Fira Fitria, Gadis Dengan Cerebral Palsy Mendobrak Diskriminasi Lewat Jurnalisme

Salah satu tantangan yang kerap dihadapi kelompok disabilitas adalah diskriminasi dan stigmatisasi. Di lingkungan, mereka disepelekan oleh masyarakat, tidak diterima, dan hanya dijadikan obyek.

Pengalaman itu pula yang dirasakan Fira Fitria (32), gadis dengan cerebral palsy asal Tuban, Jawa Timur.

Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah kondisi hambatan motorik yang berdampak kekakuan di seluruh atau sebagian tubuh. Fira Fitria sendiri, mengalami cerebral palsy tipe spastik yang menyebabkan kaki kiri dan tangan kirinya mengalami kekakuan.

“Saya lahir prematur saat usia kandungan 6 bulan dengan bobot 1,2 kilogram,” kata Fira yang sehari-hari dibantu kursi roda untuk mobilisasi.

“Setelah lahir, diinkubasi selama 3 bulan,” sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, Fira disepelekan sejak kecil. Saat hendak masuk SD, sekolah-sekolah menolaknya. Hanya 1 sekolah saja yang belakangan mau menerimanya, namun dengan syarat.

“Syaratnya, kalau dalam 3 bulan tidak bisa mengikuti pelajaran, saya akan di-DO,” kenang Fira.

Tak disangka, di kelas dan tahun pertama itu, dia justru mendapat peringkat ke-5. Sejak itulah sekolah percaya pada kemampuannya.

Read More »

Advertisements

Warnoto dan Hanifah : Cinta Bersemi Karena Kusta

Warnoto (51) baru pulang dari merawat tanaman jagung yang dia tanam di lahan Liponsos Babat Jerawat, Surabaya, saat reporter Surya tandang ke rumahnya, Minggu (19/5/2019) siang.

Di rumah sederhana berdinding hijau di kawasan kampung Bukit Jerawat Asri itu, dia sudah ditunggu pula oleh istri dan putri bungsunya.

“Selain merawat jagung, saya sehari-hari juga ngojek,” kata Warnoto.

Warnoto dan istrinya, Hanifah, sudah 9 tahun menempati rumah berukuran 12×7 meter tersebut. Lahan untuk mendirikan rumah ini dibeli Warnoto pada 2005 seharga Rp14,5 juta.

Selanjutnya, Rumah itu setahap demi setahap mereka bangun dari penghasilan yang mereka dapat sehari-hari. Hanifah menyebut, pembangunan rumah itu sampai sekarang masih belum rampung.

“Dulu mulai menempati rumah ini tahun 2010, tapi dibangunnya mulai 2005. Pokoknya begitu sudah ada tutupnya, rumah ini langsung kami tempati,” timpal Hanifah.

Warnoto dan Hanifah adalah secuil kisah kecil dari romansa kehidupan orang-orang yang terpapar kusta. Boleh dibilang, kustalah yang membuat mereka bertemu, jatuh cinta, menikah, lalu kini punya 5 anak.

Read More »