Fira Fitria, Gadis Dengan Cerebral Palsy Mendobrak Diskriminasi Lewat Jurnalisme

Salah satu tantangan yang kerap dihadapi kelompok disabilitas adalah diskriminasi dan stigmatisasi. Di lingkungan, mereka disepelekan oleh masyarakat, tidak diterima, dan hanya dijadikan obyek.

Pengalaman itu pula yang dirasakan Fira Fitria (32), gadis dengan cerebral palsy asal Tuban, Jawa Timur.

Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah kondisi hambatan motorik yang berdampak kekakuan di seluruh atau sebagian tubuh. Fira Fitria sendiri, mengalami cerebral palsy tipe spastik yang menyebabkan kaki kiri dan tangan kirinya mengalami kekakuan.

“Saya lahir prematur saat usia kandungan 6 bulan dengan bobot 1,2 kilogram,” kata Fira yang sehari-hari dibantu kursi roda untuk mobilisasi.

“Setelah lahir, diinkubasi selama 3 bulan,” sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, Fira disepelekan sejak kecil. Saat hendak masuk SD, sekolah-sekolah menolaknya. Hanya 1 sekolah saja yang belakangan mau menerimanya, namun dengan syarat.

“Syaratnya, kalau dalam 3 bulan tidak bisa mengikuti pelajaran, saya akan di-DO,” kenang Fira.

Tak disangka, di kelas dan tahun pertama itu, dia justru mendapat peringkat ke-5. Sejak itulah sekolah percaya pada kemampuannya.

Read More »

Advertisements

Ajak Dosenmu Ngopi

Saya sering iri melihat kawan-kawan membagikan foto-foto perjalanan mereka. Mendadak, dunia saya menjadi sempit, seukuran bola tenis.

Sudah menjadi kebiasaan. Setiap pagi, kepala langsung diajak berpikir untuk membuat berita apa hari ini. Berkejar-kejaran dengan waktu agar tidak terlambat tiba di kampus. Malam harinya, kembali terkungkung dalam kamar kos ukuran 2,5 x 2,5 meter.  Teratur.Read More »

AABC 2015 Part IV : One Plate, Five Nations

Ilin, blogger asal Thailand mengatakan bahwa temperatur di Bangkok hari itu terbilang hangat. Setidaknya, tidak sepanas pekan sebelumnya yang mencapai 40 derajat celsius. Saya pun  melongo mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak? Saat saya sudah merasa begitu kepanasan, dia masih mengatakan bahwa temperatur saat itu masih cukup hangat. Wow!

Tetapi itulah Bangkok. Panasnya tidak jauh berbeda dari tahun lalu saat saya nge-trip ke sana untuk pertama kalinya. Sungguh bikin kepala senat senut.

Ilin berkata demikian saat kami baru saja keluar dari hotel dengan tergesa-gesa. Memang harus tergesa-gesa, karena hari itu kami harus beradu cepat dengan kelompok blogger lainnya dalam ajang Photo Hunt Competition.

Setelah di hari pertama diberi waktu bebas, sekitar 70 blogger dari berbagai negara yang ikut serta dalam AABC 2015, diajak untuk berkompetisi. Kami, dua belas blogger dan vlogger dari Indonesia, tidak lagi disatukan dalam satu kelompok. Kami dipecah, lalu masing-masing dijadikan satu kelompok dengan sejumlah blogger dari negara-negara lain. Sebelumnya, kami tidak saling kenal satu sama lain.

Bersama Ilin, saya tergabung dalam kelompok 10. Selain kami berdua, di kelompok ini ada Caroline dari Malaysia, Kana dari Jepang, dan Ying Chen Yang dari China.

Group 10
AABC2015G10

Read More »

AirAsia Blogger Community (AABC) 2015 Part III : Pesan Makan? Jangan Panggil Mas-Mas dan Mbak-Mbak di Thailand

Hai, seperti janji sebelumnya, saya akan melanjutkan cerita seputar AirAsia Blogger Community 2015 di Bangkok. Di bagian ini, saya akan bercerita tentang hari pertama keseruan kami. Yuuk.

+++

Hari pertama di Bangkok. Setelah meletakkan barang-barang di dalam kamar yang ada di lantai 21 Eastin Grand Hotel dan berganti celana pendek, saya buru-buru pergi meninggalkan hotel untuk membeli sim card. Bagi saya, penting sekali untuk mencari sim card sesegera mungkin karena komunikasi dengan rekan-rekan kerja di tanah air tetap tidak boleh putus. Sejumlah tugas pekerjaan menuntut saya untuk tetap berkomunikasi dengan mereka.

Di Thailand, sim card bisa diperoleh di swalayan-swalayan terdekat, dengan jenis dan harga yang beragam. Swalayan-swalayan macam 7Eleven (Seven Eleven) menyediakan berbagai merek tergantung kebutuhan. Mulai dari sim card biasa, micro sim card, sampai nano sim card.

Dari Indonesia, sebenarnya saya sudah membawa sim card Thailand yang sudah saya peroleh sebelumnya. Tetapi saat hendak mengisi pulsa dan melakukan aktivasi paket data, petugas di Sevel kehabisan saldo. Terpaksa, saya membeli sim card perdana dengan harga 49 baht. Kalau dikurskan, ini hampir setara Rp 25 ribu di Indonesia. Wajib diketahui, untuk membeli sim card Thailand, warga negara asing harus menunjukkan paspor. Untungnya selama di Bangkok, paspor tidak pernah saya tinggal di kamar hotel. Selalu saya bawa ke mana-mana.Read More »

AirAsia Blogger Community (AABC) 2015 Part II – Untuk Pertama Kali Seumur Hidup, Mules di Pesawat

Setengah jam lagi, pesawat kami menuju Don Mueang, Bangkok, lepas landas. Pengeras suara di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sudah beberapa kali memanggil para penumpang agar segera memasuki pesawat. Di saat bersamaan, kami berdua belas—blogger dan vlogger peserta AirAsia Blogger Community 2015 (AABC 2015) plus Nia—masih asyik menikmati menu pilihan masing-masing di kedai Starbuck. “Tenang, tunggu sebentar nanti dari AirAsia akan ada yang membantu kita memasuki imigrasi biar nggak pakai antre,” kata Nia.

Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia :)
Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia 🙂

Tidak lama setelah foto bareng, kami beranjak dari kursi masing-masing menuju pesawat. Benar yang dikatakan Nia, kami tidak perlu antre saat melintasi pintu imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Kok bisa begitu ya? Jadi, untuk keberangkatan para peserta dari Indonesia, AirAsia Indonesia memang memberikan layanan Red Carpet. Nah, layanan Karpet Merah inilah yang memungkinkan kami dapat pelayanan ekstra selama proses keberangkatan. Pokoknya, bener-bener bisa membuat kami berjalan layaknya penumpang VVIP. Dari awal sampai akhir, layanannya totally personal! Dimulai dari proses Check-in misalnya, sudah disiapkan konter khusus. Di konter ini, nggak perlu antre terlalu lama. Begitu juga saat akan melalui prosedur imigrasi, staf AirAsia sendiri yang akan mengurus sampai tuntas. Di situ kami cukup menyerahkan paspor kami ke Nia. Sambil menunggu proses di imigrasi ini, kami cukup menunggu sambil nyeruput kopi. Tenang saja, paspornya bakalan dikembalikan kok. Aman! Read More »

AirAsia Blogger Community 2015 (#AABC2015) Part I : Tuhan Mendengar Doa Para Blogger

Siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Makanya, saat Nia Novelia dari AirAsia Indonesia menghubungi saya, Kamis, 21 Mei 2015, untuk gabung dalam AirAsia Blogger Community (AABC 2015) yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, aku nggak berani menolak. Begitu sambungan telepon berakhir, malam itu juga aku mulai urus cuti ke kantor. Puji Tuhan, permohonan cuti lolos. Tuhan memang mendengar doa para blogger yang butuh liburan.

AABC 2015 adalah agenda tahunan AirAsia yang digelar dari satu negara ke negara lain. Kalau tahun 2014 kemarin Malaysia jadi tuan rumah, tahun ini giliran Thailand. Di ajang itu, ratusan blogger dari berbagai negara tumplek blek jadi satu. Di antaranya dari Malaysia, Jepang, Taiwan, Korea, Myanmar, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja blogger tuan rumah juga ikut gabung.

Indonesia sendiri kebagian jatah mengirimkan 12 blogger. Tiga di antaranya adalah pemenang kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia tahun 2014 kemarin. Waktu lihat blog-blog peserta lain dari Indonesia, aku yang beruntung pernah jadi juara ketiga kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia jadi agak minder. Maklum, blog-blog mereka memang wow! Beda banget sama blog ini, kudet alias kurang updet.

Tapi balik lagi pertanyaannya, siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Apalagi tiket pesawat, hotel, dan akomodasi lain ditanggung AirAsia sepenuhnya. Belum lagi layanannya pake Red Carpet dan Tune Insure pula. Wah, kebangetan kalau nolak. Jadi begitu izin cuti turun, langsung deh kirim-kirim dokumen yang diminta Nia, di antaranya paspor dan KTP.

+++

Read More »