AABC 2015 Part IV : One Plate, Five Nations


Ilin, blogger asal Thailand mengatakan bahwa temperatur di Bangkok hari itu terbilang hangat. Setidaknya, tidak sepanas pekan sebelumnya yang mencapai 40 derajat celsius. Saya pun  melongo mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak? Saat saya sudah merasa begitu kepanasan, dia masih mengatakan bahwa temperatur saat itu masih cukup hangat. Wow!

Tetapi itulah Bangkok. Panasnya tidak jauh berbeda dari tahun lalu saat saya nge-trip ke sana untuk pertama kalinya. Sungguh bikin kepala senat senut.

Ilin berkata demikian saat kami baru saja keluar dari hotel dengan tergesa-gesa. Memang harus tergesa-gesa, karena hari itu kami harus beradu cepat dengan kelompok blogger lainnya dalam ajang Photo Hunt Competition.

Setelah di hari pertama diberi waktu bebas, sekitar 70 blogger dari berbagai negara yang ikut serta dalam AABC 2015, diajak untuk berkompetisi. Kami, dua belas blogger dan vlogger dari Indonesia, tidak lagi disatukan dalam satu kelompok. Kami dipecah, lalu masing-masing dijadikan satu kelompok dengan sejumlah blogger dari negara-negara lain. Sebelumnya, kami tidak saling kenal satu sama lain.

Bersama Ilin, saya tergabung dalam kelompok 10. Selain kami berdua, di kelompok ini ada Caroline dari Malaysia, Kana dari Jepang, dan Ying Chen Yang dari China.

Group 10
AABC2015G10

Sebelum meninggalkan hotel, oleh panitia kami diberi pengarahan tentang kompetisi ini. Masing-masing dari kami juga diberi bekal selembar kartu BTS (Bangkok Mass Transit System) untuk menumpang kereta, uang 1.500 Baht, T-shirt dan topi, luggage tag, dan ID Card, dan dua buah pewarna bibir (sampai sekarang saya tidak tahu fungsi pewarna bibir ini untuk saya J ).

Jadi, ada lima tugas yang harus kami kerjakan dalam kompetisi bertema Discover Thainess ini :

Tugas 1 : Peserta harus berfoto selfie dengan makanan khas Thailand, lalu mem-posting foto tersebut di akun instagram dengan hashtag #AABC2015G10 #AIRASIA dan #THAIFOOD

Tugas 2 : Peserta berfoto selfie dengan latar belakang kuil terkenal di Bangkok, lalu memposting hasilnya di Instagram dengan hashtag #AABC2015G10 #AIRASIA dan #THAISHRINE

Tugas 3 : Peserta berfoto sambil melompat dengan latar belakang pusat perbelanjaan terkenal di Bangkok, lalu memposting hasilnya di Instagram dengan hashtag #AABC2015G10 #AIRASIA dan #THAILANDSHOPPINGPARADISE

Tugas 4 : Peserta berfoto selfie dengan latar belakang apapun yang hanya bisa ditemukan di Thailand (Tuk-tuk misalnya), lalu memposting hasilnya di Instagram dengan hashtag #AABC2015G10 #AIRASIA dan #THAINESS

Tugas 5 : Peserta berfoto bersama di depan logo AirAsia yang bisa mereka temukan di mana saja di sekitar Bangkok, lalu memposting hasilnya di Instagram dengan hashtag #AABC2015G10 #AIRASIA dan #NOWEVERYONECANFLY

Setelah diskusi singkat, kami berlima sepakat menunjuk Ilin sebagai ketua kelompok kami. Maklum, sebagai blogger Thailand, sudah pasti dialah yang paling tahu tempat-tempat di Bangkok yang harus kami datangi untuk menyelesaikan tugas-tugas itu tadi. Walau Ilin yang jadi ketua, tetapi untuk urusan posting ke Instagram, Caroline lah yang lebih ahli dan lebih sigap.

Kompetisi pun dimulai. Para peserta berebut keluar dari ruangan di lantai 12 dan buru-buru turun agar menjadi yang tercepat. Maklum, yang tercepat kembali ke hotel adalah yang akan keluar jadi juara nantinya.

Sayangnya di lantai itu hanya ada 4 lift. Maka begitu pintu lift terbuka, para peserta pun berebut masuk lebih dulu. Ujung-ujungnya, tanda overload di dalam lift berbunyi. Yang masuk paling belakangan, kudu ikhlas menunggu giliran lift berikutnya.

Saat keluar dari hotel, Ilin memimpin kami berlari ke arah tempat pemberhentian BTS, tepat di depan hotel. Dengan kereta ini, kami bergerak ke arah pusat perbelanjaan Siam Paragon di kawasan Rama I Road. Begitu sampai di sana, buru-buru kami berfoto sambil melompat . Task Number 3 Accomplished!

Siam Paragon JumpingDari Siam Paragon, kami cepat-cepat berlari ke sebuah kuil. Saya tidak tahu apa nama kuil ini. Ilin lah yang paling tahu. Makanya, kami tidak banyak protes waktu dia memilih tempat itu untuk kami menunaikan tugas kedua. Berfoto di dekat kuil. Task Number 2 Complete!

Thai ShrineMasih di kawasan Rama Road, kami lanjut berlari ke sebuah gang kecil. Setelah gang ini kami telusuri, barulah saya tahu kalau ini adalah tempat makan. Layaknya warung-warung di pasar tradisional, para penjual makanan berjajar memanjang berhadap-hadapan. Di tengahnya, terdapat meja panjang di mana orang-orang sedang asyik menyantap makan siang masing-masing.

“Ini tempat makan para pekerja. Kalau waktunya jam makan siang, para pekerja banyak yang berkumpul di sini untuk makan,” kata Ilin menjelaskan.

Setelah bercerita singkat, Ilin memesan lima gelas es teh (saya kira hanya Indonesia yang punya es teh. Ternyata Thailand pun punya) dan sepiring nasi goreng. Bedanya dengan nasi goreng yang ada di Indonesia, nasi goreng yang dipesan Ilin ini dicampur dengan aneka sayuran yang masih mentah, yang di Indonesia sering dijadikan bahan lalapan. Kacang panjang dan buncis segar misalnya, dipotong kecil-kecil dan dijadikan taburan nasi goren.

Usai foto sambil berakting makan, Caroline kembali sibuk dengan ponselnya. Rupanya sejak tadi dia kesulitan mengirim foto terakhir melalui instagram. Makanya, saat kami berempat (saya, Ilin, Kana, dan Ying) asyik mencicipi nasi goreng pesanan Ilin, Caroline yang sangat berhasrat untuk menang, memilih pergi sejenak mencari ruang dengan sinyal terbaik.

Sebelum Nasi goreng habis, Caroline sudah kembali. Dia buru-buru mengajak kami meninggalkan tempat tersebut dan menyelesaikan tugas terakhir. Tetapi sebelum pergi, kami memaksanya untuk ikut menghabisi nasi goreng yang sudah kami pesan. Maka jadilah sepiring nasi goreng itu dihabiskan oleh lima orang dari negara berbeda. One Plate Five Nations! Hoorray! Task Number 1, Complete!

(Left to the Right) Kana from Japan, Me from Indonesia, Caroline from Malaysia, Ying from China, Ilin from Bangkok
(Left to the Right) Kana from Japan, Me from Indonesia, Caroline from Malaysia, Ying from China, Ilin from Bangkok

Dari tempat makan, kami mencari latar belakang foto yang kira-kira sesuai dengan tugas keempat. Karena berpikir bahwa foto di depan tuk-tuk sudah sangat mainstream, kami pilih foto bareng di depan sebuah layanan Thai Massage. Awalnya kami ragu-ragu apakah layanan pijat ini hanya ada di Thailand atau di negara lain pun ada dengan nama yang berbeda. Apalagi di Indonesia bukannya juga banyak layanan pijat tradisional! Tapi sudah kepalang tanggung. Kami sudah sampai di depan tempat pijat. Maka jadilah kami foto di situ. Task number 4 accomplished!

Thai MassageTersisa satu tugas. Kali ini kami sedikit bingung menemukan logo AirAsia di sepanjang jalan yang kami lewati. Untungnya, Caroline tiba-tiba ingat bahwa di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari situ, di sekitar tempat hiburan anak-anak, terdapat counter penjualan tiket AirAsia. Di situ juga, ada semacam miniatur pesawat AirAsia. Jadilah kami berfoto di depannya dengan gaya YOLO (You Only Live Once). Finally, mission accomplished! Kami pun buru-buru kembali ke stasiun BTS dan menumpang kereta kembali ke arah hotel.

yolo3+++

Keseruan tidak selesai sampai di situ. Setelah kembali ke hotel dan menjadi kelompok keempat yang berhasil mencapai hotel, kami diberi kebebasan untuk melakukan apa saja, namun hanya sampai jam 6 sore. Bersama kelompok lainnya, kami menghabiskan sisa jatah Baht yang sebelumnya diberikan panitia untuk makan bersama di MBK Food Island.

MBK Food Island ini, kalau di Indonesia akrab dengan istilah Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada). Bedanya, kalau di Pujasera, pembayarannya masih ala tradisional. Sedangkan di Bangkok ini, kami harus membayar menggunakan semacam kartu debit. Untuk dapat kartu debit ini, konsumen harus menyetorkan sejumlah uang ke kasir yang sudah tersedia di sudut ruangan.

menu Pujasera ala MBKSetelah masing-masing sudah mendapatkan kartunya, barulah kami bisa memesan makanan di gerai manapun yang kita mau. Untuk bayar, cukup serahkan kartu itu. Pemilik gerai akan menggeseknya pada sebuah mesin pembaca kartu. Setelah digesek, praktis sisa saldo di kartu tersebut berkurang sesuai dengan harga makanan yang dipesan. Kalau sudah kenyang dan saldo di kartu tidak habis, kartu tadi bisa diserahkan kembali dan sisa uangnya akan dikembalikan oleh petugas. Anyway, kapan ya di Indonesia bisa dibikin canggih seperti ini??

Kami tidak bisa berlama-lama jajan. Jam 6 sorenya kami sudah harus sudah tiba di hotel dan mengikuti AABC 2015 party. Soal party ini, nanti akan saya ceritakan sendiri ya… See you.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s