Fira Fitria, Gadis Dengan Cerebral Palsy Mendobrak Diskriminasi Lewat Jurnalisme


Salah satu tantangan yang kerap dihadapi kelompok disabilitas adalah diskriminasi dan stigmatisasi. Di lingkungan, mereka disepelekan oleh masyarakat, tidak diterima, dan hanya dijadikan obyek.

Pengalaman itu pula yang dirasakan Fira Fitria (32), gadis dengan cerebral palsy asal Tuban, Jawa Timur.

Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah kondisi hambatan motorik yang berdampak kekakuan di seluruh atau sebagian tubuh. Fira Fitria sendiri, mengalami cerebral palsy tipe spastik yang menyebabkan kaki kiri dan tangan kirinya mengalami kekakuan.

“Saya lahir prematur saat usia kandungan 6 bulan dengan bobot 1,2 kilogram,” kata Fira yang sehari-hari dibantu kursi roda untuk mobilisasi.

“Setelah lahir, diinkubasi selama 3 bulan,” sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, Fira disepelekan sejak kecil. Saat hendak masuk SD, sekolah-sekolah menolaknya. Hanya 1 sekolah saja yang belakangan mau menerimanya, namun dengan syarat.

“Syaratnya, kalau dalam 3 bulan tidak bisa mengikuti pelajaran, saya akan di-DO,” kenang Fira.

Tak disangka, di kelas dan tahun pertama itu, dia justru mendapat peringkat ke-5. Sejak itulah sekolah percaya pada kemampuannya.

Jurnalisme

Dalam perkembangan selanjutnya, September 2017, Fira dipercaya menjadi kontributor berita untuk sebuah media berbasis digital yang banyak mengangkat isu-isu disabilitas.

Dalam sepekan, rata-rata tiga artikel hasil reportase dikirim dan ditayangkan.

Bagi Fira, menjadi jurnalis adalah salah satu cara yang bisa dia tempuh untuk menyuarakan suara-suara komunitas difabel yang selama ini terbungkam.

Bungsu dari 2 bersaudara ini mengatakan, dalam menjalankan aktivitas jurnalistik, dia masih kerap disepelekan oleh narasumber.

“Ada narasumber yang tidak percaya sampai akhirnya saya tunjukkan kartu pers,” kata dia.

Dalam membuat berita, dengan kondisi fisiknya, Fira hanya bisa mengetik menggunakan tiga jari kanannya.

“Ngetiknya cuma bisa pake 3 jari, pakai notebook. Kalau ambil foto, pakai HP. Perangkat-perangkat itu lebih accessible buat saya,” tuturnya.

Namun jurnalisme saja rupanya tak cukup buat gadis berjilbab ini. Saat ini dia sedang menanti pengumuman beasiswa S2 dari sebuah organisasi di Malaysia. Dia berencana mengambil studi magister kebijakan publik di Universitas Airlangga, Surabaya.

“Dengan itu mungkin saya bisa melangkah lebih jauh dan membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada difabel. Semoga saja beasiswabya lolos. Prinsip saya, siapapun itu, walaupun difabel harus menjadi difabel berkualitas,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s