Warnoto dan Hanifah : Cinta Bersemi Karena Kusta


Warnoto (51) baru pulang dari merawat tanaman jagung yang dia tanam di lahan Liponsos Babat Jerawat, Surabaya, saat reporter Surya tandang ke rumahnya, Minggu (19/5/2019) siang.

Di rumah sederhana berdinding hijau di kawasan kampung Bukit Jerawat Asri itu, dia sudah ditunggu pula oleh istri dan putri bungsunya.

“Selain merawat jagung, saya sehari-hari juga ngojek,” kata Warnoto.

Warnoto dan istrinya, Hanifah, sudah 9 tahun menempati rumah berukuran 12×7 meter tersebut. Lahan untuk mendirikan rumah ini dibeli Warnoto pada 2005 seharga Rp14,5 juta.

Selanjutnya, Rumah itu setahap demi setahap mereka bangun dari penghasilan yang mereka dapat sehari-hari. Hanifah menyebut, pembangunan rumah itu sampai sekarang masih belum rampung.

“Dulu mulai menempati rumah ini tahun 2010, tapi dibangunnya mulai 2005. Pokoknya begitu sudah ada tutupnya, rumah ini langsung kami tempati,” timpal Hanifah.

Warnoto dan Hanifah adalah secuil kisah kecil dari romansa kehidupan orang-orang yang terpapar kusta. Boleh dibilang, kustalah yang membuat mereka bertemu, jatuh cinta, menikah, lalu kini punya 5 anak.

Melompat jauh ke belakang, Warnoto adalah pria asli Pemalang, Jawa Tengah. Dia ‘terdampar’ ke Surabaya karena kusta.

Alkisah, pada 1987 setelah lulus SMP, Warnoto merantau ke Jakarta. Dia terpaksa tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya.

Di Jakarta, dia bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Di perusahaan itu dia bertugas menjahit. Kemampuan menjahit dia peroleh dari belajar secara otodidak di kampungnya.

“Di kampung saya banyak penjahit,” kata Warnoto.

Di perusahaan konveksi itu Warnoto hanya sebentar bekerja. Bosnya memilih memecat dia tanpa pesangon setelah tahu bahwa Warnoto memiliki kusta. Bila pemecatan itu diterapkan saat ini, jelas ini melanggar pasal 153 ayat 1 UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003.

Perihal kusta tersebut, Warnoto memang menyimpannya rapat-rapat. Dia sudah tahu sejak kelas 2 SMP bahwa ada kusta di tubuhnya.

“Saya tahu kena kusta waktu pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Di situ ditunjukkan ciri-ciri kusta. Saya langsung keringat dingin karena ciri-ciri yang disebutkan mirip dengan yang ada di tubuh saya,” kenangnya.

Dari perusahaan konveksi pertama, Warnoto pindah ke perusahaan konveksi lainnya. Namun, Lagi-lagi dia dikeluarkan karena kusta.

“Pokoknya 3 kali kerja di konveksi tapi dipecat karena kusta,” imbuhnya.

Setelah dipecat, Warnoto masih memilih bertahan di Jakarta. Dia menyambung hidup dengan membantu kerabatnya berjualan sayur. Namun ini hanya bertahan 6 bulan karena telapak kakinya terluka parah karena terlalu sering kena panas mesin mobil pikap.

Dia mengaku, kusta yang sudah menjalar di kakinya membuat telapak kakinya itu mati rasa dan tak tahu bahwa panas mesin mobil sudah melukainya cukup parah.

Dari kejadian itulah Warnoto berobat ke RS Sitanala di Tangerang, Banten. Selama 3 bulan dia dirawat di sana bersama sekitar 500 pasien lain yang menempati barak khusus kusta.

Setelah dinyatakan boleh meninggalkan RS, Warnoto kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah bengkel las milik sepupunya. Namun itu hanya berlangsung 1 tahun karena merasa tak cocok.

Sepertinya Jakarta memang tak cukup baik untuk Warnoto. Dia pun memilih pergi ke Jawa Timur, ke tanah Kediri. Di sana dia datang ke RS khusus kusta untuk meminta obat.

Dari situlah dia mengetahui keberadaan Liponsos Babat Jerawat di Surabaya yang dihuni oleh banyak orang-orang yang sudah sembuh dari kusta.

“Saya lalu ke Surabaya, melapor ke Dinsos, dan akhirnya tinggal di Liponsos,” ujarnya.

Nah, di Liponsos inilah dia bertemu dengan Hanifah, perempuan asal Bangkalan Madura yang juga pernah menjalani pengobatan kusta.

Perempuan yang tak tahu persis tahun kelahirannya ini mengatakan, dia diketahui memiliki kusta ketika sudah beranjak remaja.

“Waktu itu ada flek-flek putih di tangan dan seperti mati rasa. Setelah diperiksakan ternyata kusta,” kata Hanifah.

Oleh keluarganya, Hanifah lalu dibawa ke rumah sakit. Seperti halnya Warnoto, dia pun tahu keberadaan Liponsos Babat Jerawat dari para pengidap kusta lainnya.

“Jadi kami ketemunya di Liponsos dan menikah di sana juga. Sekarang sudah punya anak 5. Yang nomer 1 sudah kerja, yang nomer 2 kuliah sambil kerja,” pungkasnya.

Stigma dan Diskriminasi

Kisah pemutusan kerja yang dialami Warnoto karena kusta adalah sebagian kecil dari praktik pemberian stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terpapar kusta di Indonesia.

dr Udeng Daman, Technical Advisor  NLR (until No Leprosy Remains) Indonesia, mengatakan bahwa stigma negatif terhadap pengidap kusta sudah berlangsung sejak lama.

Bahkan katanya, kisah-kisah dari berbagai agama, menceritakan ada penderita kusta yang dikucilkan. Ironisnya, praktik diskriminasi semacam itu masih berlangsung hingga kini.

“Ibaratnya, pengidap kusta itu sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah sakit, tapi masih didiskriminasi. Sudah fisiknya difabel, tapi sama masyarakat, hak-hak sosialnya juga dibuat difabel,” katanya.

Dia menjelaskan, di Indonesia diperkirakan ada 15.000 pengidap kusta. Dari angka itu, sekitar 3 ribu orang ada di Jawa Timur. Di antaranya Sumenep, Pamekasan, Sampang, serta sejumlah daerah di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa dan kawasan Tapal Kuda.

“Di Jawa Timur memang sudah ada eliminasi. Tapi kita nggak boleh puas. Targetnya adalah zero kusta,” lanjutnya.

Udeng mengakui, stigma dan pandangan yang salah di masyarakat terhadap kusta menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai target tersebut.

“Karena takut kena stigma, penderita kusta malu, tidak berani berobat, lalu sembunyi. Begitu sudah cacat, baru muncul. Inilah yang menyulitkan proses eliminasi itu,” keluhnya.

Udeng menjelaskan, kusta bukanlah penyakit karena dosa atau kutukan. Selain itu dia juga menegaskan bahwa kusta bisa diobati. Dan bagi mereka yang sudah diobati, tidak akan menularkan penyakit itu ke orang lain.

“Jadi jangan takut bersalaman atau bersentuhan dengan orang yang sudah diobati kustanya. Lagipula, kusta tidak menular semudah itu. Berdasarkan data, 100 orang yang berpotensi tertular, 95 persen dinyatakan kebal, lalu sisanya sakit. Dari yang 5 orang yang tertular itu, tiga di antaranya juga dinyatakan sembuh,” pungkasnya.

Artikel ini sebelumnya telah tayang dengan judul yagn sama di surya.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s