Lebaran dan Kopiah Mbah Mangun


Meski tidak memperingati Idul Fitri, namun ikut berlebaran sudah menjadi tradisi bagi keluarga kami.
Maklum, keluarga dari pihak ayah maupun ibu, seluruhnya muslim.
Belum lagi, baik ayah maupun ibu, adalah pihak tertua yang selalu dikunjungi adik-adiknya bersama anak dan cucu masing-masing.

Maka wajar apabila kami ikut menyambut kedatangan mereka di rumah kami.

Bagi saya sendiri, lebaran selalu bermakna pertemuan. Kerabat, saudara, dan teman yang jauh merantau, kembali pulang ke Malang untuk beberapa hari. Di waktu-waktu itulah kami bertemu, ngobrol ngalor ngidul sambil nyeruput kopi.
Tapi lebaran kali ini ada pertemuan yang istimewa, yang tidak terjadi di lebaran-lebaran sebelumnya. Di lebaran kali ini, saya dipertemukan kembali dengan kopiah milik almarhum mbah Mangun, ayah dari ibuku.
Kopiah ini, dulu selalu dipakai mbah Mangun kemana pun beliau pergi. Termasuk di tahun 90-an, saat tanpa sepengetahuan siapapun berkunjung ke rumah kami, demi bertemu dengan cucu-cucunya.
Saat itu, Mbah Mangun masih tinggal di dusun Sumber Gesing, Desa Bumirejo, Dampit, Kabupaten Malang. Sedangkan kami tinggal di perkampungan Bareng, kota Malang. Dua daerah itu dipisahkan jarak sekitar 40 kilometer. Untuk menempuhnya, mbah Mangun menumpang colt. Jaman itu, memang belum ramai mikrolet.
Tentang penampilan mbah Mangun, aku bisa gambarkan demikian: kurus, tinggi, kepala hampir botak dengan sisa-sisa rambut yang seluruhnya putih perak, mata sipit, berkacamata tebal, berkulit kuning, gemar mengenakan jas coklat, dan selalu mengenakan sandal Lily. Kabarnya, sandal karet yang punya warna-warni mencolok itu sudah semakin sulit ditemui di masa kini.
Tentang sifatnya, mbah Mangun orang yang sabar. Setidaknya demikian dikatakan orang-orang yang mengenalnya dekat. Bahkan menurut beberapa orang di desanya, konon, kesabaran mbah Mangun diperoleh dari ngelmu. Jadi ilmu yang didalami beliau, bukan ilmu-ilmu kanuragan atau kemampuan linuwih lainnya, melainkan ilmu sabar.
Entah benar atau tidak, namun demikianlah nyatanya. Sepanjang mengenal beliau, tidak pernah kami dibentaknya. Kalaupun harus menegur, selalu dilakukan dengan tutur yang lembut (sayang, ilmu yang sama belum bisa kami praktikkan sampai sekarang).
Waktu saya kelas 5 SD, mbah Mangun meninggal dunia. Kabar duka itu saya peroleh menjelang siang, saat jam pelajaran masih berlangsung. Orangtua pun menjemput saya dari sekolah dan mengajak pergi ke Lawang, Kabupaten Malang.
Di kecamatan paling utara Kabupaten Malang itulah, selama beberapa tahun terakhir menjelang kepergiannya, mbah Mangun dan istrinya, Mbah Rah, tinggal. Di sana, setelah menjual tanah dan rumah di Dampit, keduanya menumpang tinggal di kediaman putri keduanya: Bude Tumik.
Setelah jenazah dimakamkan, malamnya saya masuk ke kamar Mbah Mangun. Di kamar yang berpenerangan bohlam itu, selama beberapa bulan sebelum meninggal, mbah Mangun terbaring sakit. Kata orang, sakit sepuh.
Di kamar itu, tatapan saya tertumbuk pada sebuah kopiah yang tergantung di dinding. Saya ambil kopiah itu, lalu memakainya. Sambil menatap ke cermin, saya berpikir: “kopiah ini terlalu besar untuk ukuran kepala saya”.
Meski tidak seukuran, namun ada keinginan untuk memiliki kopiah itu sebagai kenang-kenangan dari mbah Mangun. Keluar dari kamar, saya menemui Mbah Rah dan mohon izin untuk membawa pulang kopiah mbah Mangun. Beliau memberi izin.
Waktu berlalu. Bertahun-tahun sudah kopiah itu terlupakan. Tidak tahu entah di mana. Usaha untuk menemukannya pun sia-sia. Saya kira, kopiah Mbah Mangun sudah hilang. Mungkin tak sengaja ikut terbuang ketika kami pindah rumah.
Tetapi begitu pulang dari Surabaya beberapa hari lalu, saya melihat kopiah itu ada di lemari bapak. Dia berada setumpuk dengan kopiah bermotif milik bapak. Ternyata kopiah ini masih ada. Tidak kotor, tetapi beberapa bagian di dalamnya sudah mulai terkoyak. Wajar, mungkin dimakan usia.
Saya coba memakainya di depan cermin. Kali ini muat, pas di kepala saya. Tidak longgar seperti ketika saya masih kelas 5 SD.
Diam-diam, saya sumringah bukan main. Lebaran ini, meski bukan milik saya, tetapi saya dipertemukan lagi dengan kopiah mbah Mangun. Mendadak, saya merindukan beliau. Saya ingin belajar “ilmu sabar” darinya..
***

Dengan mengenakan kopiah mbah Mangun, saya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada rekan-rekan dan saudaraku yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s