IMG_4658

#AABC 2015 – Dugem Pakai Blangkon dan Busana Sunda (end)


Duh, setelah sebulan lewat, baru sempat mau melanjutkan nulis soal hari terakhir #AABC2015 nih. Maaf yah.. Untung nggak kelupaan.

Oke, kali ini saya putuskan untuk menuntaskan utang saya menyelesaikan tulisan AABC 2015 di Bangkok.

Lanjutt…….

 

Anyway, pernah liat laki pake baju adat Sunda (plus blangkon di kepala) dugem bareng cewek-cewek cakep dari Jepang berbaju kimono?

Nah, pesta yang begitu itu cuma ada di blogger party AABC 2015. Jadi ceritanya, setelah semua blogger selesai berkompetisi di rally photo hunt dari pagi sampai siang, malamnya kami diundang pesta bareng. Yang menarik, di pesta kali ini para blogger wajib mengenakan busana nasional masing-masing.

Sekitar jam 6 sore, tim Indonesia sudah berbaris memasuki area party. Saya dan Mita, kebagian pakai busana adat Sunda. Mbak Nurul Noe dan Wira, pake baju Bodo ala Sulawesi Selatan, Leon dan Listia pakai busana ala Tionghoa, dan mas Tekno Bolang sama si Teppy pakai baju batik.

Foto dulu sebelum mulai party mulai
Foto dulu sebelum mulai party mulai

Pas baris, mas Tekno dan si Teppy kebagian berdiri paling depan sambil bawa bendera Merah Putih yang diikat di tongsis. Merdeka!! Hehehe…

Begitu selesai registrasi, kami semua langsung masuk ke ruangan pesta. Di dalam, para blogger sudah pada datang. Mereka asyik menikmati sajian live music sambil makan dan minum sajian yang sudah disediakan panitia. Nggak berbeda dengan rombongan Indonesia, mereka juga terlihat bangga mengenakan busana khas Negara masing-masing.

IMG_4667

Kana, blogger dari Jepang misalnya, pakai kimono ala Oshin. Bedanya, rambut dia yang di-highlight sebagian, tidak disanggul layaknya geisha jaman dulu. Blogger dari Thailand nggak kalah seru. Ada salah satu dari mereka, memakai busana ala prajurit Thailand tempo dulu. Seru deh pokoknya, cakep-cakep, nggak ada yang nggak cakep.

Tetapi bukan cuma busana peserta yang bikin saya tertarik. Di bar, para waiter dan waitress sudah sibuk menuangkan red wine dari botol ke dalam gelas. Sudah bisa ditebak, minuman ini yang pertama saya ambil dibandingkan minuman lainnya. Kalau nggak salah ingat, sepanjang malam itu saya menenggak sekitar tujuh gelas red wine. Ini belum termasuk beberapa gelas wiski.

Saking banyaknya minuman yang saya tenggak, Nia mengingatkan saya untuk nggak mabok. J bisa bikin malu tuh! Tapi untungnya, pusingnya kepala tidak bertahan lama. Begitu acara mau bubar, kepala sudah fresh lagi.

Tetapi sebelum acara bubar, AirAsia membagikan doorprize berupa tiket pergi pulang ke mana saja untuk beberapa blogger yang beruntung. Dan tim Indonesia kembali beruntung karena mendapat undian paling banyak dibanding blogger dari Negara lain. Horee!!! Selamat ya Mita, Teppy, mas Tekno, Wira, dan Marius!

Setelah bagi-bagi hadiah, mulai deh DJ cakep beraksi di atas panggung, memainkan lagu ajeb-ajeb. Wah, kita dari Indonesia kaya’nya paling semangat deh. Soalnya, biar blogger lain sudah pada cabut, kita masih aja di depan panggung, dugem bareng-bareng.

So, bisa bayangin ada orang pake baju adat Sunda, berblangkon, bawa gelas isi anggur, goyang-goyang dugem? Hahaha, itulah saya!

Pesta pun bubar……

AirAsia Blogger Party boleh aja bubar party. Tapi buat blogger-blogger Indonesia, malam belum tuntas. Setelah mengganti pakaian masing-masing, kami keluar hotel lalu jalan-jalan ke kawasan Pecinan. Makan besar lagi!

Polantas versi ThailandSetelah perut pada kenyang, tengah malam kita udah pada balik ke hotel. Tapi masih ada bungkusan makanan yang belum kami makan. Duren!!!

Tapi karena aromanya yang hmmmmmm… jadi sama pihak hotel, durennya nggak boleh dibawa masuk ke lobby, apalagi kamar. Jadinya, duren montong seharga 500 baht itu kita bantai bareng-bareng di luar hotel deh.

Setelah duren habis, mau nggak mau kami kudu balik kamar masing-masing. Besok paginya beberapa orang yang nggak extend di Bangkok udah harus balik ke Indonesia. Capcuss…..

Keesokan harinya….

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Indonesia, terbang jam 10.45 waktu Bangkok. Pesawat sama sekali nggak delay, jadi kira-kira jam 2, rombongan saya yang pulang lebih awal, sudah landing dengan selamat di bandara Sukarno Hatta.

Di dalam tas, tiket saya untuk balik ke Surabaya sudah siap. Kira-kira jam 4, penerbangan saya itu pun siap. Aah, masih ada dua jam untuk nunggu. Jadi merokok dulu lah yaaa….

Setelah setengah jam habisin rokok, dari terminal tiga, saya pakai shuttle bus ke terminal 1 Soekarno Hatta. Dalam bayangan saya, pesawat saya ke Surabaya memang akan terbang dari terminal satu.

Di dalam shuttle bus, tiket pesawat saya keluarkan. Setelah cek dan ricek lagi, barulah saya melongo….

“TERNYATA PESAWAT YANG AKAN BAWA SAYA KE SURABAYA, TIDAK TERBANG DARI SOEKARNO HATTA, TAPI DARI HALIM PERDANA KUSUMA!”

Sampai di terminal satu, saya mulai agak gelisah. Bingung kudu ngapain. Mau nggak mau, harus naik taksi ke Halim Perdanakusuma. Waktu tanya sopir tentang waktu tempuh ke Halim, dijawabnya sekitar lebih dari satu jam atau bahkan bisa dua jam. Apalagi jam segitu Jakarta memang sedang macet-macetnya.

Oke, saya ambil resiko. Waktu yang saya punya cuma sejam. Kali ini spekulasi deh, kalau lama di jalan dan ketinggalan pesawat, berarti mau nggak nggak mau harus beli tiket baru untuk pulang. Setelah browsing harga tiket lewat hp untuk penerbangan lain di sore itu, harganya sudah di atas 1 juta perak. Duh…

Benar saja, nyampe bandara Halim sudah jam 4.30. Pesawat saya sudah terbang tiga puluh menit sebelumnya. Setelah konsultasi (bahasanya tanya-tanya) ke beberapa petugas tiket bandara, disarankan untuk beli tiket go show. Artinya, kalau ada penumpang yang tidak datang di penerbangan berikutnya, kursinya bisa saya beli. Jadi selama sekitar sejam itu saya cuma bisa berharap ada penumpang yang bernasib sama seperti saya : Salah bandara! (jahat yaa…)

Untungnya di penerbangan berikutnya memang ada satu penumpang yang tidak kunjung datang meski sudah dipanggil beberapa kali agar segera masuk pesawat. Jadilah kursi untuk penumpang itu saya beli, meski dengan harga yang lebih mahal dari tiket penerbangan saya yang sebelumnya raib.

 

Pesan moral :

Jadi, sampai di Surabaya sudah hampir jam 9 malam. Kalau saja nggak salah bandara, saya harusnya sudah bisa sampai sebelum jam 7 malam. Aah, mulai hari itu, nggak mau lagi ceroboh beli tiket. Setidaknya harus pastikan dulu di bandara mana pesawat kita akan terbang. Kalau salah tempat, yang melayang bukan kita, tapi duit melayang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s