman. Praktis hanya enam orang saja di perahu itu yang akan ikut menyusuri alam bawah laut.

Harus saya akui, nyali saya sedikit menciut saat memandang gulungan ombak di pantai Kondang Merak. Tapi saya sudah terlanjur di atas perahu motor yang sedang melaju menuju titik penyelaman, beberapa kilometer dari bibir pantai. Peralatan selam pun sudah disiapkan. Tidak boleh ada kata mundur.

Pengalaman pernah dua kali menyelam di pantai Pasir Putih Situbondo setahun sebelumnya, masih belum membuat saya yakin dengan kemampuan menyelami kerasnya laut Kondang Merak.

Saya menyelam berempat. Dua orang di antaranya adalah nelayan setempat. Sedangkan seorang lainnya adalah Andik dari Komunitas Salam.

Seharusnya kami menenggelamkan diri bersamaan ke dalam air. Namun rupanya saya sedikit mengalami kesulitan untuk melakukan itu. Lama tidak menyelam ditambah sedikit rasa panik karena ombak yang cukup besar, membuat saya lupa memakai teknik exhale dan inhale untuk mengosongkan dan mengisi paru-paru. Mestinya, agar bisa mudah tenggelam, saya harus banyak-banyak mengosongkan paru-paru.

Andik yang menjadi buddie saya pun tampak kewalahan. Menggunakan aba-aba tangan, dia berkali-kali memberikan instruksi. Hingga akhirnya dengan terpaksa dia menuntun saya untuk bisa tenggelam ke dalam air. Tangan kiri saya senantiasa digandengnya sembari kami meluncur ke kedalaman.

Tidak banyak yang terlihat di bawah air karena. Setidaknya itulah persamaan pengalaman yang saya temukan dari penyelaman kali ini dengan penyelaman setahun sebelumnya di Situbondo. Hanya saja saya tidak begitu yakin mengapa visibility menjadi tidak begitu maksimal.

Tetapi harus saya akui bahwa penyelaman kali ini lebih menantang. Selain ombak yang cukup kencang di permukaan, swell atau alunan ombak di kedalaman air yang membuat tubuh didorong maju mundur adalah pengalaman yang belum pernah saya temukan saat pertama kali menyelam di Situbondo.

Beberapa kali saya merasa tubuh ini ditarik ke belakang dan dihempaskan kembali ke depan. Di kedalaman sekitar 16 meter, saya berpegangan pada sebuah kubus beton untuk apartemen terumbu karang. Namun swell yang cukup kencang membuat beton yang saya jadikan pegangan beberapa kali terseret meski hanya beberapa centimeter. Yang ada, tubuh sayalah yang dibuat berputar-putar sambil tetap mempertahankan pegangan.

Penyelaman ini tidak berlangsung lama. Setelah Andik menyusun ulang empat beton yang ada di dasar laut, tangannya memberi kode ibu jari ke atas sebagai isyarat bahwa kami sebaiknya segera kembali ke permukaan. Setibanya di permukaan, jarak kami dengan perahu sedikit lebih jauh dibandingkan sebelumnya saat kami menceburkan diri. Rupanya swell di dasar laut telah membawa tubuh kami bergeser beberapa belas meter dari titik penyelaman yang direncanakan.

Lega namun tidak puas adalah yang saya rasakan ketika sudah kembali di permukaan.

Lega karena penyelaman berlangsung aman, tetapi tidak puas karena sebagian besar teknik yang telah saya pelajari silam tidak saya terapkan. Termasuk di antaranya adalah teknik mask clearing.

Ketidakpuasan lainnya adalah karena saya tidak cukup menikmati penyelaman hari itu. Keindahan panorama bawah laut, tidak bisa saya kuras sebanyak-banyaknya karena lebih fokus pada bagaimana cara tubuh saya menyesuaikan perbedaan kondisi di bawah air dengan kondisi normal di permukaan.

Di sisi lain, saya juga merasa sedikit bersalah karena membuat Andik kerepotan. (maaf ya mas bro..).

Anyway, setelah semua kembali ke dalam perahu, kami kembali berlayar menuju bibir pantai.

Meski kurang puas, setidaknya satu hal yang saya dapat dari penyelaman singkat itu : Perairan kabupaten Malang bisa menjadi objek wisata diving karena didukung kekayaan ekosistem di dalamnya. Tentu saja itu semua harus dijaga oleh semua pihak. Baik pengunjung, pemerintah, masyarakat setempat, dan komunitas-komunitas.

4 thoughts on “Judulnya Nyelam di Kondang Merak

  1. aq g kerepotan ma kewalahan koq mas bro….
    seneng sekali bs nyelam bareng merasakan adrenaline bawah laut…
    mngkn next dive penyesuaiannya lebih enak…
    karena sudah mengetahui medan….
    mulai awal maret cuaca clear…..bening2nya,,…..
    aq tunggu mas bro…
    untuk penyelaman berikutnya…..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s