14 Tahun Imlek (Barongsai Sudah Masuk Ponpes)


Sejak era kepemimpinan Gus Dur, olahraga dan kesenian Barongsai tumbuh subur dan bebas. Kini, bahkan di sejumlah pondok pesantren, kesenian asli Tionghoa ini juga dimainkan. Salah satunya adalah di Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan.

Di Ponpes yang didirikan KH Abdul Ghofur ini, barongsai sudah dimainkan sejak 2011. ”Di sini kami punya kelompok barongsai yang kami beri nama Abahir Lion and Dragon Dance,” kata Abdul Fatah, perintis barongsai di Ponpes Sunan Drajat.

Nama kelompok Barongsai di Ponpes Sunan Drajat ini diambil dari nama salah satu asrama di dalam ponpes, asrama Abahir. Di asrama tersebutlah, personil mula-mula Abahir Lion and Dragon Dance muncul di bawah bimbingan Abdul Fatah.

Ustaz 27 tahun ini melanjutkan, pertunjukan barongsai bukan sesuatu yang asing di Ponpes Sunan Drajat. Atraksi ini sering dimainkan saat Ponpes menggelar perayaan-perayaan seperti ulang tahun Ponpes. Tentu saja pemainnya adalah pemain dari luar yang dibayar dengan tarif antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.

Baru pada 2011, menjelang perayaan hari jadi Ponpes, muncul wacana untuk tidak lagi mengundang para pemain barongsai karena kendala biaya. Dari situlah, Abdul Fatah termotivasi untuk mengajak sejumlah santri memainkan sendiri barongsai sebagai alternatif. Kebetulan di masa kecilnya silam, Abdul Fatah pernah lama terlibat dalam kelompok barongsai di sebuah kelenteng di kampung halamannya di Bojonegoro.

Gayung pun bersambut. Inisiatif yang dilontarkan Abdul Fatah mendapat respon dari pengasuh Ponpes. Tidak mau membuang-buang waktu, dia pun meminjam kerangka barongsai dari sebuah kelenteng di Jombang.

”Untuk hiasan, saya buat dengan peralatan seadanya. Bahkan kain untuk kerangka badan barongsai yang harusnya dijahit, cuma disusun pakai lem,” lanjutnya.

Sedangkan untuk instrumen-instrumen musik pengiring barongsai, juga asal ada. Tidak harus sesuai pakem. Tambur atau sejenis kendang khas Tiongkok misalnya, digantikannya dengan instrumen perkusi yang biasanya dipakai untuk Hadroh. Sementara simbal (cai-cai), meminjam milik kelompok drum band Taman Kanak-Kanak di sekitar ponpes. Sedangkan kenong atau gong, segera dipesan dari tukang las besi.

”Setelah alat-alat semuanya jadi, kami langsung fokus latihan setiap pagi, sore, dan malam. Maklum waktu yang kami punya mepet. Hanya tiga hari. Jadi harus latihan intens,” kenangnya.

Meski pertunjukan barongsai yang sebenarnya berakar dari permainan bela diri Wushu, namun di Abahir Lion and Dragon Dance, gerakan para pemain barongsai tidak harus berdasarkan jurus-jurus Wushu. Hanya saja, tetap ada gerakan-gerakan dasar yang memang harus dikuasai pemain.

Hari pertunjukan pun tiba. Dengan persiapan dan peralatan seadanya, kelompok Abahir Lion and Dragon Dance berhasil memukau banyak penonton. Namun, tetap saja ada kelompok-kelompok yang mempertanyakan adanya pertunjukan tersebut di lingkungan ponpes.

”Banyak yang bertanya kok bisa ada barongsai di lingkungan Ponpes. Jawaban dari pertanyaan itu adalah bahwa barongsai ini bukan lagi identik dengan agama, tetapi sudah masuk dalam olahraga. Buktinya sudah ada FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia). Memang agak susah-susah gampang untuk memberikan pemahaman seperti itu,” paparnya.

Kini sudah hampir empat tahun barongsai hadir di Ponpes Sunan Drajat. Seiring dukungan dari banyak pihak, khususnya pengasuh Ponpes, peralatan-peralatan pendukung pun dilengkapi. Sudah ada tujuh kostum barongsai dan dua naga leong yang lebih indah, alat musik tambur yang dibeli dari malaysia, dan peralatan lain yang menjadi pakem permainan barongsai.

Kelompok ini kerap bermain di berbagai panggung, mulai sebagai hiburan pesta khitanan, hingga Maulid Nabi.

Sayangnya, aktivitas pelestarian barongsai di Ponpes Sunan Drajat belum sampai mengarah pada upaya melahirkan atlet-atlet baru. Maklum, para santri yang tergabung dalam Abahir Lion and Dragon Dance, adalah santri kelas 3. Setelah setahun berlatih, mereka lulus dan meninggalkan pondok untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

”Setelah mereka lulus dari kelas tiga, mereka pergi dan kami merekrut anggota lagi. Seperti itu yang terus berulang sehingga sulit untuk melahirkan atlet-atlet baru,” kata Abdul Fatah.

Abdul Fatah melihat ada dampak-dampak  positif kehadiran barongsai bagi para santri di ponpes Sunan Drajat. Para santri dianggapnya lebih bisa menghargai budaya orang lain dan memahami bahwa barongsai tidak identik dengan kemusyrikan serta bisa dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat.

”Selain itu, fisik mereka juga lebih terlatih,” tuturnya mengakhiri.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s