Dukun Pandhita menaikkan puja puji sebelum persembahan dilempar ke kawah Bromo

Kasada: Merayakan Persahabatan Dengan Bromo


Bromo dan Suku Tengger tak bisa dipisahkan. Keduanya laksana ibunda dan anak. Ada hubungan kasih yang tak kasat mata, namun terasa kental

Romansa antara Bromo dengan suku Tengger telah berlangsung lama. Konon, kedekatan antara keduanya telah terjalin sejak nenek moyang suku Tengger: Roro Anteng dan Joko Seger mengadakan perjanjian dengan Dewata. Kesepakatan itulah yang terkenang sampai kini dan dimanifestasikan melalui perayaan Yadnya Kasada.

Yadnya Kasada bukan pula sebuah perayaan biasa. Digelar di setiap purnama penuh di hari ke-14 atau ke-15 bulan Kasada (bulan kesepuluh penanggalan Jawa), Yadnya Kasada sejatinya adalah perayaan agar orang suku Tengger mengingat betapa mereka tidaklah boleh melupakan dan melepaskan ikatan sejarahnya dengan Bromo.

Maka, di setiap momentum itu diperingati, Dukun Pandhita yang memimpin rangkaian upacara Kasada, akan selalu menembangkan kisah sejarah tentang leluhur yang mewariskan mereka nama Tengger. Diiringi aroma wangi dupa, cerita itu ditembangkan di kompleks Pura Poten Luhur, lalu dilanjutkan dengan menaikkan puja dan puji bagi Dewata.

“Setelah rangkaian prosesi itu selesai, barulah Ongkek yang dibawa masing-masing desa diangkat ke kawah Bromo untuk dilemparkan ke dalamnya sebagai persembahan tanda ucapan syukur,” ujar Karna, pemangku Dukun Pandita dari desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo di sela-sela rangkaian prosesi tersebut, Kamis (21/7/2016) dini hari.

Ongkek yang dimaksud oleh Karna adalah persembahan yang terdiri dari hasil bumi dari desa. Hasil bumi seperti jagung, tomat, dan aneka sayuran lainnya itu dijalin sedemikian rupa pada batang pikulan. Sementara persembahan berupa hewan ternak seperti ayam dan kambing, setelah ritual di Pura Poten Luhur usai, akan dibawa secara terpisah ke bibir kawah Bromo. Saat sudah dilemparkan ke dalam kawah nantinya, ongkek dan ternak itu telah sah disebut Yadnya, kurban suci.

Tidak semua desa boleh memberikan Yadnya. Dalam tradisi orang-orang Tengger, Yadnya hanya boleh diberikan oleh desa yang selama kurun waktu mulai tanggal 1 hingga tanggal 14 bulan Kasada, tidak tertimpa “halangan”.

“Maksudnya halangan di sini adalah, kalau ada satu saja warga desa yang meninggal dunia antara tanggal itu, maka desa tidak boleh mempersembahkan Yadnya. Sebaliknya, kalau antara tanggal itu desa diluputkan dari halangan, maka boleh mempersembahkan Yadnya Kasada,” lanjut pria berusia 30-an tahun itu.

Anugerah Dari Bromo

Perayaan Yadnya Kasada 2016 berlangsung di tengah erupsi dan musim hujan. Gunung setinggi 2.329 meter itu pun oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah ditetapkan berada dalam status Waspada.

Namun orang-orang Tengger tidak takut. Mereka percaya bahwa Bromo tidak akan “menyakiti” mereka.

“Kami tidak takut,” ucapnya.

“Erupsi Bromo justru merupakan anugerah bagi kami. Dengan adanya erupsi itu, hasil bumi kami justru meningkat berkali-kali lipat. Inilah anugerah dari Bromo,” pungkas Karna.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s