AirAsia Blogger Community (AABC) 2015 Part II – Untuk Pertama Kali Seumur Hidup, Mules di Pesawat


Setengah jam lagi, pesawat kami menuju Don Mueang, Bangkok, lepas landas. Pengeras suara di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sudah beberapa kali memanggil para penumpang agar segera memasuki pesawat. Di saat bersamaan, kami berdua belas—blogger dan vlogger peserta AirAsia Blogger Community 2015 (AABC 2015) plus Nia—masih asyik menikmati menu pilihan masing-masing di kedai Starbuck. “Tenang, tunggu sebentar nanti dari AirAsia akan ada yang membantu kita memasuki imigrasi biar nggak pakai antre,” kata Nia.

Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia :)
Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia🙂

Tidak lama setelah foto bareng, kami beranjak dari kursi masing-masing menuju pesawat. Benar yang dikatakan Nia, kami tidak perlu antre saat melintasi pintu imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Kok bisa begitu ya? Jadi, untuk keberangkatan para peserta dari Indonesia, AirAsia Indonesia memang memberikan layanan Red Carpet. Nah, layanan Karpet Merah inilah yang memungkinkan kami dapat pelayanan ekstra selama proses keberangkatan. Pokoknya, bener-bener bisa membuat kami berjalan layaknya penumpang VVIP. Dari awal sampai akhir, layanannya totally personal! Dimulai dari proses Check-in misalnya, sudah disiapkan konter khusus. Di konter ini, nggak perlu antre terlalu lama. Begitu juga saat akan melalui prosedur imigrasi, staf AirAsia sendiri yang akan mengurus sampai tuntas. Di situ kami cukup menyerahkan paspor kami ke Nia. Sambil menunggu proses di imigrasi ini, kami cukup menunggu sambil nyeruput kopi. Tenang saja, paspornya bakalan dikembalikan kok. Aman!

+++

Jelang jam 06.55, saya berada di dalam pesawat juga pada akhirnya. Lepas landasnya pesawat benar-benar mulus. Berbeda dengan kondisi perut saya yang mendadak mules, mungkin karena semalaman begadang di luar bandara. Saking mulesnya, keringat mulai bercucuran karena berusaha keras menahan gejolak dalam perut. Di awal penerbangan, bubar sudah rencana saya untuk tidur nyenyak di dalam pesawat. Begitu tanda sabuk pengaman boleh dilepaskan sudah menyala, saya bergegas lari ke belakang, menuju lavatory. Ehm, sepanjang pengalaman menumpang pesawat, inilah pertama kalinya saya melakukan ritual membuang “limbah perut” di pesawat. (secret finally revealed). Agak bingung juga karena nggak terbiasa pakai tisu. Setelah urusan perut beres, saya mulai berusaha memanfaatkan waktu tersisa untuk tidur. Kali itu tidur saya cukup nyenyak. Selain karena memang sudah ngantuk berat, saya juga merasa nyaman karena di penerbangan kali ini saya mendapat layanan Tune Insure dari AirAsia. Jadi, Tune Insure ini adalah asuransi perjalanan yang ditawarkan AirAsia Indonesia buat para pelanggannya. Dengan asuransi ini, penumpang mendapat perlindungan perjalanan secara menyeluruh, mulai dari sebelum penerbangan, saat penerbangan, dan setelah penerbangan. Apa saja yang dicover Tune Insure? Jadi sebelum penerbangan, penumpang yang sudah jadi tertanggung, bisa mendapat klaim apabila batal terbang karena penumpang atau anggota keluarganya mendadak harus digotong ke rumah sakit gara-gara sakit atau kecelakaan. Selama penerbangan, lebih banyak lagi kondisi yang akan dicover Tune Insure. Di antaranya : Penggantian biaya pengobatan karena kecelakaan selama penerbangan, perlindungan untuk bayi, keterlambatan bagasi, on time guarantee (ganti rugi apabila pesawat delay di atas 2 jam karena kesalahan maskapai), fly thru-missed flight connection atau apabila tidak tersedia penerbangan terjadwal lanjutan saat transit minimal enam jam sejak jadwal penerbangan lanjutan sebelumnya, evakuasi atau pemulangan jenazah darurat, dan masih banyak manfaat lainnya yang bikin penerbangan benar-benar nyaman. Nggak cuma saat penerbangan berlangsung, perlindungan dari Tune Insure juga masih berlaku kalau bagasi dan barang milik pribadi penumpang rusak. Aah, pokoknya nyaman deh.

+++

Setiba di Don Mueang, seorang ibu menjemput kami di pintu kedatangan. “Sawadee kha..” kata ibu itu. Sawadee adalah ucapan khas ala Thailand yang berarti Hello. Kalau kata ini diucapkan oleh perempuan, maka di belakangnya harus diberi tambahan Kha. Berbeda lagi kalau yang mengucapkan laki-laki, maka akan berbunyi Sawadee Khap. Nah, yang masih bikin saya bingung, kalau lady boy bagaimana ya? Di Thailand kan jumlah lady boy cukup banyak.. hmmm… Jadi, sesuai janji Nia yang batal ikut terbang bersama kami karena harus mengurus visa ke Kedutaan Perancis, waktu kami tiba di Don Mueang, akan ada van yang menjemput dan mengantar kami ke hotel Eastin Grand Hotel Sathorn, pusat kegiatan AABC 2015. Nah, ibu itu tadilah yang menjemput kami. Di luar bandara, sebuah van sudah menunggu kami. Berbeda dengan kebanyakan di Indonesia, pengemudi van ini adalah perempuan. Biar perempuan, tapi kelihaiannya mengemudi mobil melintasi jalanan Bangkok yang padat, sudah sangat teruji. Beberapa kali pedal gas diinjaknya dalam-dalam, ngebut. Jadinya, kurang lebih sejam kami sudah sampai di hotel. Hari itu belum ada agenda AABC 2015 alias free time. Jadi peserta yang sudah datang di hotel, bebas mau pergi ke mana saja dan ngapain saja selama sehari itu. Mau tahu ngapain saja saya selama free time? Sabar, tunggu edisi berikutnya ya. Udah kepanjangan nih.. heheheehe..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s