Mencari “Spasi” di Bali


Bertemu seseorang di sebuah pantai di kawasan selatan pulau Bali yang disebut pantai Blue Point
Bertemu seseorang di sebuah pantai di kawasan selatan pulau Bali yang disebut pantai Blue Point

Spasi : ruang kosong yang memisahkan kata dengan kata yang lain. Apa jadinya kata-kata dan kalimat ditulis tanpa spasi? Kacau! Membacanya tentu melelahkan.

Itu pula dalam hidup. Tanpa spasi, hidup jadi melelahkan! Di hidup sehari-hari, manusia butuh spasi. Ruang jeda di antara kesibukan untuk membentuk harmoni pikiran. Di Bali, “spasi” inilah yang saya cari.

Perjalanan ke Bali saya lakukan pertengahan Februari, tepat di hari yang disebut orang sebagai hari Kasih Sayang. Perjalanan ini masih menjadi rangkaian dari kemenangan saya dalam kompetisi blog 10 Tahun AirAsia Indonesia.

Saya suka Bali.

Di pulau seribu Pura ini ada harmoni. Semarak pesta pora di Legian dan Kuta, ada dan berdampingan dengan keheningan pedesaan hijau di Ubud. Di semuanya itu, ada masyarakat yang senantiasa mengingat Tuhannya. Di depan rumah, di perempatan jalan, serta di Sanggah (Pura kecil), selalu bisa ditemukan sesaji berupa aneka bunga di atas nampan kecil berbahan janur.

Di Bali saya memilih cara unik menikmati perjalanan. Pagi hari setiba di bandara Ngurah Rai, saya memilih tidak menggunakan jasa taksi atau ojek untuk menuju hotel tempat saya akan menginap. Tawaran-tawaran dari sopir taksi dan tukang ojek, saya tolak secara halus sambil tersenyum : “Terimakasih. Saya jalan kaki saja. Perjalanan saya dekat,” begitu jawaban saya setiap mereka memberikan tawaran untuk menggunakan jasanya.

Benar. Saya memang berjalan kaki dari bandara menuju hotel di kawasan Legian. Di peta, jarak dua lokasi ini sekitar delapan kilometer. Lelah? Itu sudah pasti.

Tapi saya punya pertimbangan lain sehingga memilih berjalan kaki di hari itu.

Saya ingin merasakan dan mengalami komunikasi-komunikasi ringan dengan orang-orang Bali yang saya jumpai. Komunikasi-komunikasi ringan ini terjadi saat saya menanyakan arah mana yang harus saya lewati atau saat saya mampir membeli sebotol air mineral.

Saya juga ingin memandangi sedikit lebih lama, bangunan-bangunan dan rumah bergaya Bali yang ada di kanan kiri jalan. Kalau beruntung, saya bisa melihat betapa khusuknya seorang perempuan berkebaya yang menyalakan dupa, lalu berdoa dan meletakkan sesaji di atas Sanggah. Doa-doanya seakan tak terganggu hilir mudik kendaraan yang melintas di sekitarnya.

Peselancar bersitirahat di tepi pantai Kuta
Peselancar bersitirahat di tepi pantai Kuta

Dalam perjalanan, saya melewati pantai Kuta. Di sini, suasana riuh jauh lebih terasa. Para wisatawan asing berjemur di atas pasir pantai dan sebagian berselancar. Sementara wisatawan lokal, kebanyakan hanya asyik bermain air di tepi pantai sambil sesekali beraksi selfie di depan kamera. Tak sedikit yang hari itu membawa tongsis (tongkat narsis) sebagai senjatanya.

Di tepi pantai Legian, saya singgah di sebuah warung yang menjajakan aneka buah segar. Sambil bersitirahat di salah satu kursinya, saya memesan es degan segar. Dayu, begitu si penjual memperkenalkan dirinya, memberi saya harga diskon setelah tahu saya baru saja berjalan kaki sejak pagi dari bandara. Saat itu, jam menunjuk sekitar pukul 12.00 WITA.

IMG_1723
Inilah Dayu, penjual buah segar di sekitar Pantai Legian. Lihat, buah mangga yang dia jual, besarnya sama dengan nanas!

“Buat kamu, saya beri harga murah saja. Kalau ke turis-turis asing, biasanya saya jual 25 ribu sampai 30 ribu,” kata Dayu.

Hampir dua jam saya duduk santai di tempat Dayu dan menyaksikan bagaimana dia melayani turis-turis asing yang membeli buah-buahan segar. Dayu yang berusia 60 tahun dan berasal dari desa kecil tak jauh dari Denpasar ini rupanya cukup fasih berbahasa Inggris. Kemampuannya itu adalah buah pengalaman selama bertahun-tahun melayani pembeli dari berbagai negara.

Banyak hal menarik kami bicarakan. Dayu cerita banyak tentang orangtuanya yang punya 12 anak, tentang anak bungsunya yang menjadi anggota polisi di Palu, hingga tentang persaingan bisnis sesama pemilik warung di tepi Pantai Legian. Pembicaraan kami yang hangat, tuntas saat Dayu meminta permisi untuk mempersiapkan sesaji.

IMG_1823
UBUD – Bagi pencari tempat yang tidak terlalu ramai di Bali, pedesaan di Ubud bisa jadi alternatif yang layak dikunjungi.

Segera saya kembali beranjak dan melanjutkan jalan kaki menuju hotel. Di dalam kamar, saya menyusun rencana perjalanan esok hari. Sebuah pedesaan dengan sawah menghijau di Ubud serta beberapa pantai di kawasan selatan pulau Bali saya masukkan dalam daftar rencana perjalanan.

Tak lama, beberapa email yang masih terkait dengan pekerjaan, masuk ke ponsel saya. Sengaja saya tidak membalasnya. Saya akan membalasnya begitu rangkaian perjalanan saya di pulau Dewata tuntas. Begitu juga beberapa panggilan dan sms yang masuk, yang masih terkait pekerjaan, saya abaikan. Sebab ada “spasi” yang harus saya cari di sini. Di Bali.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s