Bakkara, Periuk Hijau di Tepian Toba


“Dalam diam, di kali pertama mendatanginya, saya langsung jatuh cinta pada Bakkara,”

Mardinding Dolok atau berdinding perbukitan adalah gambaran singkat tentang lembah Bakkara di kecamatan Bakti raja, Kabupaten Humbang Hasudutan, Sumatra Utara.

Lembah Bakkara adalah ‘miniatur Taman Eden’ yang jatuh ke bumi Sumatra Utara. Harus digambarkan demikian karena dalam kitab Genesis (Kejadian), Taman Eden digambarkan sebagai sebuah tempat yang ditumbuhi berbagai pohon dan dialiri dengan sungai yang cemerlang. Semuanya itu ada di Bakkara!

Merujuk ke aplikasi peta Google, Lembah Bakkara dapat ditempuh dalam waktu sekitar 6 hingga 7 jam dari kota Medan. Apabila ditempuh lewat Jalan Lintas Tengah Sumatera, jaraknya sekitar 290 km. Namun bila ditempuh lewat jalan lintas Barat Sumatera, jaraknya sekitar 232 km.

peta medan-bakkara

Begitu memasuki kecamatan Bakti Raja, perbukitan adalah pemandangan awal yang menyambut siapapun yang datang ke sana. Di kejauhan, dapat dilihat pula horizon Danau Toba, sebuah warisan dari erupsi super vulkanik Gunung Toba yang terjadi puluhan ribu tahun silam.

Di Bakkara, pertanian masih menjadi salah satu usaha yang digeluti masyarakat setempat. Padi dan bawang merah adalah beberapa komoditasnya.

Bakkara
Pemandangan Bakkara dilihat dari ketinggian.

Pertanian bisa tumbuh subur di Bakkara karena kawasan ini diberkahi dengan air yang melimpah. Selain sungai Aek Siang yang mengalir deras, mereka juga bisa diberkahi air segar yang meluncur dari mata air Aek Sitio-tio.

Selain itu, masih ada pula Aek Sipangolu, sebuah air terjun kecil yang dimanfaatkan menjadi tempat pemandian.  Aek Sipangolu berarti air yang menghidupkan atau air kehidupan. Sesuai namanya, melimpahnya air di Bakkara telah memberikan kehidupan bagi manusia-manusia yang tinggal di sana.

Selain semua itu, tak jauh dari pusat desa, tepatnya di arah utara, juga terdapat air terjun Janji. Di sini, telah disiapkan pemandian khusus lelaki dan perempuan. Kalau lapar, tinggal pesan makanan di kedai-kedai yang tersedia. Bila beruntung, suara-suara merdu para pemuda yang sedang Marende atau bernyanyi dengan gitar sembari menikmati tuak, bisa didengar pula di sini.

Air terjun Janji
Air terjun Janji yang terletak di utara Bakkara

Selain pertanian, sebagian warga juga meraup berkah Danau Toba dengan mengusahakan tambak kecil-kecilan. Tambak itu mereka bangun tepat di belakang rumah. Ya, persis di belakang rumah mereka, berbatasan dengan dapur, itu sudah Danau Toba. Buat saya yang lama tinggal di Surabaya, ini istimewa!

Ada yang menarik di Bakkara. Sepanjang yang saya lihat dalam kunjungan singkat ke sana, saya tak melihat ada hotel untuk wisatawan. Tampaknya, warga setempat tak berminat untuk mengubah tempat ini menjadi sebuah kawasan wisata. Warga setempat tampaknya sudah cukup dengan anugerah yang mereka terima di sana sehingga tak tertarik untuk berbisnis pariwisata.

Layaknya periuk, di Bakkara sudah tersedia cukup makanan untuk mereka yang tinggal.  Air dan makanan yang melimpah, bagi mereka sudah cukup. Bila ingin menempuh studi lebih tinggi, cukuplah merantau keluar. Lelah merantau, Bakkara selalu siap untuk menyambut dan memeluk mereka lagi.

Bagi saya ini hal yang baik. Pasalnya, siapa bisa menjamin lokasi ini bakal tetap lestari seperti sekarang andai bisnis pariwisata mendominasi? Siapa pula bisa menjamin warga-warga asli tidak tersingkir oleh kehadiran investor-investor dari luar?

Istana Sisingamangaraja

Komplek Istana Sisingamangaraja di Bakkara
Sejumlah bangunan di komplek istana Sisingamangaraja di Bakkara.

Bakkara juga disebut sebagai pusat kerajaan kerajaan Batak. Di tempat ini, sang Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Sisingamangaraja XII lahir.

Jejak-jejak Bakkara sebagai pusat kerajaan Batak itu bisa dilihat dari keberadaan istana Raja Sisingamangaraja yang dipimpin Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII antara tahun 1530 hingga 1907.

Istana raja Sisingamangaraja ini pernah dibakar 2 kali. Pertama oleh Tuanku Rao atau Bonjol pada tahun 1825. Meski sempat dibangun kembali,  pada 1878, istana ini lagi-lagi dibakar  habis. Kali ini oleh pasukan Belanda.

Hingga akhirnya, persis seabad kemudian, pada 1978 istana ini dipugar oleh Pemerintah RI bersama masyarakat dan tetap bertahan hingga saat ini.

Istana Raja Sisingamangaraja merupakan sebuah komplek yang di atasnya berdiri sejumlah bangunan. Di antaranya Bale Pasogit yang menjadi tempat semedi Raja, Ruma Bolon yang menjadi tempat menerima tamu kerajaan, dan beberapa bangunan lainnya.

*Banyak yang belum bisa saya gali dan ceritakan tentang Bakkara mengingat kunjungan yang hanya singkat saja. Salah satunya tentang Proyek PLTA yang sedang berlangsung di sana. Semoga masih ada kesempatan untuk kembali ke periuk itu. Yang jelas, saya jatuh cinta pada Bakkara.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s