Dukun Pandhita menaikkan puja puji sebelum persembahan dilempar ke kawah Bromo

Kasada: Merayakan Persahabatan Dengan Bromo

Bromo dan Suku Tengger tak bisa dipisahkan. Keduanya laksana ibunda dan anak. Ada hubungan kasih yang tak kasat mata, namun terasa kental

Romansa antara Bromo dengan suku Tengger telah berlangsung lama. Konon, kedekatan antara keduanya telah terjalin sejak nenek moyang suku Tengger: Roro Anteng dan Joko Seger mengadakan perjanjian dengan Dewata. Kesepakatan itulah yang terkenang sampai kini dan dimanifestasikan melalui perayaan Yadnya Kasada.

Yadnya Kasada bukan pula sebuah perayaan biasa. Digelar di setiap purnama penuh di hari ke-14 atau ke-15 bulan Kasada (bulan kesepuluh penanggalan Jawa), Yadnya Kasada sejatinya adalah perayaan agar orang suku Tengger mengingat betapa mereka tidaklah boleh melupakan dan melepaskan ikatan sejarahnya dengan Bromo.

Maka, di setiap momentum itu diperingati, Dukun Pandhita yang memimpin rangkaian upacara Kasada, akan selalu menembangkan kisah sejarah tentang leluhur yang mewariskan mereka nama Tengger. Diiringi aroma wangi dupa, cerita itu ditembangkan di kompleks Pura Poten Luhur, lalu dilanjutkan dengan menaikkan puja dan puji bagi Dewata.Read More »

Lebaran dan Kopiah Mbah Mangun

Meski tidak memperingati Idul Fitri, namun ikut berlebaran sudah menjadi tradisi bagi keluarga kami.
Maklum, keluarga dari pihak ayah maupun ibu, seluruhnya muslim.
Belum lagi, baik ayah maupun ibu, adalah pihak tertua yang selalu dikunjungi adik-adiknya bersama anak dan cucu masing-masing.

Maka wajar apabila kami ikut menyambut kedatangan mereka di rumah kami.

Bagi saya sendiri, lebaran selalu bermakna pertemuan. Kerabat, saudara, dan teman yang jauh merantau, kembali pulang ke Malang untuk beberapa hari. Di waktu-waktu itulah kami bertemu, ngobrol ngalor ngidul sambil nyeruput kopi.
Tapi lebaran kali ini ada pertemuan yang istimewa, yang tidak terjadi di lebaran-lebaran sebelumnya. Di lebaran kali ini, saya dipertemukan kembali dengan kopiah milik almarhum mbah Mangun, ayah dari ibuku.
Kopiah ini, dulu selalu dipakai mbah Mangun kemana pun beliau pergi. Termasuk di tahun 90-an, saat tanpa sepengetahuan siapapun berkunjung ke rumah kami, demi bertemu dengan cucu-cucunya.
Saat itu, Mbah Mangun masih tinggal di dusun Sumber Gesing, Desa Bumirejo, Dampit, Kabupaten Malang. Sedangkan kami tinggal di perkampungan Bareng, kota Malang. Dua daerah itu dipisahkan jarak sekitar 40 kilometer. Untuk menempuhnya, mbah Mangun menumpang colt. Jaman itu, memang belum ramai mikrolet.
Tentang penampilan mbah Mangun, aku bisa gambarkan demikian: kurus, tinggi, kepala hampir botak dengan sisa-sisa rambut yang seluruhnya putih perak, mata sipit, berkacamata tebal, berkulit kuning, gemar mengenakan jas coklat, dan selalu mengenakan sandal Lily. Kabarnya, sandal karet yang punya warna-warni mencolok itu sudah semakin sulit ditemui di masa kini.
Tentang sifatnya, mbah Mangun orang yang sabar. Setidaknya demikian dikatakan orang-orang yang mengenalnya dekat. Bahkan menurut beberapa orang di desanya, konon, kesabaran mbah Mangun diperoleh dari ngelmu. Jadi ilmu yang didalami beliau, bukan ilmu-ilmu kanuragan atau kemampuan linuwih lainnya, melainkan ilmu sabar.
Entah benar atau tidak, namun demikianlah nyatanya. Sepanjang mengenal beliau, tidak pernah kami dibentaknya. Kalaupun harus menegur, selalu dilakukan dengan tutur yang lembut (sayang, ilmu yang sama belum bisa kami praktikkan sampai sekarang).
Waktu saya kelas 5 SD, mbah Mangun meninggal dunia. Kabar duka itu saya peroleh menjelang siang, saat jam pelajaran masih berlangsung. Orangtua pun menjemput saya dari sekolah dan mengajak pergi ke Lawang, Kabupaten Malang.
Di kecamatan paling utara Kabupaten Malang itulah, selama beberapa tahun terakhir menjelang kepergiannya, mbah Mangun dan istrinya, Mbah Rah, tinggal. Di sana, setelah menjual tanah dan rumah di Dampit, keduanya menumpang tinggal di kediaman putri keduanya: Bude Tumik.
Setelah jenazah dimakamkan, malamnya saya masuk ke kamar Mbah Mangun. Di kamar yang berpenerangan bohlam itu, selama beberapa bulan sebelum meninggal, mbah Mangun terbaring sakit. Kata orang, sakit sepuh.
Di kamar itu, tatapan saya tertumbuk pada sebuah kopiah yang tergantung di dinding. Saya ambil kopiah itu, lalu memakainya. Sambil menatap ke cermin, saya berpikir: “kopiah ini terlalu besar untuk ukuran kepala saya”.
Meski tidak seukuran, namun ada keinginan untuk memiliki kopiah itu sebagai kenang-kenangan dari mbah Mangun. Keluar dari kamar, saya menemui Mbah Rah dan mohon izin untuk membawa pulang kopiah mbah Mangun. Beliau memberi izin.
Waktu berlalu. Bertahun-tahun sudah kopiah itu terlupakan. Tidak tahu entah di mana. Usaha untuk menemukannya pun sia-sia. Saya kira, kopiah Mbah Mangun sudah hilang. Mungkin tak sengaja ikut terbuang ketika kami pindah rumah.
Tetapi begitu pulang dari Surabaya beberapa hari lalu, saya melihat kopiah itu ada di lemari bapak. Dia berada setumpuk dengan kopiah bermotif milik bapak. Ternyata kopiah ini masih ada. Tidak kotor, tetapi beberapa bagian di dalamnya sudah mulai terkoyak. Wajar, mungkin dimakan usia.
Saya coba memakainya di depan cermin. Kali ini muat, pas di kepala saya. Tidak longgar seperti ketika saya masih kelas 5 SD.
Diam-diam, saya sumringah bukan main. Lebaran ini, meski bukan milik saya, tetapi saya dipertemukan lagi dengan kopiah mbah Mangun. Mendadak, saya merindukan beliau. Saya ingin belajar “ilmu sabar” darinya..
***

Dengan mengenakan kopiah mbah Mangun, saya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada rekan-rekan dan saudaraku yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

AABC 2015 Part IV : One Plate, Five Nations

Ilin, blogger asal Thailand mengatakan bahwa temperatur di Bangkok hari itu terbilang hangat. Setidaknya, tidak sepanas pekan sebelumnya yang mencapai 40 derajat celsius. Saya pun  melongo mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak? Saat saya sudah merasa begitu kepanasan, dia masih mengatakan bahwa temperatur saat itu masih cukup hangat. Wow!

Tetapi itulah Bangkok. Panasnya tidak jauh berbeda dari tahun lalu saat saya nge-trip ke sana untuk pertama kalinya. Sungguh bikin kepala senat senut.

Ilin berkata demikian saat kami baru saja keluar dari hotel dengan tergesa-gesa. Memang harus tergesa-gesa, karena hari itu kami harus beradu cepat dengan kelompok blogger lainnya dalam ajang Photo Hunt Competition.

Setelah di hari pertama diberi waktu bebas, sekitar 70 blogger dari berbagai negara yang ikut serta dalam AABC 2015, diajak untuk berkompetisi. Kami, dua belas blogger dan vlogger dari Indonesia, tidak lagi disatukan dalam satu kelompok. Kami dipecah, lalu masing-masing dijadikan satu kelompok dengan sejumlah blogger dari negara-negara lain. Sebelumnya, kami tidak saling kenal satu sama lain.

Bersama Ilin, saya tergabung dalam kelompok 10. Selain kami berdua, di kelompok ini ada Caroline dari Malaysia, Kana dari Jepang, dan Ying Chen Yang dari China.

Group 10
AABC2015G10

Read More »

AirAsia Blogger Community (AABC) 2015 Part III : Pesan Makan? Jangan Panggil Mas-Mas dan Mbak-Mbak di Thailand

Hai, seperti janji sebelumnya, saya akan melanjutkan cerita seputar AirAsia Blogger Community 2015 di Bangkok. Di bagian ini, saya akan bercerita tentang hari pertama keseruan kami. Yuuk.

+++

Hari pertama di Bangkok. Setelah meletakkan barang-barang di dalam kamar yang ada di lantai 21 Eastin Grand Hotel dan berganti celana pendek, saya buru-buru pergi meninggalkan hotel untuk membeli sim card. Bagi saya, penting sekali untuk mencari sim card sesegera mungkin karena komunikasi dengan rekan-rekan kerja di tanah air tetap tidak boleh putus. Sejumlah tugas pekerjaan menuntut saya untuk tetap berkomunikasi dengan mereka.

Di Thailand, sim card bisa diperoleh di swalayan-swalayan terdekat, dengan jenis dan harga yang beragam. Swalayan-swalayan macam 7Eleven (Seven Eleven) menyediakan berbagai merek tergantung kebutuhan. Mulai dari sim card biasa, micro sim card, sampai nano sim card.

Dari Indonesia, sebenarnya saya sudah membawa sim card Thailand yang sudah saya peroleh sebelumnya. Tetapi saat hendak mengisi pulsa dan melakukan aktivasi paket data, petugas di Sevel kehabisan saldo. Terpaksa, saya membeli sim card perdana dengan harga 49 baht. Kalau dikurskan, ini hampir setara Rp 25 ribu di Indonesia. Wajib diketahui, untuk membeli sim card Thailand, warga negara asing harus menunjukkan paspor. Untungnya selama di Bangkok, paspor tidak pernah saya tinggal di kamar hotel. Selalu saya bawa ke mana-mana.Read More »

AirAsia Blogger Community (AABC) 2015 Part II – Untuk Pertama Kali Seumur Hidup, Mules di Pesawat

Setengah jam lagi, pesawat kami menuju Don Mueang, Bangkok, lepas landas. Pengeras suara di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sudah beberapa kali memanggil para penumpang agar segera memasuki pesawat. Di saat bersamaan, kami berdua belas—blogger dan vlogger peserta AirAsia Blogger Community 2015 (AABC 2015) plus Nia—masih asyik menikmati menu pilihan masing-masing di kedai Starbuck. “Tenang, tunggu sebentar nanti dari AirAsia akan ada yang membantu kita memasuki imigrasi biar nggak pakai antre,” kata Nia.

Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia :)
Saat staf AirAsia sibuk mengurus proses imigrasi, kami asyik sarapan. Ini karena layanan Red Carpet AirAsia🙂

Tidak lama setelah foto bareng, kami beranjak dari kursi masing-masing menuju pesawat. Benar yang dikatakan Nia, kami tidak perlu antre saat melintasi pintu imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Kok bisa begitu ya? Jadi, untuk keberangkatan para peserta dari Indonesia, AirAsia Indonesia memang memberikan layanan Red Carpet. Nah, layanan Karpet Merah inilah yang memungkinkan kami dapat pelayanan ekstra selama proses keberangkatan. Pokoknya, bener-bener bisa membuat kami berjalan layaknya penumpang VVIP. Dari awal sampai akhir, layanannya totally personal! Dimulai dari proses Check-in misalnya, sudah disiapkan konter khusus. Di konter ini, nggak perlu antre terlalu lama. Begitu juga saat akan melalui prosedur imigrasi, staf AirAsia sendiri yang akan mengurus sampai tuntas. Di situ kami cukup menyerahkan paspor kami ke Nia. Sambil menunggu proses di imigrasi ini, kami cukup menunggu sambil nyeruput kopi. Tenang saja, paspornya bakalan dikembalikan kok. Aman! Read More »

AirAsia Blogger Community 2015 (#AABC2015) Part I : Tuhan Mendengar Doa Para Blogger

Siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Makanya, saat Nia Novelia dari AirAsia Indonesia menghubungi saya, Kamis, 21 Mei 2015, untuk gabung dalam AirAsia Blogger Community (AABC 2015) yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, aku nggak berani menolak. Begitu sambungan telepon berakhir, malam itu juga aku mulai urus cuti ke kantor. Puji Tuhan, permohonan cuti lolos. Tuhan memang mendengar doa para blogger yang butuh liburan.

AABC 2015 adalah agenda tahunan AirAsia yang digelar dari satu negara ke negara lain. Kalau tahun 2014 kemarin Malaysia jadi tuan rumah, tahun ini giliran Thailand. Di ajang itu, ratusan blogger dari berbagai negara tumplek blek jadi satu. Di antaranya dari Malaysia, Jepang, Taiwan, Korea, Myanmar, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja blogger tuan rumah juga ikut gabung.

Indonesia sendiri kebagian jatah mengirimkan 12 blogger. Tiga di antaranya adalah pemenang kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia tahun 2014 kemarin. Waktu lihat blog-blog peserta lain dari Indonesia, aku yang beruntung pernah jadi juara ketiga kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia jadi agak minder. Maklum, blog-blog mereka memang wow! Beda banget sama blog ini, kudet alias kurang updet.

Tapi balik lagi pertanyaannya, siapa sih yang berani menolak liburan gratis? Apalagi tiket pesawat, hotel, dan akomodasi lain ditanggung AirAsia sepenuhnya. Belum lagi layanannya pake Red Carpet dan Tune Insure pula. Wah, kebangetan kalau nolak. Jadi begitu izin cuti turun, langsung deh kirim-kirim dokumen yang diminta Nia, di antaranya paspor dan KTP.

+++

Read More »