AirAsia Blogger Community 2015 (#AABC2015) Part I : Tuhan Mendengar Doa Para Blogger

Siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Makanya, saat Nia Novelia dari AirAsia Indonesia menghubungi saya, Kamis, 21 Mei 2015, untuk gabung dalam AirAsia Blogger Community (AABC 2015) yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, aku nggak berani menolak. Begitu sambungan telepon berakhir, malam itu juga aku mulai urus cuti ke kantor. Puji Tuhan, permohonan cuti lolos. Tuhan memang mendengar doa para blogger yang butuh liburan.

AABC 2015 adalah agenda tahunan AirAsia yang digelar dari satu negara ke negara lain. Kalau tahun 2014 kemarin Malaysia jadi tuan rumah, tahun ini giliran Thailand. Di ajang itu, ratusan blogger dari berbagai negara tumplek blek jadi satu. Di antaranya dari Malaysia, Jepang, Taiwan, Korea, Myanmar, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja blogger tuan rumah juga ikut gabung.

Indonesia sendiri kebagian jatah mengirimkan 12 blogger. Tiga di antaranya adalah pemenang kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia tahun 2014 kemarin. Waktu lihat blog-blog peserta lain dari Indonesia, aku yang beruntung pernah jadi juara ketiga kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia jadi agak minder. Maklum, blog-blog mereka memang wow! Beda banget sama blog ini, kudet alias kurang updet.

Tapi balik lagi pertanyaannya, siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Apalagi tiket pesawat, hotel, dan akomodasi lain ditanggung AirAsia sepenuhnya. Belum lagi layanannya pake Red Carpet dan Tune Insure pula. Wah, kebangetan kalau nolak. Jadi begitu izin cuti turun, langsung deh kirim-kirim dokumen yang diminta Nia, di antaranya paspor dan KTP.

+++

Read More »

Advertisements

Dari Desa, Mereka Menantang Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi momok bagi para perempuan masa kini. Di Indonesia, setiap satu jam, satu perempuan meninggal dunia karena penyakit ini.

Sayangnya, penyakit ini tidak membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin. Human Papilloma Virus (HPV) dalang dibalik penyakit tersebut, bisa menjangkiti perempuan berusia subur dimanapun.

Bagi perempuan miskin yang terlanjur mengidap Kanker Serviks stadium lanjut, biaya yang harus ditanggung untuk pengobatan tidaklah sedikit. Apalagi belum semua obat dan peralatan kesehatan yang dibutuhkan pasien kanker, terdaftar dalam formularium nasional alias ditanggung BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

Maka upaya yang bisa dilakukan setiap perempuan saat ini adalah melakukan deteksi dini. Sebab layanan ini yang dinyatakan sudah dijamin dalam program Jaminan Kesehatan Nasional oleh BPJS Kesehatan. Artinya, bagi mereka yang telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, bisa melakukan deteksi dini secara gratis. Dengan demikian, sejak awal mereka tahu serta bisa mewaspadai kedatangan HPV sebelum tumbuh menjadi kanker serviks.

Deteksi dini yang dimaksud adalah pemeriksaan IVA atau Inspeksi Visual dengan Asam Asetat dan Papsmear. Dari kedua metode tersebut pemeriksaan IVA adalah yang paling murah dan paling cepat. Tentu saja perbandingan ini hanya berlaku untuk mereka yang belum masuk dalam kepesertaan BPJS Kesehatan. Bagi mereka yang telah terdaftar, keduanya gratis.

Namun bukan hal mudah mendorong para perempuan, khususnya perempuan-perempuan di pedesaan, untuk melakukan deteksi dini. Minimnya informasi, sosialisasi, serta edukasi, menjadi penyebabnya. Kalaupun ada upaya-upaya untuk melakukan penyebaran informasi, sosialisasi, serta edukasi tersebut, harus dibuat strategi yang efektif.

Upaya-upaya mendorong para perempuan desa untuk melakukan deteksi dini kanker serviks, bisa dilakukan setidaknya dengan mencontoh yang telah dikerjakan di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Desa ini terletak sekitar 140 km dari kota Yogyakarta atau sekitar 200 km dari ibukota provinsi Jawa Timur, Surabaya.

Di sini, dorongan terhadap para perempuan agar melakukan deteksi dini kanker serviks, diinisiasi oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Ngawi yang berkolaborasi dengan program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan).

sosialisasi bahaya kanker serviks

Read More »

14 Tahun Imlek (Barongsai Sudah Masuk Ponpes)

Sejak era kepemimpinan Gus Dur, olahraga dan kesenian Barongsai tumbuh subur dan bebas. Kini, bahkan di sejumlah pondok pesantren, kesenian asli Tionghoa ini juga dimainkan. Salah satunya adalah di Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan.

Di Ponpes yang didirikan KH Abdul Ghofur ini, barongsai sudah dimainkan sejak 2011. ”Di sini kami punya kelompok barongsai yang kami beri nama Abahir Lion and Dragon Dance,” kata Abdul Fatah, perintis barongsai di Ponpes Sunan Drajat.

Nama kelompok Barongsai di Ponpes Sunan Drajat ini diambil dari nama salah satu asrama di dalam ponpes, asrama Abahir. Di asrama tersebutlah, personil mula-mula Abahir Lion and Dragon Dance muncul di bawah bimbingan Abdul Fatah.

Ustaz 27 tahun ini melanjutkan, pertunjukan barongsai bukan sesuatu yang asing di Ponpes Sunan Drajat. Atraksi ini sering dimainkan saat Ponpes menggelar perayaan-perayaan seperti ulang tahun Ponpes. Tentu saja pemainnya adalah pemain dari luar yang dibayar dengan tarif antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.Read More »

Mencari “Spasi” di Bali

Bertemu seseorang di sebuah pantai di kawasan selatan pulau Bali yang disebut pantai Blue Point
Bertemu seseorang di sebuah pantai di kawasan selatan pulau Bali yang disebut pantai Blue Point

Spasi : ruang kosong yang memisahkan kata dengan kata yang lain. Apa jadinya kata-kata dan kalimat ditulis tanpa spasi? Kacau! Membacanya tentu melelahkan.

Itu pula dalam hidup. Tanpa spasi, hidup jadi melelahkan! Di hidup sehari-hari, manusia butuh spasi. Ruang jeda di antara kesibukan untuk membentuk harmoni pikiran. Di Bali, “spasi” inilah yang saya cari.Read More »

Keripik Tempe, Pengentasan Kemiskinan, dan Ruwetnya Birokrasi

Keripik Tempe, Pengentasan Kemiskinan, dan Ruwetnya Birokrasi

Kebodohan dan ketidaktahuan adalah anak dari kemiskinan. Minimnya akses ekonomi, memberi dampak ikutan berupa terhambatnya akses informasi. Ketiadaan akses terhadap informasi inilah yang kemudian membuat seseorang tidak tahu apa-apa, termasuk perkembangan dunia kesehatan.

Maka untuk mengentaskan kelompok-kelompok perempuan dari ancaman-ancaman penyakit reproduksi yang selama ini tak pernah mereka bayangkan, tak bisa dilepaskan dari upaya mengangkat derajat ekonominya. Kedua upaya itu tak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus beriringan.

Di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, upaya itu sudah mulai dilaksanakan. Belasan ibu rumah tangga dari keluarga miskin, terlibat dalam produksi keripik tempe. Kegiatan itu adalah rangkaian dari program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan) yang dikerjakan Pengurus Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Ngawi.Read More »

Not Everyone Can Fly

not everyone can flyTragedi jatuhnya pesawat AirAsia Indonesia QZ-8501 rute penerbangan Surabaya-Singapura, tak hanya membuat ratusan keluarga kehilangan orang yang dicintai. Tanpa mengurangi empati terhadap keluarga para korban yang saat ini masih berduka, harus diakui bahwa musibah itu kini membuat banyak orang kehilangan peluang dan mimpinya untuk terbang kemanapun dengan harga murah.

Seperti diberitakan detikFinance, Selasa (6/1), Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, berencana mengeluarkan peraturan tarif batas bawah untuk maskapai berbiaya murah atau low cost carrier (LCC). Aturan ini dibuat agar maskapai tak mengabaikan faktor keselamatan penumpang.

Menurut saya, harga tiket yang mahal, tidak lantas menjadi jaminan bahwa sebuah pesawat sipil pasti aman selama perjalanan. Demikian juga, harga tiket yang murah tidak menjadi jaminan bahwa pesawat yang digunakan tidak aman.

Dalam dunia penerbangan sudah ada standar keselamatan penerbangan (aviation safety) yang pengawasannya berlapis. Selain dari pabrikan pesawat, pengawasan juga dilakukan oleh otoritas penerbangan atau Kemenhub, serta operator penerbangan atau maskapai itu sendiri.

Nah, kalau rencana Kemenhub mengatur tarif batas bawah benar-benar terlaksana, tak akan ada lagi tagline Now Everyone Can Fly (Kini semua orang bisa terbang) yang menjadi motto AirAsia selama ini. Yang terjadi justru sebaliknya, Not Everyone Can Fly (tidak semua orang bisa terbang).Read More »